13 January 2014

PACAR UNTUKMU

Oleh Weni Laudy Ratana

Foto: Effendy Wongso
Mawar hanya mematung seperti arca. Duduk anteng dengan tatapan lurus ke depan. Tak menoleh barang sekejap pun ke arah cowok yang tengah nyetir di sebelahnya. Disumpah-sumpahinya Nindy karena melarikan diri dari tanggung-jawab. Biar jadi kodok pada kehidupan berikutnya!
Bayangkan. Masa dia bilang mau beli shampo di Bekasi, dan mendadak tidak dapat menemani mereka minum-minum di Frontrow Cafe. Dan kurang ajarnya lagi, dia langsung terbang seperti kuntilanak tanpa pamit terlebih dahulu. Padahal, acara ini kan atas inisiatifnya?!
Celakanya, dia menerima ajakannya karena cewek itu pakai acara memelas segala rupa. Hasilnya, dia tidak tega say no kepada sobatnya itu. Namun akibatnya, sekarang dia hanya dapat terlongong bingung seperti sedang kesetrum listrik. Hm, ini pasti akal bulusnya untuk mempertemukannya dengan sepupunya, Marcel!
Beli shampo di Bekasi?! Huh, kenapa tidak beli shamponya sekalian di Kamerun sana!
“Sore ini kamu cantik sekali.”
Mawar nyaris kelengar. Bukan karena dia dijatuhi durian runtuh, tapi tidak seperti biasanya cowok pendiam seperti Hua Ce Lei dalam Meteor Garden ini dapat melafalkan kalimat barusan.
Mungkin dia baru saja menamatkan kursusnya di John Robert Power, sekolah kepribadian itu. Soalnya, kalau seorang Marcel George Simbolon tadi hanya asal gombal, tentu tingkahnya tidak sewajar tadi. Jadi, mana mungkin orang sedingin kulkas ini dapat tiba-tiba menjadi prenjak jantan.
“Eh, kamu kenapa?” Cowok itu mengibas-ibaskan telapak tangan kirinya di depan wajah Mawar.
“Uh, ti-tidak apa-apa….”
“Lagi mikirin pacar kamu, ya?”
Mawar mengernyitkan dahinya. Hei… dari mana datangnya keberanian itu? Setahunya, meski dia baru bertemu dengan cowok itu sebelas kali, dan itu pun hanya di rumah Nindy. But, today?  Dia yakin Marcel yang dikenalnya bukan seperti Marcel yang sekarang. Atau, mungkinkah dia hanya mengenal Marcel tidak lebih dari seperseratus bagian dari seluruh sifat aslinya?
Tapi, tidak mungkin dia salah. Bukankah Nindy juga yang mengatakan kepadanya kalau kakak sepupunya itu memang sedingin salju di Kutub Utara. Dan salju itu akan menjelma menjadi ice-man alias manusia es bila berhadapan dengan cewek.
“Selain aku sepupu satu kalinya, dia tidak punya saudara cewek. Dia anak bungsu dari tujuh bersaudara. Dan semuanya pejantan. Makanya, yang namanya makhluk perempuan itu merupakan koloni yang berasal dari angkasa luar. Asing sekali baginya.”
“Sebegitu parahnyakah?”
“Tidak parah-parah amat, sih. Tapi, dia pernah curhat sama aku. Katanya, dulu, selain kamu, dia pernah suka sama seorang gadis Singapura. Oh, aku lupa beri tahu kalau Si Marcel itu gedenya di Singapura.”
“Jadian?”
“Tauklah. Aku tidak mau mengorek masa lalunya. Kelihatannya dia sedih banget saat curhat. Pasti ada yang something wrong dengan romantika masa lalunya itu. Buktinya, matanya sempat berkaca-kaca saat itu. Ya, meskipun dia menutup-nutupinya, tapi aku tahu dia sedang sedih. So, aku tidak berani bertanya macam-macam lagi, takut dia jadi gelap mata. Jangan-jangan kena tonjok karena keceriwisan.”
“Masa sih dia selembek itu? Padahal, orangnya kelihatan cool banget.”
“Aduh, Non. Kalau bicara soal cinta, permen batang coklat saja bisa jadi batangan emas.”
“Tapi, Marcel….”
“Marcel juga manusia, kan? Buktinya, dia naksir kamu. Dan ngotot aku dapat nyomblangin dia ke kamu.”
“Tanpa pengecualian untuk si Manusia es itu?”
“Tentu saja. Cinta itu anugerah. Kamu, aku, dan semua penghuni planet biru ini kan merupakan buah dari cinta dan kasih sayang. You, know?”
“Iya, Nek. Aku mengerti.”
Ada bunyi klakson yang mengusir lamunannya. Sejenak dia kemekmek. Merasa dirinya hilang di tengah rimba kota.
“Kita sudah sampai, War.”

