30 January 2014

MENJAMURNYA BISNIS KURSUS YANG EDUKATIF

Upaya Menangkap Peluang “Manis”

Foto: Effendy Wongso
Selama ini, jika menilik peluang usaha pelatihan sumber daya manusia (SDM) atau lebih dikenal sebagai lembaga kursus dan pelatihan, merupakan salah satu jenis usaha yang tidak pernah mengalami kejenuhan, apalagi tren bisnis sesaat yang kerap menjadi momok bagi bisnis-bisnis riil lainnya.
Pasalnya, dalam kapabilitas permodalan peluang usaha ini dapat menyesuaikan dengan segala kondisi yang ada. Kondisi tersebut termasuk kemampuan permodalan dari pemilik usahanya, sehingga bisnis ini dapat bergerak dinamis dan tak terbelenggu kapitalisasi yang menjerat dalam jangka waktu lama.
Sesungguhnya, peluang usaha ini memiliki potensi keuntungan yang tidak sedikit, karena keberadaan lembaga kursus sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk menambah, memperdalam, serta memperluas wawasan dan pengetahuan mereka di era globalisasi saat ini. Terlebih ketika peluang usaha kerja saat ini hanya membutuhkan SDM yang memiliki modal keterampilan yang berbasis pada kompetensi.
Keberadaan sekolah-sekolah formal yang tidak memberikan ruang cukup untuk peningkatan kompetensi masyarakat pun, menjadi faktor utama sehingga publik sangat membutuhkan lembaga pendidikan nonformal, di mana dalam hal ini adalah lembaga kursus.
Pertanyaannya, siapa yang bisa menjalankan usaha ini? Tentu jawabannya adalah siapa saja dengan latar belakang apapun. Kendati demikian, seorang calon pengusaha yang bakal bergelut di bidang pengembangan SDM melalui lembaga pelatihan maupun kursus ini, seyogianya memiliki kapabilitas mumpuni, sehingga tak hanya berorientasi bisnis, namun dari segi edukatif pun mereka telah berkontribusi terhadap pengembangan SDM yang kompeten.
Untuk itulah, seorang calon pengusaha yang akan mengembangkan usaha dan bisnis kursus dituntut profesionalismenya, bagaimana kelak ia dapat bertanggung jawab secara moral melahirkan manusia-manusia andal di Tanah Air. Sementara berkaca terhadap realitas yang ada, harapan tersebut tentu masih jauh lantaran substansi pemberdayaan SDM yang tangguh di Indonesia belum dapat mengakomodir kekurangan-kekurangan yang ada.
Memang, untuk meningkatkan kompetensi dalam bisnis kursus ini seorang calon pelaku usaha harus mampu menjaring informasi yang akurat dari lalu lintas sumber yang mampu memberikan referensi kuat dan kredibel. Sebelumnya, selama ini para pengusaha yang telah mapan dan mandiri di bisnis ini sudah menangkap peluang usaha yang muncul dari realitas kondisi masyarakat di sekitarnya, di mana mereka telah membekali banyak orang dengan keterampilan usaha yang relevan, dengan kebutuhan riil yang bakal menjadi peluang bagus untuk memulai wirausaha.
Jika melihat paradigma yang muncul belakangan ini, di mana sebagian besar kaum bermodal yang ingin bergerak di bidang wirausaha lebih memilih cara mudah dengan membeli waralaba asing berbagai usaha yang kini menjamur dalam jaringan luas seperti ritel, rumah makan, farmasi, dan usaha-usaha lainnya di berbagai pelosok negeri. Sedangkan, di satu sisi banyak pengusaha yang tertipu atas dengan investasi “bodong” lantaran tak mengerti harus bagaimana menginvestasikan modalnya sementara bank sudah tidak lagi manis dalam segi bunga yang menarik.
Oleh karena itu, sudah menjadi rahasia umum bila bangsa dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa ini menjadi sasaran empuk para pengusaha asing yang bergerak di bidang kursus dan jasa pelatihan. Ironis memang jika sampai anak-anak bangsa tidak dapat memanfaatkan peluang usaha ini. (blogkatahatiku.blogspot.com)