17 January 2014

LOVE IN REINCARNATION 05

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Foto: Effendy Wongso
Lewat jendela pesawat, Amelia menikmati noktah-noktah serupa bintang yang mulai menjajar rapi di bahu landasan Beijing Capital International Airport. Petang menjelang malam telah menangkup di kota tua Beijing. Rasanya waktu berjalan sangat lambat. Ia ingin segera merampungkan tugas jurnalistiknya ke China agar dapat segera bertemu kembali dengan Ronald. Heran. Mendadak ia takut kehilangan Ronald. Ia cemas dengan perpisahan yang akan menyita waktunya selama seminggu di negeri orang ini. Semalam-malaman ia hanya dapat mengenang Ronald yang sebenarnya sudah dikaguminya sejak lama. Entah dari mana datangnya keberanian itu. Tiba-tiba cowok itu datang dan memeluknya sesaat sebelum berangkat. Dan mengatakan tiga patah kata yang selama ini selalu dinanti-nantikannya.
Ia menggigit bibir. Suhu udara di atas permukaan kota naga itu tidak terlalu ramah baginya. Termometer temperatur digital di atas kabin menunjuk angka tiga belas derajat celsius. Awal musim semi di Negeri Tirai Bambu itu pasti akan mengembuskan udara yang tidak terlalu jauh berbeda dengan suhu di dalam pesawat. Ia menggigil kedinginan. Merapatkan jaketnya sampai kerahnya menutupi dagu. Semenit lagi pesawat pasti sudah menjejaki negeri asal moyangnya beranak pinak. Diliriknya seat sebelah. Si Gentong Nasi itu masih mendengkur seperti biasa.
Tidak lama kemudian terdengar gerus roda pesawat yang menyentuh landasan.
“Welcome to China,” sambut seorang gadis, menyalaminya saat Amelia dan Jennifer, yang masih mengantuk, masuk ke ruang terminal kedatangan luar negeri.
“Thank you,” balas Amelia ramah, sedikit membungkukkan badannya. Santun mengikuti gerak gadis berambut ekor kuda yang sudah berkali-kali membungkukkan badannya. “Ni hao?”
Gadis dari pihak travel yang dihubungi pihak sekolah Amelia dan Jennifer di Singapura terkesiap. Selembar kertas kardus putih yang bertulisan “Amelia Hong and Jennifer Chan from Singapore” nyaris jatuh ke lantai dari tangannya.
“Hei, you can speak Chinesse?”
“Tidak terlalu lancar.”
“Baguslah. Kalau begitu saya dan Anda berdua berbahasa Mandarin saja. Biar lebih nyambung.”
Amelia dan gadis guide itu tertawa. Mereka berdialog dalam bahasa Mandarin, mayoritas penduduk Singapura adalah peranakan China, dan sebagian memang masih bisa berbahasa Mandarin setelah bahasa Inggris sebagai bahasa nasional mereka. Setelah mengambil koper-koper di rel package, mereka melanjutkan perjalanan ke hotel dengan menggunakan minibus yang sudah disiapkan oleh pihak travel di Beijing. Jennifer masih terkantuk-kantuk. Dan ia menguap berkali-kali sebelum tertidur kembali di dalam minibus travel.
Dari bandara yang berjarak kurang lebih dua puluh enam kilometer ke pusat Kota Beijing, minibus travel tumpangan Amelia sesekali melewati jalan-jalan protokol yang masih menghadirkan bangunan-bangunan lama khas China di kiri-kanan bahu jalan. Gadis guide yang bernama Siu Ing itu terus menjelaskan dengan bangga bangunan-bangunan bersejarah dan ihwal berdirinya beberapa dinasti besar di sana.
“Itu,” tunjuknya ke sebuah lapangan besar yang dipenuhi rimba manusia. “Anda pasti sudah tahu, Nona Amelia. Lapangan serta bangunan di dalamnya sudah melegenda sejak peristiwa tragis yang merenggut ribuan nyawa mahasiswa pendemo di era delapan puluhan.”
