10 January 2014

JOMBLO SEJATI

Oleh Weni Laudy Ratana

Foto: Effendy Wongso
Sesuatu yang bernama cinta selalu datangnya mendadak. Tanpa diundang. Terlebih-lebih dengan surat undangan. Tapi yang namanya Cupid memang tidak pernah memilah-milah siapa yang hendak disasar dengan panah asmaranya. Kalau sudah menjadi keputusan langit, maka hal itu tidak dapat ditolak. Tugasnya untuk melesatkan anak panah yang menjadi amanat tetap akan tereksekusi. Apapun dalih yang melatarbelakangi.
Sama halnya dengan Andin. Cewek manis berlesung pipi ini sama sekali tidak pernah menyangka akan dapat jatuh cinta pada Taurus. Padahal, dua tahun persahabatan mereka di sekolah tidak pernah dilatarbelakangi ‘apa-apa’. ‘Apa-apa’ di sini maksudnya, feeling. Not feeling blue. Tapi siapa sangka persahabatan mereka yang jalan baru saja menginjak usia tiga itu bisa direcok asmara.
Andin menghela napas panjang-panjang. Selalu saja begitu bila ia menyaksikan Taurus ngobrol dan berdekatan dengan cewek lain. Apakah ia jealous?! It’s not funny! Hei, bukankah selama dua tahun juga cowok itu akrab dengan teman-teman cewek seantero sekolah?! Tapi, kenapa sekarang hatinya berdebar tidak menentu begini?!
“Andin…!”
Satu panggilan berintonasi tinggi plus tepukan separo keras di pundaknya membuyarkan lamunannya. Dialihkannya matanya spontan pada wajah berpeluh dengan suara terengah di belakang. Maura menunduk memegang lutut dengan kepala mendongak, tetap konsisten menatap sahabatnya yang tiba-tiba berubah jadi aneh dan pendiam itu di seberang meja kantin.
“Kok nggak ikutan basket, sih?”
“Malas!”
“Jangan mengurai dalih. Aku tahu pasti bukan itu penyebabnya.”
“Aku sedang….”
“Sudahlah, Din. Wellcome to The Moon-mu kan sama denganku. Jadi, aku tahu kalau kamu tidak sedang haid.” Maura menegakkan badan setelah merasa lebih segar. Ditepuknya pundak Andin sekali lagi setelah ikut duduk di sebelah gadis yang tiba-tiba jauh lebih murung dari mendung itu. “Come on. Curhat aja. Gratis, kok.”
“Tapi….”
Gadis bertubuh lampai itu menyeka peluh dengan satu sapuan telapak tangan pada sekujur leher. Rambutnya yang lurus mayang kini sudah sedikit mengikal karena lepek oleh kelenjar keringat. Dikibaskannya tangan yang satunya mengisyaratkan ketidaksetujuan. Satu bukti penolakan yang biasa dilakukan bila tidak akur dengan suara nuraninya. Andin memang jadi aneh. Gadis prenjak itu tiba-tiba menjelma menjadi merpati jinak! Ups, ini stori paling unik yang pernah dialaminya.
Padahal….
“Maura….”
“What?”
“Maura, kamu pernah jatuh cinta nggak?”
Maura sekali lagi menyapu sekujur lehernya yang sama sekali sudah tak berkeringat. Satu bukti keterkejutannya yang diaplikasikan tanpa sadar. What?! ‘Maura, kamu pernah jatuh cinta nggak?!’ That is something stupid! Satu pertanyaan paling bodoh sedunia!
“Andin….”
“Kamu belum jawab pertanyaanku!”
Lagi-lagi, gadis berambut mayang itu menyapu lehernya dengan telapak tangan. Tiga detik, sapuan telapak tangannya itu mengarah ke sekujur wajah. Entah ia harus berbuat apa dengan pertanyaan mahatolol itu!
“Andin, kamu sakit ya?!”
“Siapa bilang aku sakit. Aku sehat-sehat aja, kok.”
“Ragamu sehat. Tapi, otakmu yang sakit!”
“Hei, ka-kamu….”
Maura mengedikkan bahunya tanpa merasa bersalah. Pertanyaan yang dilontarkan Andin barusan menggelitik hatinya. Memangnya hati gadis itu terbuat dari batu sehingga tidak pernah jatuh cinta apa?!
“Maura….”
“Din, manusia apa sih yang nggak pernah jatuh cinta?!”
“Maksudku….”
“Kecuali dia itu bukan manusia Bumi. Tapi, manusia sejenis Alien yang berasal dari Mars sana!”
“Maura! Aku serius!”
“Siapa bilang kamu dua rius?”
“Maura!”
Maura mengangguk, mengalah karena melihat mata Andin telah berkaca-kaca. “Oke, oke. So, what do you mind with: ‘Maura, kamu pernah jatuh cinta nggak?!”
Sesaat gadis itu tergugu. Bibir mungilnya mengatup serupa digembok. Kantin sebetulnya tempat yang ideal untuk menuangkan unek-unek tanpa harus mengganggu konsentrasi seperti kalau ada kelas. Tapi kali ini ia tidak tahu harus ngomong apa. Padahal lelatu kalimat tadi telah sedikit membakar keberaniannya untuk menyampaikan ikhwal ganjalan di hati. Kalau bukan Maura sohib kentalnya, pada siapa lagi ia mesti curhat?!

