10 January 2014

MAAFKAN AKU

Oleh Effendy Wongso

PROLOG

“Ada apa, Jabrik?”
“Hm, anu… tolong tanda tangannya, Kak.”
Cowok itu membeliak dengan mata sebesar bola pingpong. Ditatapnya dalam-dalam gadis dengan wajah yang tercoreng-moreng arang. Mirip Indian dari etnis anglo-saxon yang nyasar ke sekolah. Rambut pendeknya kusut, diikat sepasang pita dari tali rafia.
“Apa?!” Cowok itu menghardik kasar. “Minta tanda tanganku?! Hei, Jabrik! Tahu tidak, jangankan tanda tangan dari aku, setitik tinta dari balpoin Parker-ku yang lebih mahal dari selembar nyawamu ini pun tidak pantas buat kamu yang ‘miskin’ itu! Lihat tampangmu yang amburadul. Pergi, pergi sana!”
Gita menangis. Sungguh, seumur hidup dia tidak pernah dihina serendah itu. Dia berlari, menyimpan dendam yang tidak bakal dia lupakan sepanjang hidupnya.

***

Foto: Effendy Wongso
Endapan amarah yang selama ini mengental telah meledak-ledak. Laharnya berupa kalimat yang sungguh tidak proporsional di gendang telinga. Tentu bukan merupakan hal yang terencana. Atau semacam dialog skenario yang sering dilafalkannya pada mata pelajaran seni drama di sekolah. Tentu saja semuanya bukan!
Satu dari sepuluh kejadian, mungkin lebih dari sepuluh, mungkin juga kurang. Entahlah. Yang pasti dari sekian banyak kejadian miris yang dia alami, hanya satu saja yang dia hapal benar dan simpan baik-baik di lubuk hatinya sehingga ‘kenangan’ itu tidak bakal dia lupa sampai beruban emas sekalipun.
Dia terkikik tanpa suara, berusaha menguncupkan bibir setipis-tipisnya. Tentu saja. Dia tidak ingin dianggap tidak serius dengan amarahnya kali ini. Kalimat hati yang dia dengungkan sendiri tadi tentang ‘uban emas’ memancing hormon tawa hingga hampir menyeruak. Huh, selalu saja begitu. Nyaris dia memalukan diri sendiri. Memangnya makhluk apa yang dapat marah meledak-ledak serupa meriam bambu lalu sepersekian detiknya lagi terkekeh-kekeh seperti hantu gaul.
Dasar!
“Salah satu ciri-ciri jodoh adalah berasal dari ketidakcocokan. Lalu ketidakcocokan itu akan ‘nyambung’ setelah kedua belah pihak, antara cowok dan cewek itu menyatukan pendapat yang berbeda. Mengambil hikmahnya. Jadi….”
Dia tak menggubris. Tetap saja memasang wajah angker. Namun sialnya, wajah angkernya itu tidak seseram dalam film-film horor sehingga cowok berwajah bayi itu malah terbahak. Lebih menganggap dia sedang berada di depan panggung Srimulat ketimbang di kuburan keramat.
“Kamu lucu….”
Tidak ada tanggapan sama sekali untuk seruan cowok bertubuh atletis di hadapannya. Hanya terdengar dengusan yang tidak berirama dari hidungnya sebagai reaksi. Sunggingan senyum bagusnya pun disambut hambar. Dia berlipat tangan. Berdiri seperti manekin. Sesekali melirik mata ekuator itu. Tentu saja secepat cahaya. Dihindarinya bersirobok mata. Tidak ingin dianggap tidak serius kali ini.
Hei, ada apa dengan dirinya? Bukankah ini kesempatan untuk melampiaskan unek-unek? Tapi, kenapa sampai bimbang begini. Seolah bibirnya digembok. Tentu bukan hal yang bagus. Padahal, kesempatan untuk melakukan pembalasan tidaklah gampang. Soalnya, momen tersebut seperti komet Halley yang sekali melanglang buana selama belasan tahun sekali.
