26 January 2014

PARADIGMA MAHALNYA BIAYA PENDIDIKAN

Foto: Effendy Wongso
Krisis multidimensional yang melanda Indonesia telah membuka mata masyarakat terhadap mutu sumber daya manusia (SDM) Indonesia, dan secara tidak langsung juga merujuk pada kualitas pendidikan yang menghasilkan SDM itu sendiri. Meskipun sudah merdeka lebih dari setengah abad, akan tetapi mutu pendidikan Indonesia dapat dikatakan masih sangat rendah dan memprihatinkan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Dosen Akademi Teknik Elektromedik (Atem), Makassar, sekaligus Kepala Sekolah Muhammadiyah Wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel), Kabai S.Pd. Menurutnya, jika dulu banyak guru asal Indonesia yang dikirim ke Malaysia untuk mengajar di sana, sekarang justru yang terjadi adalah sebaliknya.
“Mengapa demikian? Sungguh hal tersebut harus menjadi sebuah tugas yang sangat penting dan harus masuk ke dalam program pemerintah yang mesti didahulukan. Salah satu masalah yang pertama kali harus diselesaikan adalah biaya pendidikan yang amat mahal,” urainya.
Pria yang juga bertugas sebagai Wakil Kepala Sekolah di SMK Muhammadiyah Bontoala 2 Makassar ini menambahkan, biaya pendidikan yang selama ini harusnya ditanggung pemerintah malah porsinya lebih banyak ditanggung orang tua siswa. Masalahnya, tingginya tanggungan biaya pendidikan tersebut tidak diimbangi dengan bertambahnya pendapatan masyarakat, hal tersebut menyebabkan banyak anak usia sekolah harus merelakan dirinya berhenti sekolah dan terpaksa bekerja serabutan seperti menjadi buruh bangunan.
“Pada 2006 saja sudah sekitar 9,7 juta anak yang putus sekolah, dan pada 2007 jumlahnya bertambah 20 persen, menjadi 11,7 juta jiwa. Tidak tertutup kemungkinan apabila pada tahun ini perkiraan jumlah anak putus sekolah bisa mencapai 12 juta jiwa,” tegasnya.
Tanpa disadari masalah anak putus sekolah ini akan menciptakan sebuah efek domino, seperti makin tingginya jumlah pekerja di bawah umur, anak jalanan, dan pengangguran. Mahalnya biaya pendidikan dan kurikulum yang cenderung berubah-ubah, merupakan persoalan pendidikan yang perlu segera ditangani.
Untuk mewujudkan hal itu, selain sarana dan prasarana yang memadai, anggaran untuk sektor pendidikan perlu ditambah. Sebab kondisi perekonomian yang tidak stabil dan efek melemahnya nilai tukar rupiah telah menyebabkan biaya operasional pendidikan meningkat.
“Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan pun dan di manapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian, pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik,” pesan Kabai.
Ketertinggalan menyoal kemajuan bangsa Indonesia saat ini jika dibandingkan negara lain, salah satu penyebabnya adalah lemahnya SDM untuk mendukung perkembangan industri dan ekonomi. “Penyebab dasarnya karena pemerintah Indonesia selama ini tidak pernah menempatkan pendidikan sebagai prioritas terpenting,” ungkapnya prihatin.
Menurutnya, tidak ditempatkannya pendidikan sebagai prioritas terpenting lantaran masyarakat Indonesia, mulai dari yang awam hingga politisi dan pejabat pemerintah, hanya berorientasi mengejar materi untuk memperkaya diri sendiri dan tidak pernah berpikir panjang dan jauh ke depan.
“Oleh karena itu, penting sekali sebagai negara berkembang seperti Indonesia untuk menentukan metode yang terbaik bagi dunia pendidikannya sebagaimana telah dibuktikan hasilnya oleh negara lain seperti China, Brunei Darussalam, Jepang, India, Korea Selatan, Taiwan, ataupun Malaysia dalam dua dekade belakangan ini,” tandas Kabai. (blogkatahatiku.blogspot.com)