14 January 2014

MARI MELANTAI DI PASAR MODAL



Foto: Effendy Wongso
Berdasarkan pengalaman, awal 2013 lalu menjadi stimulus bagi investor untuk kembali berinvestasi di pasar modal. Kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada saat itu yang terus menembus rekor baru menjadikan peluang investasi di pasar modal semakin menarik.
Apalagi, di pengujung 2012 lalu, IHSG naik 13 persen dari 3.821 (2011) ke level 4.322. Pencapaian itu membuat pasar saham Indonesia jauh lebih baik ketimbang bursa saham di AS dan Eropa. Selama 2012 pula, nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencapai lebih dari Rp 4.100 triliun. Memang, kinerja sedikit menurun di pengujung 2013 lantaran tergerus pelemahan rupiah. Akan tetapi melihat kondisi ekonomi yang masih solid, di tahun kuda ini, kinerja pasar modal kita masih akan tetap menggigit.
Menyoal kinerja pasar modal yang kian “kinclong” tersebut, Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar menilai anggaran untuk pembangunan infrastruktur Indonesia perlu ditunjang dari pembiayaan di pasar modal. Untuk 2013 lalu, tertutur bahwa alokasi belanja modal untuk pembangunan infrastruktur dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) adalah sekitar Rp 200 triliun.
Tentu hal itu merupakan usulan yang terbilang “patriotik”, di mana para pelaku usaha, paling tidak bisa menunjukkan jiwa nasionalismenya dalam bentuk lain namun beresensi sama. Perwujudan tersebut, seperti dikatakan Mahenda, bisa ditunjang dari kredit pasar modal, serta tak kalah pentinganya adalah terus melakukan perbaikan governance termasuk bursa dan emiten.
Selain political will yang menjadi acuan rasa aman berinvestasi di Indonesia, regulasi yang kondusif serta pemberian insentif agar mudah berinvestasi di pasar modal turut mengerek masuknya modal asing ke IHSG. Tentu ini akan berimbas pula bagi pembangunan di Sulawesi, di mana untuk Sulawesi Selatan (Sulsel) khususnya, arus modal itu akan menggerakkan roda perekonomian yang lain.
Berkembangnya investasi di pasar modal atau lebih dikenal dengan sekuritas mulai mere­bak di Sulsel, khususnya di Makassar, adalah kabar baik bagi investasi secara umum. Sebut saja PT Royal Trust Capital (RTC), PT Indo Premiere Securities, Panin Sekuritas, MNC Securities, dan lainnya.
RTC sendiri merupakan perusahaan sekuri­tas dan anggota dari BEI dengan kode SA, berdiri sejak 18 Juli 2011. Se­bagai pemegang saham utama di RTC, Bosowa Corporation yang merupakan salah satu grup bis­nis terbesar di Indonesia, melalui pasar modal dapat menjadi mesin penggerak ekonomi dengan beragam kegiatan bisnis yang meliputi berbagai sektor seperti infrastruktur, semen, otomotif, properti, perdagangan, dan lain-lain.
Lepas dari itu, tentu kita percaya, semakin banyak instrumen investasi di pasar modal akan menambah daya tarik bagi investor. Apalagi, jika emiten semakin berkualitas, dan memiliki fundamental bisnis yang kokoh, serta dikelola secara transparan dan akuntabel alias memiliki governance yang baik.
Terkait hal itu, kepercayaan terhadap perusahaan-perusahaan yang memperdagangkan saham di bursa efek tentu akan semakin meningkat. Ini penting, karena dapat menjadi landasan bagi perkembangan bursa efek yang solid dalam jangka menengah dan panjang. Dalam konteks ini, manajemen BEI harus terus menerus berupaya meningkatkan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia, antara lain dengan menjaga kualitas emiten yang sahamnya diperdagangkan di lantai bursa.
Salah satu upaya yang dilakukan dengan terus menerus mengeluarkan saham (delisting) yang dianggap tidak memiliki kinerja baik dan tidak aktif diperdagangkan alias saham tidur, tentu saja patut terus dilanjutkan. Selain memicu emiten untuk senantiasa berusaha agar saham-sahamnya aktif melalui berbagai aksi korporasi yang menarik, langkah manajemen BEI ini juga meningkatkan keyakinan bagi investor bahwa emiten di lantai bursa semakin hari semakin baik.
Tak kalah penting adalah upaya menegakkan aturan agar governance di perusahaan juga semakin meningkat. Ini penting untuk mengurangi potensi kerugian investor, agar tidak terkecoh dengan perusahaan yang rapuh, yang pada akhirnya akan menjadi nila setitik yang merusak susu sebelanga. (blogkatahatiku.blogspot.com)