02 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 31



Oleh Effendy Wongso

Dunia tak lagi ramah
tak ada cetus penggembira
saat padang telah dimerahi darah

Duniaku lara
bagai lalang yang membelenggu
dalam tirai-tirainya yang baur

Fa Mulan
Pada Padang Merah Darah


BLOGKATAHATIKU/IST
Ada suara gerit menyentuh ubin. Perlahan pintu terkuak bersamaan terobosan sinar benderang matahari siang yang menerangi kamar pekat Putri Yuan Ren Xie.
“Makanan untuk Putri.”
“Saya tidak mau makan!”
“Ada apa, Putri? Apa Putri sakit?”
Selantun suara lembut bertanya dalam nada prihatin sesaat setelah Putri Yuan Ren Xie menengkurap di atas tempat tidur, menelungkupkan kepalanya berbantal sepasang punggung tangan yang terlipat di bawah dahi. Tampak seorang gadis dayang mendekat setelah mematung sebentar di bawah bingkai pintu, dan masuk ke kamar Sang Putri yang tidak terkunci.
“Sudah, sudah. Pergi sana. Jangan ganggu saya lagi!”
“Tapi….”
“Pergi, pergi!”
Gadis dayang itu mundur setindak setelah mematuhi perintah Putri Yuan Ren Xie. Nampan yang berisi makanan lezat di tangannya nyaris jatuh karena guntur amarah tersebut. Watak fluktuasi putri tunggal Pangeran Yuan Ren Qing itu memang kerap meresahkannya, bukan sekali ini saja, tetapi hal inferior tersebut bahkan sudah menjadi ritual harian. Namun demikian, sedini mungkin dipahaminya karakter Sang Putri sebagai bentuk hakiki hieraki. Iklim itu telah terbentuk turun-temurun di dalam lingkungan monarki Istana. Sebagai gadis yang terlahir dari kalangan jelata, disadarinya benar hal itu sebagai bagian dari takdir. Takdir yang telah membawa kehidupannya ke Istana. Dan mengabdi sebagai salah seorang dayang.
Hari ini dayang dapur Istana dibuat kelimpungan oleh ulah Sang Putri. Menu makanan yang sudah tersaji untuknya di ruang makan Istana tak sesumpit pun disentuhnya. Putri Tong Fha akhirnya memerintahkan agar dayang dapur segera menyajikan makanan baru untuk dihidangkan di dalam kamar putri tunggalnya tersebut. Karena setiap begitu, mangkir di ruang makan, ia tahu kalau Putri Yuan Ren Xie sedang marah.
Putri Yuan Ren Xie kembali menguraikan airmata. Ia belum dapat menerima keputusan tegas ayahnya yang melarangnya ke Ibukota Da-du untuk menyaksikan Festival Barongsai. Amarahnya dilimpahkan kepada Fang Mei yang sudah menyertainya sejak masa kanak-kanak. Gadis sebaya Sang Putri itu sudah menjadi salah satu kerabat paling dekat. Mengawal, merawat, dan tumbuh bersama-sama di dalam lingkungan Istana Pangeran selama sekian belas tahun.
“Tapi, Anda belum makan. Saya khawatir Anda bisa jatuh sakit,” sahut Fang Mei dalam nada memelas.
“Apa pedulimu kalau saya sakit?!” bentak Putri Yuan Ren Xie dengan suara paruh tangis. “Ayah saja tidak peduli terhadap saya lagi!”
“Tapi….”
“Ayah jahat! Ayah sudah tidak sayang lagi terhadap saya! Ayah melarang saya menghadiri Festival Barongsai di Ibukota Da-du. Padahal, Ayah sudah berjanji akan mengabulkan apa saja permintaan saya sebelumnya,” keluh Putri Yuan Ren Xie. “Tapi, tiba-tiba saja Ayah mengingkari janjinya ketika mengetahui permintaan saya tersebut adalah main ke Istana Da-du.”
Fang Mei sudah memberanikan diri melangkah.
Dengan separo menjinjit dan hati-hati, diletakkannya nampan makanan Putri Yuan Ren Xie di atas meja kamar setelah menggeser sebuah lampu minyak berkanopi lampion merah ke tepi. Diletakkannya satu per satu mangkuk dan piring yang berisi nasi putih, juga sayur-mayur serta beberapa lauk-pauk yang tampak masih mengepulkan asap.
