23 January 2014

LOW COST GREEN CAR

AMPUH DI KELAS BAWAH

Foto: Effendy Wongso
Mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) kini menjadi tren otomotif di Tanah Air. Mobil yang mengusung fitur ramah lingkungan ini sudah mulai banyak dilirik konsumen, di mana para produsen mulai menambang keuntungan dari model yang mereka sodorkan.
Astra Daihatsu Motor (ADM) misalnya, yang telah memulai sepak terjangnya dengan melempar mobil murah mereka, Ayla, ‎terbilang sukses.‎ Sejak diluncurkan September 2013 barusan hingga sekarang, telah tercatat 2.300 unit Ayla yang terserap di pasar nasional.
Kehadiran mobil-mobil yang sebenarnya menyasar kelas bawah tersebut telah menjadi primadona. Para agen tunggal pemegang merek (ATPM) mengaku terus kebanjiran pesanan. Toyota dengan mobil murah Agya misalnya, sejak diperkenalkan di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2013 yang berlangsung pada Sebtember tahun lalu di Jakarta, sejak peluncurannya pada Senin (9/9/2013) hingga kini telah mengantongi pesanan sebanyak 15 ribu unit.
Dari data yang dilansir Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), tepat di hari perdana meluncur, dalam waktu tiga jam Agya mampu terjual 1.547 unit. Ini belum termasuk yang masih dirahasiakan jumlah pemesannya di perhelatan IIMS 2013 lalu.
Memang, industri otomotif Indonesia bisa dikatakan tengah mengalami euforia sejak semester kedua 2013 lalu. Bagaimana tidak, produsen mobil mulai fokus untuk meluncurkan mobil LCGC. Dalam beberapa saja di tahun yang sama, tiga jenis mobil murah telah diluncurkan di antaranya Daihatsu Ayla, Toyota Agya, dan Honda Brio Satya. Sementara itu Nissan pun tak mau ketinggalan dengan mengeluarkan produk sejenis yang diberi merek Datsun, sedangkan Suzuki tak tinggal diam dan mengeluarkan jenis produknya yang tak kalah gemerlapnya. Dengan demikian, itu berarti persaingan mobil murah bakal sengit.
Mobil murah akan mengisi segmen city car atau mobil perkotaan, berdasarkan data Gaikindo, segmen ini akan terus meningkat, di mana potensi pangsa pasarnya pun sangat potensial. Seperti yang dilansir, rata-rata setiap bulannya city car terjual 5.136 unit. Sepanjang Januari-Juli 2013 lalu, total mobil tipe ini terserap pasar sebanyak 35.957 unit. Jumlah tersebut memang masih jauh dibanding segmen paling primadona saat ini, yaitu low multipurpose vehicle (MPV) yang terjual sebanyak 228.788 unit.
Keampuhan strategi bermain di kelas menengah bawah tersebut dapat dilihat dari hasil pemesanan Toyota Agya yang dibanderol antara Rp 99 juta hingga Rp 120 juta. Dari produksi maksimal 15 ribu unit sampai akhir tahun ini, pihak Toyota mengaku masih kewalahan menerima permintaan pasar yang membeludak. Sama halnya Toyota Agya, produsen seatapnya, Daihatsu Ayla, saat resmi diluncurkan pemesannya sudah tembus lebih dari 15 ribu unit. Bahkan selama 11 hari di ajang IIMS 2013 lalu, konsumen yang memesan Ayla mencapai 343 unit, di mana mobil ini dibanderol antara Rp 76 juta hingga Rp 99 juta.
Sementara itu, produk Honda, Brio Satya yang diusung sebagai mobil murah diklaim memiliki konsumen “inden” yang sudah antre dengan dua ribu unit. Dalam sepekan IIMS 2013, Honda mengaku sudah menerima pemesanan sebanyak 500 unit, di mana mobil berlogo bunga melati ini dibanderol dengan harga kompetitif, antara Rp 106 juta hingga Rp 117 juta.
Meski meningkat, namun “slot” mobil di bawah harga Rp 120 juta memang belum banyak. Terus terang, segmen ini pun belum terisi penuh dan kalaupun ada, selama ini pasar tersebut hanya diisi mobil buatan China. Namun, masalahnya, “image” produk asal Negeri Tirai Bambu ini masih kurang bagus di pasaran Tanah Air, khususnya kualitas serta pada layanan purnajualnya.
Akan tetapi, begitu mobil murah harga di bawah banderol Rp 120 juta hadir mengusung merek Jepang, maka masyarakat dipastikan bakal tergiur dan menjadi konsumtif, yang dengan sendirinya akan melebarkan sayap produsen mobil jenis ini. Pasalnya, harga city car menjadi terjangkau lantaran termasuk mobil “murah”. Lagipula, konsumen kelas bawah yang baru membeli mobil untuk pertama kalinya atau yang beralih dari sepeda motor ke mobil, pasti akan melirik mobil jenis ini.
Dari lansiran Gaikindo, sebelumnya penjualan low MPV seperti Avanza, Xenia, Ertiga, dan Spin sudah banyak diminati konsumen. Pasalnya, harganya masih bermain di kisaran Rp 150 juta hingga Rp 200 juta. Selain soal “price”, mobil-mobil MPV juga dapat mengangkut penumpang lebih banyak dengan maksimal tujuh penumpang. Keunggulan itulah yang sebenarnya membuat segmen low MPV jadi “lahan gembur” bagi produsen mobil.
Menyimak “pertarungan” yang kian kompetitif di segmen “low-end user”, maka sekarang situasi industri otomotif di Indonesia sudah semakin panas. Dengan banyaknya ATPM meluncurkan model-model terbaru, khususnya mobil murah, maka hal tersebut pun mengundang tanda tanya. Sejauh mana kualitas yang selama ini menjadi usungan para produsen mobil tersebut?
Atau, jangan-jangan dengan hilangnya “high price” tersebut justru akan mengurangi unsur-unsur yang dianggap urgen dalam struktur otomotif. (blogkatahatiku.blogspot.com)