***

Suasana café tidak terlampau ramai. Hanya tampak beberapa anak ingusan berpredikat ABG sedang mengoceh tentang selebritis idola pujaan masing-masing. Sementara itu musik melantun enerjik. Ada irama latin dari petikan gitar elektrik Santana yang terdengar mengentak. ‘Corazon Espinado’-nya menyatu dengan oksigen di dalam ruangan café. Asyik sekali.
“Kamu sakit?”
“Uh, eh… tidak.”
“Mungkin kamu kecapekan, sedari tadi menunggu kami. Sorry, ya?”
“Bu-bukan….”
Cowok itu tampak santai. Sudah lama dia tidak bertemu dengannya. Nyaris dua bulan dihindarinya cowok itu. Diam-diam diliriknya cowok itu tengah memesan menu makanan. Dia kelihatan semakin dewasa. Tingkahnya yang berwibawa itu malah menyudutkan dia dalam kekikukan. Dan dia hanya dapat mengangguk menjawabi setiap pertanyaan dari cowok itu.
“Minum apa?”
“Sama.”
“Eh, War, sorry ya karena menyita waktu kamu. Kamu sedang tidak banyak pe-er, kan?”
“Tidak, sih. Ta-Tapi… Nindy….”
“Hahaha, anak itu lucu,” cowok itu terbahak. “Dia ngerjain kamu.”
“Pasti akan kubalas, nanti.”
“Rupanya, kamu pendendam, ya?”
“Habis, dia jahat, sih!”
“Sorry. Sebenarnya, ini ide dari aku. Dia hanya broker. Jangan salahkan dia.”
“Ta-tapi….”
“War, aku sengaja minta dia agar dapat mengatur pertemuan kita. Only you and i.”
“Tapi, dia kan sudah janji kepadaku bahwa acara JJS ini bertiga.”
“Kamu marah?”
“Tentu saja. Aku tidak suka orang yang sering ingkar janji.”
“Sori. Ini inisiatifku. Kalau marah, ya sama aku.”
“Ya, sudahlah. Bubur tidak mungkin jadi nasi kembali.”
“Terlebih-lebih menjadi padi.”
Mereka tertawa. Diliriknya kembali cowok itu. Ada sepasang lesung yang menyembul indah di sudut bibirnya.
“Cel….”
“Kamu pasti ingin tahu kenapa aku….”
“Aku sudah tidak marah lagi, kok.”
“Syukurlah. Aku malah kuatir marahmu itu akan berbuntut benci.”
“Aku tidak sejahat itu.”
“Sebenarnya….”
“Nindy sudah menceritakannya. Kamu….”
“Ya, ya. Tidak ada yang kututup-tutupi kalau sudah curhat sama sepupuku itu. Kamu pasti sudah tahu kalau selama ini aku tuh naksir kamu. Cuma….”
“Cuma apa?”
“Kenapa kamu menghindari aku?”
“Ak-aku….”
“Kamu tidak suka sama aku, kan?”
Mawar diam seribu bahasa. Lidahnya kelu. Hatinya berkecamuk. Haruskah dia berterus terang tentang derajat dan martabat keluarga yang sangat jauh berbeda. Seperti langit dan bumi.
“Trim’s kamu mencintai aku. Ta-tapi… ki-kita beda, Cel!”
“Beda bagaimana? Kamu makannya nasi, ya aku juga. Memangnya anak tajir itu makannya nasi butiran berlian apa?”
“Ta-tapi….”
“War, listen to me please. Kalau aku suka kamu, ya aku suka. Kamu jangan mencampuradukkan perasaan dengan obsesi dan kisah-kisah klasik pengantar bobo begitu, dong!”
“Tapi….”
“Aku tidak ingin kecewa lagi, War. Aku sudah banyak menderita akibat kesalahanku sendiri. Dulu, aku tidak pernah jujur terhadap diriku sendiri.”
“Memangnya….”
“Mungkin Nindy sudah cerita sama kamu.”
Mawar mengangguk.