Seperti cerita film Meteor Garden saja. No way. Dia tidak ingin jatuh cinta pada musuhnya. Seperti Shancai pada Taoming Se. Lagipula, dia memang bukan Shancai. Apa-apa juga tidak mirip sama Shancai. Rambutnya saja beda, kok. Satunya panjang sepinggul bak mayang melambai, satunya stil shaggy semodel ijuk. Jadi, apanya yang sama?! Lagian, cowok ceking itu juga tidak mirip Taoming Se. Ditambah lagi, kisah perseteruannya dengan Hasbi Al-Farouq sangat jauh dari mirip romantika di bawah hujan meteor yang kondang itu.
Sebal.
Teman-temannya malah sudah mewanti-wanti. Katanya, benci itu pangkal dari cinta. Huh! Amit-amit jabang baby, deh! Orang sejelek itu siapa juga yang mau. Katanya sih, cowok model. Model apaan? Model topeng monyet di Kampung Rambutan mah, iya!
Tapi, kalau mau dibilang tidak mirip-mirip amat sih juga tidak benar. Soalnya cowok itu tajirmeski tidak setajir putra tunggal direktris Taoming Feng dalam film Meteor Garden. Dan, hei, bukankah diaGita Charini, berasal dari keluarga biasa-biasa saja? Iya sih, tapi tidak miskin-miskin banget seperti keluarga Shancai yang terdiri dari tiga wayang itu. Yang apa-apa juga selalu kekurangan kecuali keharmonisan dan kebahagiaan keluarga, dan sekali-sekali kebanyolan yang menjadi bumbu romantika sehari-hari.
Kalau dari struktur wajah sih dia lebih rela disebut mirip Ye Sha. Meski bagai pinang dibagi sepuluh, toh rambut mereka sama-sama pendek. But, sudahlah. Sangat tidak etis membandingan dia dengan Ye Sha. Atau, sesuatu yang berhubungan dengan Meteor Garden segala macam.
“Kamu masih marah, ya?”
Tentu saja sedang marah. Bahkan lebih dari marah. Gadis itu mengumpat dalam hati. Kedongkolannya bertumpuk. Cowok itu tidak pernah serius. Semuanya ditakar dalam kacamata gampang. Memangnya hati bisa ditawar-tawar apa?! Sejak zaman kuda gigit besi sampai kuda gigit burger cowok itu selalu menyepelekan masalah. Dia pikir, dengan uang segalanya beres.
“Padahal, saya mau ngasih sesuatu ke kamu.”
Nah, ini. Ini! Dia pikir, semua cewek itu matre. Bisa dibujuk rayu dengan seperangkat imbalan.
“Kamu ultah hari ini, kan?”
Oh, Heaven!
Dia sendiri sampai lupa kalau hari ini merupakan hari jadinya. Tapi, tiap tahun juga dia tidak peduli dengan hari kelahirannya. Untuk apa diingat-ingat?! Gadis yang terlahir dalam keluarga sederhana seperti dia kebanyakan juga tidak pernah merayakan ultah. Mana ada duit untuk berhura-hura seperti sebagian anak yang terlahir dengan predikat ‘the have’. Mungkin karena merasa segalanya mudah dan apa-apa gampang, mereka selalu menganggap orang-orang kecil dapat ditindas.
Dan muasal kebenciannya terhadap Hasbi, anak sepasang pengusaha kaya, adalah karena hal itu tadi. Dia dijadikan obyek permainan murahan. Siapa yang tidak sakit hati coba kalau dirinya dianggap barang murahan!    
Seumur hidup dia tidak akan dapat melupakan kejadian yang paling menyakitkan hatinya itu.
Tidak akan!

