26 January 2014

MENAKAR PELUANG BISNIS TAHUN KUDA

UMKM, Prospektif di 2014

Foto: Effendy Wongso
Menakar peluang bisnis yang cerah di 2014 bukanlah perkara mudah, di mana catatan bisnis pada 2013, agenda dan regulasi pemerintah, serta prediksi perekonomian global maupun nasional menjadi bahan dasar pertimbangannya. Jika merunut mitologi China, maka 2014 merujuk pada “shio” kuda. Sebagai simbol kecepatan dan ketangkasan, secara psikologis ini tentu berpengaruh dalam kompetisi bisnis yang kian kompetitif dan penuh geliat dinamika.
Di 2013, kondisi perekonomian dunia masih stagnan sementara di Indonesia tampaknya mulai berjalan dengan baik, sehingga menjadi momentum yang tepat bagi pengusaha berbasis usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk memulai membangun usaha. Apalagi, bantuan permodalan yang berasal dari pemerintah maupun organisasi nonpemerintah mulai banyak direalisasikan, terutama untuk daerah-daerah di luar perkotaan.
Hal tersebut diungkap oleh penulis dan pemerhati bisnis-sosial, Khiva Amanda saat dikonfirmasi via milis terkait bisnis-bisnis prospektif yang diprediksi merajai pasar di Tanah Air di 2014 ini. Diulas, selama ini UMKM masih dianggap usaha partikelir yang belum dapat menopang perekonomian negara secara nasional, namun satu hal yang dilupakan para pelaku bisnis di Indonesia bahwa justru usaha inilah yang paling resistensif atau bertahan, terutama saat terjadinya krisis monter di 1998 silam, juga krisis global di 2008 lalu.
“Memang, jika mengaitkannya dengan usaha kapital seperti misalnya multifinance yang tumbuh 33 persen pada 2013 lalu, UMKM mungkin masih separuhnya. Akan tetapi, permodalan UMKM masuk dalam unit risk-free, berisiko kecil lantaran tidak melibatkan regulasi kapitalisasi,” bebernya.
Dijelaskan, bidang-bidang UMKM yang prospektif dan dapat berkontribusi meraup laba di 2014 di antaranya adalah usaha percetakan. Ia melihat hal ini dapat terjadi karena Indonesia akan mengadakan pesta demokrasi berkala lima tahunan, yakni pemilihan umum (Pemilu).
“Nah, jika para pelaku UMKM yang telah memiliki usaha percetakan seperti spanduk dan baliho, maka siap-siaplah untuk panen. Puluhan partai dan ratusan calon anggota dewan, baik pusat maupun daerah, serta kandidat presiden yang ingin berebut kursi tentu membutuhkan atribut-atribut kampanye seperti baliho, spanduk, pamflet, pin, stiker, brosur, dan sebagainya. Hal ini merupakan peluang bisnis yang menjanjikan,” papar wanita yang sering menyuarakan opininya di kolom berbagai koran ini.
Sedangkan bisnis lainnya yang masih berbasis UMKM, sebut Khiva adalah bisnis gadget dan pulsa. Menurutnya, dari berbagai riset dan analisa pasar yang diamatinya, pengguna mobile gadget terutama smartphone akan mengalami pertumbuhan yang pesat.
“Di Indonesia, jika seseorang memiliki modal antara Rp 10 juta hingga Rp 20 juta, maka ia bisa mencicipi manisnya bisnis penjualan handphone dan pendukungnya, seperti aksesoris ponsel dan pulsa,” ungkapnya.
Adapun usaha waralaba lokal, diakui oleh wanita yang hobi membaca buku-buku bisnis ini, masih punya peluang yang sama baiknya dengan usaha-usaha yang disebutnya tadi. “Bisnis dalam jaringan waralaba lokal, meskipun sudah menjamur beberapa tahun terakhir ini, tetapi saya masih menganggap punya prospek yang bagus,” alasannya.
Pasalnya, bisnis waralaba lokal menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Selain tidak memerlukan modal besar seperti waralaba brand besar dari luar negeri, waralaba lokal termasuk gampang dikelola.
“Kita lihat waralaba lokal Teh Tong Tji misalnya, pertumbuhannya cukup mencengangkan. Pelaku usaha bermodal kecil pun sudah dapat membuka gerai kuliner ini melalui kedai-kedai mini di emperan toko. Jika punya modal lebih, mereka bisa buka gerai yang lebih besar, yakni Tea House Tong Tji di mal-mal,” urainya.
Pertumbuhan yang menjanjikan dalam skala kecil dan menengah, menurut wanita berkacamata minus ini bukan hanya pada makanan dan minuman saja, namun beragam bidang usaha dalam jaringannya masing-masing seperti waralaba di bidang pendidikan, kecantikan, teknologi, kesehatan, hingga bisnis jasa seperti event organizer (EO), dan lain-lain.
“Bahkan di antaranya sudah lolos untuk go international. Ini artinya, dengan basis UMKM namun jika sudah berkembang bisa jadi berwujud perusahaan berskala nasional atau internasional,” imbuhnya.
Selain bisnis-bisnis tadi, Khiva menyebut ada satu usaha yang terbilang spektakuler karena tidak memerlukan modal besar, tetapi hanya memanfaatkan jaringan afiliasi di internet.
“Bisnis lewat media online. Jangan pandang sebelah mata, bisnis ini sangat prospektif. Lihat saja bagaimana getolnya PT Djarum mengakusisi konten-konten lokal online shop seperti Kaskus. Atau, Singapore Press Holdings (SPH) yang mengakusisi Berniaga.com,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)