25 January 2014

PERSONAL COMPUTER BELUM TERGANTIKAN

WINDU
Supervisor HND Computer
“Personal Computer, Tak Tergantung Model dan Harga”

Foto: Effendy Wongso
Berakhirnya era komputer pribadi atau lebih dikenal sebagai personal computer (PC), tampaknya terlalu dibesar-besarkan. Memang, ada indikasi penurunan namun hal itu terjadi hanya pada market dengan harga Rp 4 juta ke bawah.
“Kelihatannya industri PC ataupun komputer jinjing (laptop) seperti sedang limbung menghadapi kompetisi dari industri tablet dan smartphone, namun itu hanya terjadi di produk Rp 4 juta ke bawah,” ujar Supervisor HND Computer, Windu saat ditemui di kantornya, Jalan Sultan Hasanuddin, Makassar, beberapa waktu lalu.
Dijelaskan, saat ini market produk di atas Rp 4 juta tumbuh lebih bagus. Pasalnya, ada perubahan tren di dalam masyarakat. Dulu, lima-tujuh tahun yang lalu, orang pertama kali membeli PC ataupun laptop karena berdasarkan model dan berharga murah.
“Terus terang, ini yang bisa diberikan oleh Acer. Tetapi sejak dua tahun terakhir, market di atas Rp 4 juta itu tumbuh. Ini artinya, first time customer yang dulunya memakai PC, termasuk notebook dan laptop, sekarang telah berubah menjadi experience user,” terangnya.
Ditambahkan, ini menandakan bahwa custumer sudah lebih berpengalaman, dan mereka lebih banyak mempertimbangkan segi lain seperti kualitas ketimbang model dan harga murah. Itulah alasan mengapa Toshiba dan Lenovo bisa tumbuh signifikan.
“Selain merek-merek tersebut, Sony Vaio juga ada naik. Ini menandakan ada sedikit perubahan yang terjadi dalam market komputer yang dulunya hanya dikuasai oleh satu merek yang mengandalkan model dan harga (murah) saja,” ungkap Windu.
Hal tersebut juga merupakan bukti bahwa customer semakin pintar dan cerdas. Inilah alasan yang semakin menegaskan bahwa pelaku industri informasi teknologi (IT), khususnya yang bergerak di bidang komputer tidak boleh mengabaikan kualitas dan mutu produknya.
“Customer saat ini semakin kritis, jadi banyak faktor yang dapat mendongkrak suatu produk, bukan semata model dan harga murah. Faktor-faktor lain tersebut di antaranya pelayanan purnajual (after service), akses gerai atau toko online suatu produk, suasana toko, pengetahuan informasi tentang spesifikasi produk, dan sebagainya,” paparnya.
Pergeseran pasar IT dua tahun belakangan ini pula dapat dilihat dari kian berkembangnya middle-class di Indonesia. Seperti diketahui, perkembangan masyarakat kelas menengah ke atas ini merupakan ciri-ciri negara yang sedang maju.
“Ini memang iklim yang baik (bagi user IT), di mana middle-class ini terdiri dari orang-orang yang mapan dengan tingkat ekonomi yang lebih baik. Biasanya pula, tingkat pendidikan mereka lebih tinggi sehingga mereka merupakan smart-buyer atau pembeli produk IT yang mengutamakan kualitas,” imbuhnya.
Menyoal kecenderungan pergeseran teknologi PC ke arah simple mobile technology seperti tablet dan smartphone, Windu mengatakan bahwa bagaimanapun juga jenis-jenis gadget yang kelihatannya tengah disukai masyarakat ini belum dapat menggantikan teknologi PC.
“Sebenarnya, gadget seperti tablet dan smartphone hanyalah peranti tambahan, di mana saat ini orang cenderung memiliki mobilitas yang tinggi, dan ingin mendapatkan informasi secara cepat,” dalihnya.
Dikatakan, maraknya penggunaan kedua jenis gadget tersebut, selain alasan yang diuraikannya tadi seperti mudahnya mobilitas dan kecepatan akses informasi, juga hanya digunakan untuk konektivitas. Jadi hal ini bukan berarti dengan memiliki jenis gadget tersebut, orang tidak lagi membeli atau memerlukan notebook misalnya.
“Banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh tablet dan smartphone. Ada device yang tidak bisa dilakukan jika hanya menggunakan kedua jenis gadget itu. Jadi untuk working atau bekerja, teknologi PC, laptop, dan notebook belum dapat digantikan oleh smartphone ataupun tablet,” tandas Windu. (blogkatahatiku.blogspot.com)