Putri Tong Fha memerintahkannya agar menyajikan makanan baru bagi Sang Putri setelah gadis itu tidak hadir makan siang bersama di ruang makan Istana Kiangsu tadi. Aroma lezat kaki babi kecap dan bebek peking serta sayur asin tumis kesukaan Sang Putri menyeruak di seputar kamar. Namun Putri Yuan Ren Xie tak bergeming meski perutnya sebetulnya sudah lapar. Ia masih saja sesenggukan di atas ranjangnya.
Setelah selesai meletakkan semua makanan itu ke atas meja, Fang Mei melangkah lebih dekat ke arah Putri Yuan Ren Zhan yang masih tidur menengkurap. Ia duduk di gigir ranjang Sang Putri dengan sikap kikuk. Sesaat tidak tahu harus berbuat apa. Dipilin-pilinnya bilah-bilah rambut yang menjuntai di bahu sebagai reaksi keresahannya, sampai ia mampu mengumpulkan keberanian untuk mengajak Putri Yuan Ren Xie berdialog. Ia harus bersabar untuk itu. Kalau tidak, Putri Yuan Ren Xie pasti akan mengamuk dan sungguh-sungguh mengusirnya. Ditunggunya amarah Putri Yuan Ren Xie mereda. Dengan begitu ia dapat membujuk supaya Sang Putri mau makan seperti wanti-wanti Putri Tong Fha kepadanya.
“Yang Mulia mungkin lagi banyak masalah sehingga tidak dapat mengambil keputusan mengizinkan Putri ke Ibukota Da-du. Kalau masalah beliau sudah berkurang dan satu per satu teratasi, Putri dapat pelan-pelan kembali membujuk Yang Mulia. Barangkali beliau dapat berubah pikiran, dan mengizinkan Putri main ke Istana Da-du,” ujar Fang Mei setelah merasa cukup memiliki keberanian untuk memulai percakapan.
“Saya kecewa terhadap Ayah!” balas Putri Yuan Ren Xie, masih tidur menengkurap sembari sesekali menyeka airmatanya dengan punggung tangan. “Sangat kecewa!”
“Iya. Tapi, Putri jangan sampai bersedih begitu,” bujuk Fang Mei lembut. “Besok Putri dapat kembali membujuk-bujuk Yang Mulia. Bilang, Putri tidak akan apa-apa selama bersama saya. Saya pasti menemani Putri ke Ibukota Da-du jika diizinkan oleh Yang Mulia.”
“Tapi….”
“Sudahlah, Putri. Putri lebih baik makan dulu. Makanan untuk Putri nanti keburu dingin.”
“Saya tidak lapar!”
“Tapi kalau tidak makan, Putri bisa sakit.”
“Ayah pasti lebih senang kalau saya sakit!”
“Putri jangan ngomong begitu.”
“Kalau tidak begitu, kenapa Ayah mengingkari janjinya?! Pasti Ayah tidak sayang sama saya lagi. Kalau saya sakit, Ayah pasti tidak akan peduli! Saya benci Ayah! Saya benci!”
“Putri….”
“Jangan ganggu saya lagi!” sergah Putri Yuan Ren Xie pedas. “Kalau perlu makan saja makanan itu!”
Fang Mei menghela napas panjang.
Disikapinya dengan bijak sifat Putri Yuan Ren Zhan yang masih kekanak-kanakan. Untuk itulah ia tidak segera pergi meninggalkan kamar anak majikannya, seperti yang diperintahkannya sedari tadi. Ia tetap bersabar. Menunggu sampai amarah Sang Putri mereda, dan mau menyentuh hidangan yang telah disajikannya di atas meja.
Dalam seribu degupan jantung makanan yang sudah disiapkan juru masak Istana Kiangsu itu pasti akan membasi, pikirnya. Dan sudah merupakan kewajibannya untuk mengganti makanan tersebut dengan masakan yang baru. Dapur Istana Kiangsu akan menjadi tempat yang paling sibuk karenanya. Sepanjang hari dapur Istana Kiangsu terus mengepulkan asap. Berkarung-karung beras dan ribuan pon daging asap serta sayur-mayur berkualitas baik harus disuplai untuk memenuhi kebutuhan para rani dan puak bangsawan di Istana Kiangsu.
