14 January 2014

Melamurnya Tren Gigi Emas

Foto: Effendy Wongso
Tren kawat gigi (behel) yang kian disukai oleh masyarakat, khususnya kaum muda memang menjadi fenomena tersendiri. Selain kegunaan sebagai alat memperbaiki posisi gigi, kini behel juga menjadi semacam gaya hidup. Wanita remaja pengguna behel pada umumnya menggunakan benda yang sejatinya untuk "perawatan" gigi tersebut dialihfungsikan ke lain hal yakni sekadar bergaya lantaran mengikuti arus zaman.
Namun di luar itu, ada hal menarik yang hampir luput dari perhatian. Dua dekade yang lalu, sejenis tren aksesoris untuk gigi juga merebak di kalangan masyarakat, yakni gigi emas. “Dulu, orang sangat bangga bisa bergigi emas. Pengguna gigi emas kebanyakan berasal dari daerah,” kata Aping (64), tukang gigi palsu.
Kepada BLOGKATAHATIKU, beberapa waktu lalu, pemilik toko tukang gigi palsu “Cipta” yang beralamat di Jalan Jenderal M Jusuf (dulu Jalan Gunung Bulusaraung) 71, Makassar, menceritakan maraknya pemakaian gigi emas di era 1960 hingga 1980 itu. “Selain gigi emas, mereka juga kerap memesan gigi platina atau perak,” jelas pria yang menekuni usaha turun temurun keluarganya ini.
Seiring bergesernya zaman, urai Aping, kini gigi emas sudah hilang dari ‘pasaran’. Sekarang orang bahkan malu jika menggunakan gigi emas karena terkesan kuno. “Tren gigi emas sudah hilang sama sekali. Orang (pasien) yang datang ke sini hanya untuk pasang gigi palsu biasa,” ujarnya.
Ketika ditanyakan perihal keberadaan tren behel yang merupakan penyebab melamurnya tren gigi emas, pria paruh baya yang masih hidup melajang tersebut mengatakan bahwa bukan hal itu penyebabnya. “Bukan, bukan itu. Kawat gigi (behel) adalah aksesoris sementara ini (gigi emas) adalah bagian dari gigi. Jadi berbeda sama sekali,” papar Aping.
Foto: Effendy Wongso
Sementara itu, dari pantauan BLOGKATAHATIKU, saat ini toko tukang gigi di Makassar bisa dihitung dengan jari. Di Jalan Gunung Lompobattang, Makassar, misalnya, hanya terdapat dua toko yang membidani gigi palsu, dan itu pun merupakan usaha turun temurun keluarga. “Usaha gigi palsu ini sudah dimulai oleh orang tua saya di 1970-an. Pasien yang datang kebanyakan adalah pelanggan lama dan berasal dari daerah seperti Kabupaten Bone,” kata Alfred Sentosa (46), pemilik toko gigi palsu
Senada dengan Aping, Alfred sendiri membenarkan bahwa tren gigi emas sudah hilang, dan sama sekali tidak ada lagi pasien yang datang ke toko gigi palsunya untuk memasang gigi emas tak terkecuali gigi perak.
“Permintaan pemasangan gigi palsu emas memang banyak di 1970-1980-an.Tapi sekarang tidak ada lagi,” ujarnya.
Maraknya penggunaan behel, Alfred melihat hal itu sebagai tren belaka yang mirip “booming” gigi palsu emas pada dua-tiga dekade yang lalu. “Behel dan gigi emas hanya digunakan untuk bergaya, sejauh ini tidak mempengaruhi permintaan pemasangan gigi palsu biasa,” jelasnya.
Namun demikian, diakui Alfred, pasien yang datang ke tukang gigi seperti dirinya memang sudah agak berkurang, tetapi itu bukan lantaran terpengaruh oleh tren behel namun disebabkan faktor lain seperti hadirnya tukang-tukang gigi jalanan dan klinik-klinik gigi yang lebih modern. “Tapi kembali lagi kepada masyarakat. Tingkat kemampuan (beli) orang kan berbeda-beda. Jadi kalau mereka ingin memasang gigi palsu dengan harga yang agak lebih murah, ya biasanya datang ke toko tukang gigi,” ungkapnya.
Untuk harga satu set gigi palsu, Alfred tidak dapat menjelaskan secara rinci sebab bahan-bahan dasar pembuatan gigi palsu itu berbeda-beda. “Satu set (gigi palsu) impor (dari China, Jepang, dan Belanda) itu kurang lebih Rp 2 juta sampai Rp 3 juta, tergantung bahan apa yang pasien inginkan,” katanya.