***

Gita memandang wajah tirus di sampingnya dengan mimik selidik. Bukan kali ini saja Tiara ngomporin untuk baikan dengan cowok itu. Tapi sudah berkali-kali sampai kadang-kadang dia menyangka sobat kentalnya itu sedang menawarkan produk asuransi padanya. Tentu ada maksud terselubung kalau gadis itu sudah ngotot begitu.
Namun, tentu saja cewek tomboi itu menolak tanpa syarat. Titik. Tidak ada sepatah kalimat pun yang pantas dibicarakan kalau sudah menjurus pada cowok blaster Arab itu. Bukankah dia sudah bersumpah untuk tidak pernah memaafkan orang yang pernah menyinggung harga dirinya?! Jadi sekarang, mana mau dia mencoret nama Hasbi Al-Farouq dalam DOTDaftar Orang Tercela di hatinya?!
Dan sekarang gadis itu berkicau lagi. Setiap hari dia datang dengan ulahnya yang seperti Nenek Cerewet. Berusaha mencairkan kebenciannya terhadap Hasbi. Bah, melanggar sumpah adalah dosa hukumnya! Jadi, sedini mungkin ditampiknya rayuan pulau kelapa Tiara meski kibasan pelepahnya sejuk membuai.
“Pada hakekatnya manusia kan bisa berubah. Jadi, Hasbi pun pasti telah berubah,” jelas gadis berdagu lancip sembari menelengkan kepala, menatap penuh harap.
“Mungkin dia dapat berubah. Tapi, hatiku tidak!” Gita mengultimatum.
“Sampai kapan kamu dapat menyimpan dendam?”
“Sampai dunia kiamat!” pekik Gita sembari memutar tumitnya, siap meninggalkan Tiara yang masih melongong diomeli begitu.
“Eit, tunggu, Git!” Tiara menarik lengan Gita, menggebah kehendaknya yang tidak sehat. Lari dari masalah!
“Ada apa lagi, sih?” Gita melotot.
“Percaya sama aku. Dia bukan Hasbi yang dulu lagi….”
“Syukurlah kalau begitu. Paling tidak, aku tidak akan pernah melihat lagi kelakuannya yang minus tiga derajat di bawah nol.”
“Hihihi. Memangnya kulkas apa, tiga derajat di bawah nol?”
“Sudah, deh. Aku mau ke perpustakaan. Jangan ganggu aku lagi.”
“Git, Git. Tunggu. Jangan cengeng begitu, dong. Hasbi kan sudah minta maaf. Sampai kalimat maaf keberapa juta kali baru kamu dapat memaafkan dia, sih?”
Gita bertolak pinggang seperti wayang golek. Untung suasana di persimpangan koridor antara aula utama dan perpustakaan sedang sepi. Jadi siang itu mereka tidak usah mengadakan ‘pertunjukan’ dadakan dengan penonton yang semuanya berseragam putih abu-abu. Soalnya, akting ngotot Tiara yang kepingin menyadarkan sahabat karibnya itu selalu ditingkahi dengan gerakan tubuh serupa ludruk. Heboh sekali!
“Tia, kenapa sih kamu ngotot aku baikan sama si Burung Hantu itu?!”
Tiara terkikik. “Kalau dia burung hantu, kamu pasti….”
“Jangan bercanda!”
“Siapa yang bercanda. Aku serius. Hasbi itu baik.”
“Kamu sudah kena sirep dia!”
“Hihihi. Kamu lucu….”
Gita mencibir. Kembali mencoba melangkah menuju gedung perpustakaan. Dikibaskannya tangannya dengan rupa mencemooh.
“Padahal, apa kamu sudah tidak ingat, kamu pernah dikerjain sama dia sampai nyaris sekarat. Heh, sekarang malah belain dia. Apa bukan karena diguna-guna namanya kalau kamu dapat berubah tiga ratus enam puluh derajat begitu?”
Tiara masih terkikik. “Di zaman tiga dimensi ini kamu masih percaya dunia klenik dan sejenisnya?!”
“Ka-kamu… ah, sudahlah!”
“Git, Git. Dengarin aku. Sebegitu jahatnyakah Hasbi hingga kamu menyimpan dendam kesumat begitu?”
“Dianya yang kebangetan!”
“Itu kisah lama, semasa kita MOSMasa Orientasi Siswa. Masa sih kamu masih membencinya? Aku saja yang paling jadi korban tidak mengingat-ingat kejelekan dulu dia, kok.”
“Itu karena kamu lembek. Disogok semangkok mie pangsit saja sudah tergugah. Manut seperti pitik.”
“Duh, sebegitunya!”
“Tentu saja. Buktinya kamu ngotot belain dia. Bawa-bawa upeti segala macam.”
“Astaga, Git. Kamu ini sudah kebangetan,” Tiara mengacungkan sebuah kado mungil berpita pink bergambar Mickey Mouse. “I-Ini pun tidak kamu hargai?! Oh, Gita-Gita. Jangan tanya kalau kenapa aku sampai ngotot sampai nyaris gokil begini!”
“Memangnya aku pikirin?!”
“Dengarkan aku, Git. Berjuta-juta kalimat maaf dari dia. Kemudian kado very nice ini. Duh, isinya apa, ya? Hm, mungkin kalung berlian. Anting-anting emas dua puluh empat karat. Bros mawar batu rubi. Atau, hei… cincin meteor seperti punya Shancai! Atau…. ah, aku sebal deh sama kamu. Maumu apa, sih?!”
“Mauku cuma satu. Please… Heaven! Jangan ganggu aku lagi!” Gita berteriak sembari berjingkrak. Lebih mirip penyanyi rock ketimbang gadis yang sedang marah.
“Ta-tapi….”
“Tidak ada tapi-tapian. Pokoknya, aku tidak mau diganggu lagi sama si Burung Hantu itu! Titik! Seru!”
“Ta-tapi, dia ingat ultah kamu, kok. Aku saja lupa kalau kamu berulang tahun kemarin.”
Gita tak mengacuhkan kalimat yang nyaris meruntuhkan pertahanan kekerasan hatinya. Sumpah, demi langit dan meteor-meteornya, dia tidak ingin melanggar apa yang telah diucapkannya dulu! Dilangkahkannya dengan paksa kakinya meski Tiara masih mencengkeram lengannya. Satu kibasan keras tidak sengaja dari tangan kanannya menghempaskan sesuatu dari tangan Tiara.
Kado mungil itu terpental dan jatuh di lantai. Tiara menggigit bibir. Gambaran kebencian gadis itu belum pupus. Hatinya masih sekeras tembok. Dia gamang.
Gita memutar tumit. Melangkah cepat, menghindari sahabatnya yang masih tercenung mengamati kado mungil yang tergeletak di lantai. Dan ketika menjauh, airmatanya berlinang tanpa terasa. Dia merasa berdosa masih menyimpan dendam yang kian hari kian menyiksa batinnya itu.
Mungkin dia harus belajar memaafkan. Dan ikhlas menerima kenangan pahit dulu sebagai bagian dari masa lalu. Toh semua manusia tak luput dari kekhilafan.
Ya, dia harus berusaha untuk itu.
“Maafkan aku, Hasbi!” bisiknya lirih. (blogkatahatiku.blogspot.com)