08 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 57

Oleh Effendy Wongso

Hingga masa itu tiba
tak jua gergasi manapun menggentarkanmu
kesatria,
biarlah kali ini saja
lentera itu menuntunmu
dalam lagu sunyi kekalahan

Jangan sesali
sinar jingga lentera
yang mengajakmu ke tempat
pada sekumpulan koi di Onon
dan pada sekawanan domba di Gobi

Sebab api telah membubung tinggi
kala maharana tak terelak
kesatria,
airmatamu setipis cadar
tak mampu membasuh luka ambigu Mongolia

Bao Ling
Elegi Si Pendekar Danuh

1231, Kabupaten Chengdu

Foto: Dok KATA HATIKU
Namaku Fa Mulan.
Aku anak seorang veteran prajurit Yuan, Fa Zhou. Aku adalah gadis desa biasa. Namun mereka selalu menyebutku Magnolia, gadis jelmaan Dewata. Kadang-kadang mereka memanggilku, Fa Mulan, Prajurit Garda Langit.
Hah, mungkin ini terlalu hiperbolis?!
Mungkin, ya mungkin.
Bagiku, sebutan itu terlampau mengada-ada. Ataukah, mereka telah mendewakan aku?!
Ah, entahlah. Yang pasti aku merasa tidak pernah menjadi pahlawan. Aku ini manusia biasa yang memiliki banyak kelemahan. Aku hanya terdiri dari daging dan darah. Aku juga takut mati.
Keberanian-keberanian yang telah aku tunjukkan selama maharana bukanlah sesuatu hal yang, bagi kebanyakan orang dianggap muskil dan fenomenal. Perang adalah pilihan terakhir yang mau tidak mau harus aku jalani. Di dalam perang, hanya ada dua pilihan. Hidup atau mati. Dan ternyata dalam beberapa pertempuran, aku masih hidup. Bukan karena aku heroik. Bukan pula karena aku jawara. Bukan. Namun kusadari semua itu adalah anugerah Dewata. Aku dapat bertahan hidup di dalam kelam maharana karena semata ajallah yang belum menjemputku.
Aku juga tidak senang mereka mengkultuskan aku sedemikian rupa. Karena selama ini aku hanyalah sehelai yang-liu yang mengikuti alur air sungai, dan sampai pada sebuah tempat di mana sang air bermuara. Nasib telah membawaku ke medan maharana. Nasib yang telah membawaku ke Tung Shao. Nasib jualah yang telah membawaku ke Istana.
Aku menjalani hidup ini apa adanya. Menyaru sebagai laki-laki, menelusup dan memasuki kewajiban kemiliteran Yuan. Selanjutnya, aku bertempur sebagai prajurit Yuan. Melaksanakan tanggung-jawab dan kewajiban mempertahankan negara dari agresi bangsa lain. Bukannya karena aku beda dengan prajurit-prajurit yang lainnya. Bukan. Sekali lagi aku tegaskan, aku hanyalah manusia biasa.
Masih banyak tugas yang belum aku tunaikan. Tionggoan masih pula bergejolak. Aku memiliki tanggung jawab moral untuk memaparkan kebajikan bagi perkembangan di tanah yang kerontang ini.
Namun yang terutama, aku belum dapat membahagiakan Ibu. Ia selalu menuntut cucu laki-laki dariku. Kadang-kadang aku benci cerocosannya yang bawel itu. Tetapi setiap merenung sebentar, maka kebenaran samar terungkap dari keceriwisannya tersebut.
Bahwa aku sebenarnya memang perempuan. Ya, aku memang seorang perempuan. (blogkatahatiku.blogspot.com)