20 January 2014

LOVE IN REINCARNATION 10

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Foto: Effendy Wongso
Amelia sudah berhasil keluar dari gedung labirin ketika salah seorang prajurit Dinasti Yuan itu melihatnya, lalu berteriak dengan gema serupa sangkakala!
“Khe Khe!”
Amelia berlari di antara rerimbunan mahoni di luar gedung labirin. Berkas-berkas cahaya matahari yang menelusup di antara dedaunan menggambari tanah merah di sana serupa gergasi bercula bersenjata gada ganda.
Teriakan sang prajurit tak urung menggebah langkahnya yang secepat kijang. Terus saja berlari sampai berhenti di satu titik. Simpul bibirnya terurai. Dan ia ternganga kaget ketika melihat ratusan pasukan berkuda yang menghadang langkahnya di depan.
“Hahaha….”
Ada suara tawa menggema di antara ratusan pasukan berkuda. Ia mundur setindak. Bingung serupa muno. Entah harus berbuat apa. Dua pihak asing menginginkan jasadnya.
Ia pasrah!
“Yuan Ren Xie Khe Khe, hormat hamba pada Anda putri dari Sang Penguasa Tionggoan!”
Seorang lelaki berkulit separo gelap turun dari kudanya yang jenjang. Dipijaknya tanah merah dengan jubah yang masih tersibak setengah, menggantung di pelana kuda. Ia masih tersenyum ketika stola kulit rubahnya itu melambai tertiup semilir angin hutan.
“Ak-aku….”
Yuan Ren Xie Khe Khe?! Hei, namanya adalah Yuan Ren Xie. Putri Yuan Ren Xie, anak gadis kaisar Sang Penguasa Tiongkok!
“Mohon jangan menolak, ikut kami atau nyawa Tuan Putri tidak menjadi jaminan kami lagi!”
Amelia kemekmek. Di dunia macam apa ia berada kini. Seperti terseret ke dalam lorong waktu, di mana ia dihadapkan pada kenyataan ekdisis dan kamuflase. Ekstraversi babur yang tanpa disadarinya telah membawa ia ke tempat ini, ratusan tahun bahkan sebelum moyangnya dari generasi modern lahir dan berekspansi ke Asia Tenggara!
“Aku bu-bukan Tuan Putri! Aku ti-tidak kenal siapa itu Kaisar Tionggoan!”
Lelaki berwajah tirus itu terbahak sinis. Matanya memicing, menatap mawas setelah tawanya mereda.
“Selera humor Yuan Ren Xie Khe Khe boleh juga! Namun, jangan buang-buang waktuku untuk guyonan yang sama sekali tidak lucu itu!”
“Ak-aku memang bukan….”
“Sudahlah!” teriaknya dengan suara sekeras guntur. “Thamu Dan, tangkap dia!”
Seorang pemuda berpakaian kulit beruang mendekatinya setelah turun dari kuda dengan sekali lompatan tanpa menapaki sanggurdi. Kemudian seperti terbang, dengan entakan kaki dua kali pada tanah, pemuda yang bernama Thamu Dan itu sudah sampai di hadapannya sebelum ia sempat mengayunkan kaki untuk kabur. Pemuda itu langsung memegang pundak, serta mengunci gerakannya dengan cakar. Jemari pemuda bertubuh kekar itu memang kuat bagai kuku-kuku beruang. Amelia terkulai dengan kedua lutut menopang tubuh. Tubuhnya terpatri di tanah. Tidak bisa bergerak meski ia meronta-ronta dengan sekuat tenaga.
“Hentikan!”
Ada teriakan dari arah belakang. Ia menoleh dengan posisi tubuh yang masih tertelikung oleh pemuda berbaju kulit beruang itu. Lima prajurit dari Dinasti Yuan yang mengejarnya tadi kini berdiri sejajar dengan pedang terhunus.
“Lepaskan Khe Khe!”
Lelaki separo baya yang tampaknya merupakan pemimpin rombongan pasukan berkuda itu terbahak. Lehernya yang bergelambir seperti domba itu bergetar konstan mengikuti alunan tawa dari pita suaranya.
Maka apa yang telah dibayangkannya memang terjadi. Pertempuran lima prajurit Dinasti Yuan dengan para barbarian Mongol tidak dapat dihindarkan. Ia masih sempat melihat perkelahian sengit itu berlangsung tidak lama setelah merasa tubuhnya diangkat di atas seekor kuda.
Derap-derap kaki kuda terdengar menderas. Dari kejauhan, samar dilihatnya ada kilatan cahaya dari ujung mata pedang yang terpantul sinar matahari pagi. Ada suara gabrukan keras terdengar membentur tanah. Ada jeritan kesakitan melengking di udara. Ada salah satu prajurit Dinasti Yuan yang terkapar di tanah.
Matanya mengabur. Ia terkulai pingsan di atas seekor kuda bersama Thamu Dan sesaat setelah pandangannya menggelap.
Amelia terhenyak. Sertamerta terduduk di atas tempat tidur. Napasnya tersengal dan terdengar memburu. Ini adalah kali kedua Amelia bermimpi tentang prajurit-prajurit dari masa lampau tersebut. Ia terjaga dengan peluh yang menitik di dahi. Dilihatnya sekeliling. Tidak ada siapa-siapa di kamar hotel kecuali Jennifer yang telah terlelap disertai irama dengkuran khas di sampingnya.
Amelia masih meringkuk duduk memeluk lutut di atas tempat tidur. Hari ini memang melelahkan. Ada patung-patung Teracotta yang muncul bergantian dengan para prajurit dari Dinasti Yuan di benaknya. Juga fenomena aneh, tangisan tengah malam patung-patung Teracotta di Beijing Teracotta’s Meseum yang didengarnya dari Wang Wei sang Pengurus Museum. Lalu bayang itu berganti dengan wajah bengis pemimpin pasukan berkuda barbarian Mongol, serta pemuda Thamu Dan yang sarkastis.
Amelia menghela napas panjang. Angin seperti menyeretnya ke negeri para leluhurnya beranak pinak. Memaparkan kausa lotong tentang bangsa yang dicacah perang saudara di masa lampau. Inikah serangkaian misteri yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia?!
Ia menggigit bibir. Serangkaian kalimat tanya itu menghunjam benaknya. Mejadi paradigma yang mengendap di alam bawah sadarnya. Yang hadir dalam mimpi-mimpinya selama ini. (blogkatahatiku.blogspot.com)