22 January 2014

MEMAHAMI POTENSI BESAR INDUSTRI OTOMOTIF

Foto: Effendy Wongso
Memang tak dapat dipungkiri jika saat ini Indonesia telah menjadi pangsa pasar industri otomotif yang sangat menggiurkan. Runut perkembangan yang diambil berdasarkan grafik year on year atau tahun ke tahun, merujuk kepada penjualan mobil yang mengalami peningkatan signifikan. Bahkan ketika dunia dilanda krisis global pun, potensi penjualan otomotif di Tanah Air terus saja naik.
Fenomena kenaikan transaksi penjualan kendaraan bermotor dan jumlah pengunjung pada berbagai ajang pameran otomotif merupakan buah dari pertumbuhan pesat kelas konsumen di Indonesia. Kenaikan transaksi penjualan kendaraan bermotor dan jumlah pengunjung pada event-event transaksional pameran otomotif, sekaligus membuktikan apa yang telah diungkapkan oleh lembaga konsultan McKinsey Global Institute (MGI) dalam laporan bertajuk “The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential”.
Melalui laporannya, McKinsey Global Institute memperkirakan kelas konsumen Indonesia tumbuh menjadi 135 juta orang di 2030 dari 45 juta orang pada 2010. Lebih jauh, McKinsey Global Institute memprediksi pertumbuhan kelas konsumen Indonesia yang sangat cepat tersebut akan mendorong akselerasi perekonomian Indonesia sehingga dapat menempati posisi tujuh besar kekuatan ekonomi dunia pada 2030 mendatang.
Ini juga berarti secara tidak langsung mengalahkan peringkat Jerman dan Inggris yang sebelumnya cukup jauh di atas Indonesia. McKinsey Global Institute mengategorikan kelas konsumen sebagai penduduk dengan pendapatan per kapita lebih besar atau sama dengan 3.600 dolar AS per tahun.
Apa yang telah diprediksi oleh McKinsey Global Institute boleh jadi mendekati kenyataan. Jika mengaitkan nominalistik penyerapan pasar industri otomotif di dalam negeri yang sedemikian besarnya, maka semua paparan institusi asal asing ini ada benarnya. Lihat saja salah satu contoh, Indonesia International Motor Show (IIMS) 2013. Ajang akbar yang memamerkan beragam industri otomotif dari Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) yang berhasil diselenggarakan belum lama ini di Jakarta, adalah barometer yang tepat untuk mengaktualkan bisnis kaliber ini.
Dalam lansirannya, PT Dyandra Promosindo selaku pihak penyelenggara, menyebutkan bahwa pameran otomotif terbesar yang telah diadakan kesekian kalinya di Indonesia ini, berhasil menyedot 373.661 pengunjung, lebih tinggi dari pencapaian IIMS tahun lalu yang berhasil meraup 368 ribu orang. Sepanjang 10 hari penyelenggaraan pameran tersebut, Kamis (19/9/2013) hingga Minggu (29/9/2013), penjualan tercatat 19.367 unit dengan transaksi senilai Rp 4,9 triliun. Transaksi yang cukup signifikan pada pameran IIMS 2013 menunjukkan pada dunia bisnis bahwa daya beli masyarakat masih berada pada level positif, sekaligus mengindikasikan bahwa industri otomotif nasional tetap berkembang dan menjanjikan.
Jumlah partisipan pameran pameran otomotif terbesar di Asia Tenggara ini terus meningkat, jika pada IIMS 2009 misalnya, hanya diikuti oleh 21 merek kendaraan roda empat, maka pada tahun ini mencatat total peserta 38 merek ATPM yang terdiri atas 29 kendaraan penumpang dan sembilan kendaraan niaga. Industri pendukung juga memberikan kontribusi yang sama, di mana ada 276 perusahaan dari industri pendukung ikut meningkat, di mana tercatat kenaikan yang sangat signifikan dari penyelenggaraan IIMS 2009 yang hanya diikuti oleh 129 perusahaan dari industri pendukung.
Pencapaian itu sekaligus mengindikasikan bahwa ajang semacam IIMS ini berhasil mengukuhkan diri sebagai kegiatan yang paling diperhitungkan oleh kalangan otomotif Tanah Air. Peningkatan jumlah pengunjung dari tahun ke tahun, membuktikan semakin tingginya minat masyarakat terhadap produk otomotif berkualitas. Jumlah transaksi juga mengalami peningkatan, meski sebelumnya pihak penyelenggara menggadang-gadang bahwa transaksi bukanlah target utama penyelenggaraan pameran otomotif tersebut.
Semakin tingginya permintaan luas area pameran yang digunakan oleh para ATPM serta industri pendukungnya di ajang ini, mendorong wacana perluasan area IIMS untuk tahun selanjutnya. Hal tersebut bisa jadi langkah awal dan gambaran bangkitnya industri otomotif yang sempat stagnan satu dekade sebelumnya di Indonesia. Lepas dari polemik “mobil murah” ataupun “mobil rakyat”, suksesnya penyelenggaraan IIMS pada tahun lalu ini yang terkesan luar biasa, sekaligus merupakan bekal untuk menstimulasi pengembangan industri otomotif di Indonesia.
Di luar konteks tersebut, jika berkaca pada kesuksesan industri otomotif di Negeri Matahari Terbit, Jepang, yang selama beberapa dekade menyalip industri otomotif negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat, maka ada faktor “nonteknis” yang perlu dicermati. Selain mengusung teknologi berkualitas dengan “low price”-nya, salah satu faktor terpenting dari bisnis otomotif adalah desainnya.
Langkah awal dalam proses produksi suatu jenis mobil juga selalu dimulai dari guratan sketsa para desainer mobil untuk kemudian dituangkan dalam bentuk model tanah liat skala satu banding satu, hingga akhirnya masuk ke lini produksi untuk diproduksi secara massal.
Tampilan yang sedap dipandang mata tentu dapat berimbas pada ketertarikan orang untuk membelinya. Dari sini bisa simpulkan bahwa seorang desainer mobil memiliki peran yang cukup vital lantaran karyanya akan menentukan masa depan mobil ciptaannya, apakah mobil tersebut dapat diterima konsumen, ditolak, atau justru malah menjadi karya adiluhung yang revolusioner.
Nah, kita tunggu saja lahirnya manusia-manusia andal di bidang otomotif yang berasal dari ranah Nusantara. (blogkatahatiku.blogspot.com)