Namun dalam kenyataan sehari-hari, makanan tersebut tidak selamanya habis. Banyak makanan-makanan untuk keluarga Istana Kiangsu itu malah mubazir dan dibuang percuma. Beberapa di antaranya menjadi makanan untuk hewan piaraan, anjing-anjing, anak-anak pejabat negara di Istana Kiangsu.
Fang Mei kembali menghela napas panjang. Pikirannnya menerawang jauh dan terpatri pada satu titik nadir. Sebenarnya, jatah bahan mentah makanan dalam sehari untuk keluarga Istana Kiangsu itu bahkan dapat menghidupi rakyat miskin di beberapa puluh dusun kecil.
Kadang-kadang, ia menitikkan airmata bila mengingat basir kelimpahan yang tersia-siakan itu jika, menghubung-hubungkan dengan nasib melarat keluarganya di kampung dulu. Sesaat kenangan membawanya ke sebuah dusun kecil di mana ia dilahirkan oleh sepasang petani miskin. Kehidupan keras alam pedesaan telah membawanya kemari, masuk sebagai hamba di Istana Kiangsu.
Banyak di antara orangtua memiliki cita-cita sederhana namun merupakan keinginan tertinggi untuk menghindari kemiskinan buat anak-anak mereka kelak. Bagi keluarga yang beruntung memiliki akses masuk ke Istana Kiangsu, anak laki-laki merupakan pilihan yang tepat untuk menjadi kasim. Mereka bahkan rela mengorbankan anak-anaknya untuk dikebiri agar terhindar dari malapetaka busung lapar yang, selalu menjadi momok paling menakutkan di dusun suatu waktu. Selain itu, menjadi pegawai kekaisaran merupakan kebanggaan, meskipun hanya sebagai kasim yang bertugas mengurus segala keperluan rumah-tangga Sang Pangeran dan para garwanya.
Ia adalah salah satu anak dari keluarga yang beruntung.
Kurang lebih dua belas tahun yang lalu, orangtuanya menitipkan ia kepada salah satu kerabatnya yang memiliki akses sebagai dayang-dayang di Istana Kiangsu. Ketika itu Pangeran Yuan Ren Qing dan Putri Tong Fha baru saja dikaruniai seorang putri. Untuk mengurus dan merawat sang Bayi, Putri Tong Fha memerlukan lebih banyak dayang-dayang yang dapat meringankan beban tugasnya sebagai ibu muda kala itu. Di samping itu, putrinya pasti memerlukan teman bermain. Maka nasib membawanya masuk ke dalam Istana Kiangsu. Saat itu pula, ia terpilih sebagai salah satu dayang kanak-kanak yang bertugas menemani Putri Yuan Ren Xie bermain-main.
“Putri….”
Putri Yuan Ren Xie masih membisu.
Hanya sesekali terdengar isaknya yang lirih. Fang Mei masih takzim menunggu. Sesekali mengarahkan ekor matanya ke arah munjungan makanan yang sama sekali belum tersentuh. Sebentar lagi makanan sarat gizi tersebut akan memubazir dan dibuang ke ruang sampah dapur. Mendadak hatinya menggiris.
“Saya mohon Anda mau mencicipi makanan di atas meja, Putri,” bujuk Fang Mei dengan suara sember. “Biar sedikit saja. Sebentar lagi makanan itu pasti jadi basi.”
Putri Yuan Ren Xie membalik tubuhnya dari menengkurap ke menelentang. Airmatanya masih basir menempeli pipinya yang tembam. Fang Mei menyambut sepasang mata berair tersebut dengan menyembulkan senyum separo paksa.
“Ayolah, Putri. Anda harus makan sedikit saja.”
“Saya tidak berselera makan, A Mei.”
“Tapi kalau Anda sakit karena tidak makan, maka saya pasti akan dihukum oleh Yang Mulia, ayahanda Anda, Putri.”
“Kalau saya sakit, itu bukan karena kesalahan kamu. Tapi karena kesalahan Ayah.”
“Tapi, mana boleh Anda….”
“Sudahlah, A Mei. Keluarlah. Bawalah makanan itu kembali ke dapur. Biarkan saya sendiri di sini. Saya tidak ingin diganggu.”
“Tapi….”
“A Mei!”
“Putri….”
“Ada apa lagi?!”
“Saya tidak ingin Putri bersedih terus-menerus seperti itu.”