***

“Yah, bukannya aku nggak pernah jatuh cinta, Ra. Tapi….”
“Tapi apa?”
“Tauklah. Tapi, aku takut kalau jangan-jangan cintaku hanya bertepuk sebelah tangan.”
“Itu resiko jatuh cinta.”
“Tapi….”
“Itu hal yang manusiawi banget, Din. Setiap hal punya konsekuensi. Untuk urusan hati yang paling hakiki seperti cinta pun begitu. Kalau nggak keterima, ya ketolak. Itu aja.”
Andin diam menyimak. Bakso pesanannya malah belum tersentuh sama sekali. Kuahnya sudah dingin, dan beberapa lemak nabati telah menggumpal di gigir mangkuk. Maura asyik mengunyah daging bulat baksonya tanpa merasa terbebani dengan masalah sahabat semasa SD-nya itu.
“Tapi, kalau aku ditolak kan sakit hati, Ra!”
“Siapa juga yang bilang kalau cinta ditolak itu enak, Non?!”
Andin tersenyum, menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “I-iya, sih. Tapi….”
“Tapi apa lagi?”
“Kamu pernah ditolak nggak, Ra?”
“Ya iyalah. Kalau nggak, mana aku bisa ngerasain bagaimana sakitnya bila cinta kita ditolak!”
“Oh. Eh, tapi kok kamu nggak sakit hati sih?”
“Sakit hati sih, iya. Tapi percuma kalau terus diungkit-ungkit dan diingat-ingat. Memangnya kalau menangis sampai banjir bah dapat memperbaiki keadaan?”
“Wah, kamu hebat!”
“Nggak juga, Din. Tapi, aku nggak mau trauma-trauma begitu.”
“Kenapa?”
“Ya bodoh aja menurutku.”
“Memangnya….”
“Kalau pingin punya pacar, kita mesti berani menerima resiko. Kalau kamu takut, ya jadi jomblo aja deh seuban-ubanan!”
“Kok begitu sih ngomongnya, Ra?!”
“Ya habis aku harus ngomong apa dong, supaya kamu berani?! Apa Taurus bisa kamu taklukkin hanya dengan satu lirikan mata? Heh, memangnya sulap apa?”
“Ja-jadi, selama ini kamu tahu aku naksir sama Taurus?!”
“Ya iyalah! Cuma orang bego aja yang nggak tahu kalau kelakuanmu yang kayak ular kepanasan bila berhadapan dengan Taurus itu bukan merupakan love-syndrome.”
“Heh, kamu bisa aja!”
“Ya iyalah. Habis, mau dikategorikan apa dong kelakuan anehmu itu kalau bukan karena pengaruh kasmaran.”
“Tapi, aku kan nggak pernah ngungkapin perasaanku ke doi, Man!”
“Itu yang salah!”
“Kenapa?”
“Ya iyalah. Mana doi tahu kamu suka dia kalau kamu hanya diam kayak patung orang setengah kelar begitu. Diam melulu.”
“Jadi, aku harus bagaimana dong, Ra?”
“Samperin. Terus terang, bilang kalau kamu tuh naksir dia.”
“Hei, kamu pikir aku sudah gila ya, Ra?”
“Lho, memangnya kenapa? Kamu pikir apa cewek nggak bisa ‘nembak’ duluan?”
“Keganjenan, tahu!”
“Oke. Kalau begitu, silakan menjomblo seumur-umur!”
“Maura! Jangan nakut-nakutin begitu, dong!”
“Habis, kamu nggak pede sih!”
“Baik, baik. Tapi, kamu ajarin ya bagaimana cara ‘nembak’ doi.”
“Hah?! Memangnya aku instruktur cinta apa?!”
“Please, Ra! Aku nggak mau menjomlo seumur hidup!”
Maura menggeleng. Berdiri dari bangku kantin, hendak melangkah menuju ruangan kelas. Pura-pura menolak permintaan Andin yang memelas dengan suara paruh tangisnya.
“Maura, please dong!”
Maura tetap melangkah. Diam-diam ia tertawa melihat kelakuan sahabatnya yang lugu itu.
Andin memang jomblo sejati! (blogkatahatiku.blogspot.com)