“Tiga tahun lalu, ketika aku masih SMP di Singapura; aku jatuh hati pada salah satu teman sekelasku. Namanya May Shiang. Dia juga tampaknya suka. Tapi, aku tidak pernah jujur dengan hatiku sendiri. Aku bersikeras untuk tidak menghiraukan rasa cintaku kepadanya dengan hanya menganggap dia seperti gadis-gadis teman sekolahku yang lainnya. Padahal, dia sudah sering menampakkan rasa ketertarikannya kepadaku. Lewat perhatian-perhatian yang lebih dari sekadar pertemanan biasa.”
“Tapi, kenapa kamu dan dia tidak dapat bersatu? Bukankah, Si May… siapa?”
“May Shiang.”
“Ya, May Shiang. Dia kan suka juga sama kamu?”
“Ah, itulah sakitnya. Waktu itu, mungkin aku terlalu jumawa. Aku malu mengungkapkan cintaku kepadanya. Aku takut apabila ternyata cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Aku selalu ragu, tidak jujur dengan hatiku sendiri. Kupendam perasaan suka itu dalam-dalam selama dua tahun. Dan ketika aku merasa sudah punya keberanian dan kejujuran, segalanya sudah terlambat!”
“Terlambat?!”
“Yap. Gadis itu sudah tidak berada di Singapura lagi. Aku dengar dari Pengurus Administrasi Sekolah bahwa May Shiang pindah ke Beijing, mengikuti ayahnya yang bertugas sebagai duta besar untuk Singapura di sana.”
“Kamu bisa berkirim surat atau email. Tanya alamat kedubes Singapura di Beijing.”
“Percuma.”
“Kenapa?”
“Dua tahun, setiap hari berdekatan dengannya, sekelas lagi; tapi dasar aku yang bego, tidak dapat memanfaatkan kesempatan itu. Semua itu karena keegoisanku, tidak jujur terhadap diriku sendiri. Bukankah aku telah membuang-buang waktu dengan percuma?!”
“La-lalu….”
“Yah, mau apa lagi. Meski aku kirimi dia seribu surat dan seratus rangkaian bunga mawar setiap hari pun percuma saja. Dua tahun aku menampik cintanya secara tidak langsung. Dia pasti sakit hati. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia mau ikut ayahnya ke Negeri Tirai Bambu itu.”
“Tapi….”
“Yah, sudahlah. Seperti yang kamu bilang tadi. Bubur tidak mungkin jadi nasi kembali.”
Mawar menguraikan bibirnya membentuk senyum. “Terlebih-lebih menjadi padi.”
Mereka kembali terbahak.
“War, aku tidak ingin jatuh ke dalam lubang yang sama. Aku mengatur semua rencana ke café ini resmi untuk berterus terang kepadamu. Aku cinta kamu!”
“Hah?” Mawar terkejut, tapi dia cepat mewajarkan sikapnya dengan melontarkan pertanyaan gurau. “Jadi, kamu berniat ‘melamar’ku sebagai pacar?”
“Yap.” Cowok itu mengacungkan dua jarinya ke atas. “Mulai hari ini, aku Marcel George Simbolon bersedia menerima Mawarni Stephanus Handoyo sebagai pacar. Dan aku, Marcel George Simbolon bersumpah untuk tetap menyayangi Mawarni Stephanus Handoyo dalam keadaan senang maupun susah, suka maupun duka, dan menyertainya dalam keadaan sehat maupun sakit. Sampai ajal menjemput.”
Mawar terharu. Tak terasa matanya berkaca-kaca. Entah dia harus bilang apa. Dia hanya dapat menggaruk-garuk rambut potongan pendeknya itu meskipun kepalanya sama sekali tidak gatal.
“Ta-tapi, kita ini dua kutub yang berbeda. Aku ini kere, tahu! Kamu mungkin dapat menerima aku, tapi bokap-nyokap kamu belum tentu.”
“Papi-Mamiku tidak seperti dalam sinetron….”
“Maksudmu, tidak matre!”
Marcell mengangguk. Dan itu telah menjawabi segalanya. (blogkatahatiku.blogspot.com)