“Saya sakit hati dan kecewa terhadap kekerasan hati Ayah, A Mei.”
“Mungkin Yang Mulia punya alasan yang kuat sehingga tidak mengizinkan Anda berangkat ke Ibukota Da-du.”
“Tapi, Ayah memang otoriter!”
Putri Yuan Ren Xie bangkit dari menelentang, duduk bersila di atas kasur tataminya. Ditentangnya mata Fang Mei dengan mata menyorot protes. Ia tidak senang gadis dayang itu malah membela-bela ayahnya. Selama ini, meski ia mendapatkan semua fasilitas yang dibutuhkan dan diinginkan dari ayahnya, tetapi ia selalu merasa tidak puas. Ia selalu merasa ada yang kurang.
Sejak kecil, ia hanya dekat dengan Fang Mei, dayang-dayang yang sampai saat ini menemaninya. Ayahnya terlalu sibuk dengan urusan politik negara. Sementara itu, ibunya pun ikut-ikutan sibuk dengan protokoler kenegaraan sehingga melupakan satu hal yang paling mendasar bagi dirinya. Kasih sayang. Afeksi mereka dicetuskan dalam sebentuk pemberian materi yang tidak pernah memuaskan batinnya. Emosinya melabil. Dan membentuknya menjadi gadis remaja yang manja dan tidak mandiri.
“Mungkin bukan maksud Yang Mulia mengekang-ngekang hidup Anda, Putri. Barangkali hanya alasan keselamatan Anda semata,” papar Fang Mei sembari menundukkan kepalanya, tidak berani bersitatap dengan sepasang mata yang menggurat gusar di hadapannya. “Tionggoan baru saja usai dari pemberontakan. Ibukota Da-du masih belum stabil benar. Apalagi, saya dengar Festival Barongsai itu diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai negeri. Jadi sangatlah riskan kalau Putri hadir di sana tanpa pengawalan ekstra ketat.”
Putri Yuan Ren Xie mengibaskan tangannya. “Huh, tahu apa kamu tentang Ayah, A Mei?!”
“Maaf, Putri. Saya hanya….”
“Jangan bawel!”
“Tapi….”
Putri Yuan Ren Xie tiba-tiba berdiri dengan mata berbinar-binar. “Sudahlah, A Mei. Malam ini kita akan pergi diam-diam ke Ibukota Da-du. Sekarang kamu siap-siap saja. Bawa bekal secukupnya. Awas, jangan sampai ketahuan!” sahutnya antusias, mendadak mendapat gagasan untuk kabur dari Istana Kiangsu sesaat setelah melangkah sedepa dari gigir ranjang.
Fang Mei melototkan mata.
“A-apa, Putri?!” tanyanya berbisik, lalu turut berdiri dan mengekori Putri Yuan Ren Xie. “Ki-kita akan diam-diam pergi ke Ibukota Da-du?!”
“Iya!” jawab Putri Yuan Ren Xie, juga dalam nada berbisik. “Ssstt… jangan berisik. Kita akan kabur dari sini. Ingat, jangan sampai ketahuan.”
“Ta-tapi, bagaimana caranya, Putri?!”
“Gampang. Kalau sudah gelap, kita akan menelusup keluar gerbang….”
“Tapi, kita bakal ketahuan. Banyak prajurit pengawal gerbang yang menjaga pintu keluar-masuk Istana. Saya khawatir….”
“Sudahlah. Jangan bawel lagi. Nanti malam kita menyamar sebagai prajurit. Curi beberapa seragam prajurit di ruang ganti. Juga dua ekor kuda di istal belakang Istana. Setelah berhasil keluar dari gerbang, maka kita akan menyamar lagi sebagai rakyat jelata.”
“Ta-tapi….”
“Sstt! Kerjakan saja apa yang saya perintahkan! Ayo, tunggu apa lagi?! Lekas siapkan bekal kamu. Jangan khawatir soal sangu. Saya memiliki banyak simpanan uang emas. Jadi kita tidak bakal kelaparan selama di dalam perjalanan nantinya.”
Fang Mei mengangguk dengan wajah lesi.
Sesaat hatinya menggamang dan tidak tahu harus berbuat apa, kecuali hanya mengakuri semua kalimat Putri Yuan Ren Xie yang serba mendadak serta sangat mengejutkan.
Hendak kabur ke Ibukota Da-du. (blogkatahatiku.blogspot.com)