26 January 2014

PERAN PENGAWASAN ORANG TUA TERHADAP MAINAN ANAK

ROMO HEMAJAYO THIO
Pemerhati Budaya dan Mainan Tradisional Anak
“Pentingnya Peran Pengawasan Orang Tua terhadap Mainan Anak”

Foto: Effendy Wongso
Era teknologi mutakhir melahirkan mainan anak yang serba instan. Proses yang serba cepat dan terkesan buru-buru tersebut melahirkan budaya baru bagi anak-anak zaman sekarang, yakni egosentrik. Anak-anak tak lagi senang bersosialisasi sebagai bagian dari kemajemukan dalam masyarakat. Apalagi, permainan atau mainan baru tersebut secara parsial mendukung anak-anak menjadi pribadi yang ambigu.
Hal ini dikatakan oleh pemerhati budaya dan mainan tradisional anak, Romo Hemajayo Thio, saat ditemui beberapa waktu lalu di Griya Jinaraja Sasana, Jalan Bonerate, Makassar. Pribadi ambigu yang ia maksud merupakan konotasi kerawanan sosial terhadap implikasi penerapan salah sejak dini melalui konsumsi mainan yang tak layak.
“Terus terang, saya prihatin terhadap bebasnya akses digital yang belum layak dikonsumsi oleh anak-anak, di antaranya melalui jaringan internet,” ungkapnya.
Hemajayo menjelaskan, ia tidak menafikan mainan “digital” yang merupakan konsekuensi kemajuan zaman, akan tetapi anak-anak tidak boleh serta merta mengonsumsi apa saja yang ditebarkan oleh medium-medium digital yang ada seperti internet dan lain sebagainya.
“Sebenarnya, orang tua memegang peran penting dalam pembentukan karakter anak. Biasanya dimulai dari mainan yang sederhana. Mainan tradisional bukan saja bersahaja, namun juga dapat membentuk karakter mandiri terhdap anak, karena mainan tradisional menggugah kreativitas dan olah cipta terhadap sebuah karya,” terangnya.
Ia menyontohkan, miniatur perahu, mobil, atau rumah-rumahan yang terbuat dari kayu atau bambu, merupakan mainan yang bersumber dari hasil alam, murah, dan ramah lingkungan. Kontekstual inilah yang seharusnya menjadi landasan bagi orang tua untuk tetap melestarikan mainan tradisional anak kepada anak-anak mereka.
 “Orang tua perlu mengawasi anak-anak mereka. Di era teknologi ini, pergeseran pola permainan anak mengarah ke digital, di mana permainan tradisional mulai ditinggalkan, dan mereka menuju akses internet bebas. Jika tak diawasi, saya khawatir ini akan menimbulkan problematika tersendiri,” pesannya.
Hemajayo menyampaikan, seyogianya mainan tradisional tak ditinggalkan karena secara tersirat banyak membawa pesan moral, di antaranya menggugah anak-anak terhadap cinta Tanah Air dan tetap menggunakan bahan mainan yang bersumber dari alam.
Kendati demikian, sebagai konsekuensi logis di era cyber, anak-anak memang juga tidak dapat dipasung untuk tidak menyentuh “digital”, baik mainan sebagai spektrum sosial maupun sebagai sarana hiburan.
“Untuk mencegah anak-anak terjerumus kepada hal-hal yang negatif, orang tua juga perlu membentengi anak-anak mereka dengan akhlak. Jadi di sini, orang tua wajib membimbing anak-anak mereka, dan tidak lepas tangan begitu saja lantaran kesibukan mereka. Dengan begitu, anak-anak dapat diarahkan terhadap hal-hal positif, termasuk konsumsi mainan yang baik bagi mereka,” paparnya.
Terkait tingginya tingkat konsumerialisme produsen terhadap mainan anak tanpa mengabaikan sisi edukasi, ayah dua orang anak ini mengatakan sebaiknya hal tersebut kembali berpulang kepada orang tua anak-anak itu.
“Inilah peran orang tua sebagai benteng, di mana mereka dapat melakukan filterisasi, mana mainan yang edukatif, dan mana yang tidak sama sekali. Saya akui, memang industri mainan anak di satu sisi merupakan lahan bisnis yang menggiurkan, akan tetapi di sisi lain, bisnis ini sarat dengan moralitas karena merupakan gerbong bibit-bibit muda yang suatu saat akan memimpin bangsa ini,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)