“Tiananmen!” Amelia menyalib, menjawabi nama sebuah lapangan besar dengan gambar seorang tokoh negarawan China yang terpampang besar-besar di dinding bangunannya. Dari mata pelajaran sejarah di sekolah, ia memang kerap diajarkan sejarah politik dan kebudayaan negara-negara lain. China adalah salah satunya. Dan Tiananmen merupakan salah satu fitur yang banyak mendapat sorotan dunia setelah pembantain mahasiswa oleh rezim yang berkuasa pada saat itu.
“You got a right, Miss Amelia,” Siu Ing mengangguk-angguk. “Nama lapangan besar itu memang benar, Tiananmen. Di dalam istana itu pulalah kaisar terakhir China, Pu Yi bertakhta, sampai masuknya ideologi baru yang bernama demokrasi menggantikan monarki di China. Toh pada akhirnya juga tergantikan lagi oleh ideologi lain, sosialisme.”
“Wah, perfect,” kagum Amelia dengan rupa cerah meski kelelahan masih meronai wajahnya setelah melakukan perjalanan panjang Singapura-Beijing dengan pesawat udara. Imajinasinya langsung merekam beberapa obyek wisata dan kebudayaan yang bakal dikunjunginya bersama Jennifer nanti.
“Selain bangunan-bangunan bersejarah, China juga menyimpan banyak kebudayaan kuno lama.”
“Apa itu, Kak Ing?”
“Ya, di antaranya adalah historis dinasti-dinasti kuno China.”
“Great!” Amelia menjentikkan jarinya. “Itulah tujuan kami kemari!”
Siu Ing tersenyum menanggapi keceriaan visitornya. Minibus travel kini sudah hampir tiba di hotel tujuan ketika berhenti di perempatan traffic-light yang sedang menyala merah. Amelia memandang terkagum-kagum pada masyarakat Beijing yang masih banyak menggunakan transportasi sepeda.
Seperti memahami pikiran visitornya, Siu Ing menjelaskan musabab ramainya pengguna kendaraan sederhana kayuh angin tersebut.
“Sepeda merupakan kendaraan tradisional masyarakat China pada umumnya.”
“Lucu juga, ya? Padahal, biasanya kalau yang namanya perkotaan kan sepeda sudah ditinggalkan kecuali untuk fungsi olahraga semata.”
“Nah, itulah uniknya Beijing.”
“Kenapa?”
“Mungkin sudah menjadi darah-daging masyarakat China kalau bersepeda punya andil yang besar dalam menyehatkan tubuh. Terutama untuk organ jantung. Nah, Nona Amelia lihat sendiri. Tidak sedikit di antara mereka adalah pegawai kantoran. Bahkan beberapa di antaranya adalah manajer sebuah perusahaan besar.”
Amelia menyimak takzim lewat kaca jendela minibus travel. Memang benar apa yang dikatakan gadis guide itu padanya. Ia melihat beberapa laki-laki yang sedang mengayuh sepeda itu menggunakan dasi dan membawa tas kulit mengkilap. Pasti mereka adalah pegawai kantoran yang tengah pulang kerja.
“So, inilah Beijing Nona Amelia!”
Di akhir kalimat tadi, Jennifer yang masih tertidur mendengkur cukup keras sehingga menyeruakkan tawa Amelia. Siu Ing mengekori tawa Amelia. Diikuti oleh sopir separo baya minibus travel yang melirik mereka lewat kaca spion tengah, yang kini juga sudah menancap lembut pedal gas setelah lampu menyala hijau.
“Besok kita akan memulai perjalanan avonturir. Jadi, saya akan menjemput Nona Amelia dan Nona Jennifer pagi-pagi sekali. Kurang lebih jam delapan setelah breakfast. Nona berdua akan bergabung dan ikut rombongan tur dari Manila yang akan tiba malam ini juga.”
Amelia mengangguk tepat ketika minibus travel mereka memasuki pelataran Hilton International Hotel.  (blogkatahatiku.blogspot.com)