26 January 2014

MAINAN ANAK TAK TERGERUS PERUBAHAN POLA

Foto: Effendy Wongso
Maraknya permainan anak elektronik melalui media digital saat ini, paling tidak telah mengubah tren permainan anak secara masif. Hanya melalui media smartphone atau tablet misalnya, anak-anak sudah bisa bermain game digital yang sebelumnya dianggap bonafide pada era 1980-an hingga 1990-an.
Pemilik Istana Game Elektronik, Linda Phoa, saat ditemui beberapa waktu lalu di tokonya, di Jalan Wahidin Sudirohusodo, Makassar, mengatakan industri mainan anak sesungguhnya tidak terlalu bervariatif. Hal tersebut pulalah yang menjadikan bisnis di bidang ini berjalan cukup lancar dan tidak mengalami pola pergeseran minat.
“Game-game yang kami jual dari dulu ya seputar itu-itu saja, bola dan adventure. Jika pun ada tren yang berkembang, hanya tampilan saja yang diganti tetapi tetap pada tematik kedua permainan itu,” jelas wanita yang telah sepuluh tahun menjual peranti permainan elektronik anak ini.
Ketika ditanya menyoal tergerusnya pangsa pasar game elektronik seperti Playstation dengan banyak permainan lewat internet, baik melalui telepon seluler seperti smartphone ataupun tablet, Linda menjelaskan bahwa “pasar” kelas menengah ke bawah belum terlalu terasa. Ini juga dapat dilihat dari peranti permainan yang dijualnya, yang berada pada kisaran harga Rp 1 juta ke bawah. Bahkan “game tangan” yang dijualnya rata-rata dibanderol murah dan terjangkau dengan kisaran harga Rp 100 ribu.
“Kebetulan kami memang bermain di segmen menengah ke bawah sehingga belum merasakan pola pergeseran pengguna ke arah alat (peranti) mahal,” tandasnya.
Sebelumnya, pemilik toko aksesoris dan mainan anak, Favorit, yang ditemui di Jalan Masjid Raya, Watampone, Sulsel, mengungkapkan bahwa usaha mainan anak tak mengenal musim. Dijelaskan, anak-anak memiliki psikologi yang stabil, di mana dalam memilih objek mainannya mereka tidak terlalu rewel dan mementingkan tren.
“Dari dulu mainan standing character seperti tokoh Batman atau Spiderman tetap diburu. Boneka Barbie juga begitu. Sejak kami menjual mainan di era 1980-an sampai sekarang, tokoh-tokoh kartun ini tetap menjadi favorit,” ungkapnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)