20 January 2014

LOVE IN REINCARNATION 14

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Foto: Effendy Wongso
Pertukaran tawanan yang melibatkan ratusan ribu prajurit Dinasti Yuan telah berakhir. Strategi pelumpuhan pemberontak barbarian Mongol yang menawan Putri Yuan Ren Xie telah berhasil dilakukan tanpa melukai korban. Kaisar Yuan Ren Qing memang telah menyiagakan panglima serta prajurit-prajurit terbaiknya sejak lima malam lalu. Ribuan prajurit dari divisi danuh sudah melesatkan anak-anak panah berbisa dari busur-busur yang ditembakkan ke arah barbarian Mongol seusai melepaskan putri kaisar tersebut. Komitmen untuk menukar Tuan Putri dengan ribuan tawanan Mongol ternyata diingkari oleh kaisar, yang lebih memilih membinasakan semua tawanan dan beberapa ribu prajurit Mongol dari Kamp Ulan Bator.
Amelia terpaku di tempatnya berdiri. Kerongkongannya perih. Tubuh-tubuh tak berdaya dan tampak bergelimpangan di tanah. Dan ia menjerit histeris ketika mendapati sesosok tubuh yang sudah diakrabinya itu tertancap sebilah anak panah tidak jauh dari tempatnya berada.
Amelia berlari. Menyambut tubuh yang limbung dan ambruk ke tanah tersebut. Dipeluknya erat-erat pemuda yang tengah sekarat itu dengan airmata menderas. Dan sesekali mengelus-elus dan membersihkan debu dari wajah pemuda itu.
“Ti-tidak….”
“Maafkan aku, Khe Khe. Aku tidak dapat menyertai dan mengawal Khe Khe.”
“Ja-jangan….”
“Mungkin pada kehidupan berikutnya kita dapat bertemu kembali. Aku akan menanti Khe Khe sampai kapan pun juga!”
Pemuda itu mengembuskan napas terakhir setelah meletakkan seuntai gelang tasbih kayu cendana ke telapak tangan Amelia. Amelia limbung. Dan jatuh ke tanah tak sadarkan diri sesaat sebelum Kaisar Yuan Ren Qing beserta pasukan dan armada perangnya yang besar menjemputnya kembali ke istana.

***    

EPILOG

Aku terjaga dengan dahi memeluh. Napasku tersengal-sengal. Kali ini kurasakan ada godam yang menghantam dadaku. Gulita masih pula mengepungku. Gelap. Gelap sekali.
Kucoba mengerjap-ngerjapkan mata. Atmosfer masih menghadirkan nuansa yang sama. Ada wangi pengharum serupa setanggi ladan di salah satu sudut ruang yang menyeruak menusuk-nusuk hidungku. Samar di sudut sana, ada sepasang guci besar bergambar naga dan hong  penghias ruang  kamar di mataku. Ada seperangkat fasilitas perabot khas China. Namun semuanya samar. Ya, samar. Karena mimpi-mimpi tadi masih menyeretku ke dalam tanda tanya.
Oh, my God!
Aku tidak ingin terus-menerus di dalam alam enigma begini. Sungguh, aku tidak ingin berada dan tersesat lagi di dalam labirin tanpa jawab.
Aku masih berada di salah satu kamar hotel di Beijing.
Untuk ketiga kalinya aku bermimpi tentang maharana dan tragedi kemanusiaan di masa lampau. Kuhela napas panjang. Besok aku dan Jennifer akan meninggalkan Beijing. Pulang ke Singapura. Berkumpul kembali dengan keluarga dan teman-teman sekolah setelah merampungkan tugas moral yang kami emban atas nama peradaban dunia.
Ah!
Aku menggeleng.
Apakah mimpi-mimpiku itu mungkin hanyalah merupakan rangkaian metafora moral yang seperti sengaja diturunkan dari langit untukku.
Entahlah.
Aku mengusap wajah. Sesaat terlonjak kaget ketika dua deringan telepon di meja samping tempat tidur terdengar memekakkan telingaku. Kuangkat gagang telepon dengan gerak lunglai pada deringan yang ketiga.
“Selamat malam. Kami dari resepsionis. Maaf, mengganggu istirahat Anda. Maaf, dengan Nona Amelia Samantha Hong?
“Iya, saya sendiri. Ada apa, ya?”
“Maaf, Nona Amelia. Seseorang dari Singapura hendak berbicara dengan Anda. Boleh?”
“Boleh.”
“Silakan menunggu sebentar, Nona Amelia. Kami akan sambungkan dengan line telepon kamar Anda.”
“Baik.”
“Terima kasih, Nona Amelia. Selamat malam.”
“….”
“Halo, A Mei?”
“Ya. Hm, maaf. Anda siapa, ya?”
“Hei, sombong kamu sekarang, ya? Mentang-mentang….”
“Ya ampun! Ro-Ronald?! Kok, bi-bisa sih kamu nelepon kemari?!”
“Kenapa, memang? Tidak suka, ya? Atau, aku mengganggu, ya?”
“Bu-bukan begitu….”
“Surprais! Hahaha… apa kabar, A Mei?”
“Baik.”
“Bagaimana? Kerasan di Beijing, ya?”
“Ya, lumayan. Kamu sendiri bagaimana?”
“I’m fine.”
“Syukurlah. Eh, kamu tahu dari mana kalau kami menginap di hotel ini?”
“Dari guru-guru di sekolah.”
“Ya, ampun. Sampai sebegitunya menguntitku. Wah, kamu juga bela-belain telepon internasional. Eh, pulsanya mahal sekali lho, Ron.”
“Never mind, deh. Kan, Cuma sesekali.”
“Sesekali sih sesekali. Giliran bayar tagihan telepon nanti, bisa-bisa kamu kena gampar sama orangtua kamu. Eh, memangnya kamu telepon via apa? Telepon rumah, ya?”
“He-eh.”
“Wah, gawat. Ingat lho, Ron. Jangan salahkan aku ya, kalau tagihan telepon rumah kamu membengkak. Jangan gara-gara aku kamu diomelin habis-habisan sama orangtua kamu, lho?”
“Beres. Ini semuanya atas inisiatif aku sendiri, kok. So, don’t worry lah.”
“Hehehe… hm, ada apa, Ron?”
“Hm, tidak apa-apa. Cuma kangen saja sama kamu.”
“Ka-kangen, kangen katamu? Hei, sejak kapan kamu belajar menggombal?”
“Hm, sejak kapan ya?”
“Belajar dari siapa, sih?”
“Otodidak.”
“Hahaha….”
“Bagaimana perjalanan tugas kamu dan Jennifer? Lancar?”
“Everything it’s all right saja. Yah, meski capek sedikit, tapi menyenangkan, kok.”
“Yeah, I will hope begitu.”
“Same lah.”
“Eh, A Mei. Tahu tidak, tiga hari belakangan ini aku tuh bermimpi lucu tentang kamu.”
“Apa itu?”
“Tahu tidak, dalam mimpi aku itu, aku dan kamu tuh seolah-olah berada dan hidup di masa lampau. Yah, semacam cerita-cerita klasik begitu. Something like epik begitu....”
“Hah, yang benar kamu?!”
“Suer! Aku tidak bohong. Dalam mimpi aku itu pula, kita tuh menjadi pribadi-pribadi yang berbeda dengan kita yang sekarang….”
“Maksudmu….”
“I think this is crazy! Hm… maksud aku, dalam mimpi aku itu kamu seperti menjadi seorang Tuan Putri dari salah satu dinasti di China. Sementara itu, aku menjadi prajurit dari sebuah negara yang tengah dikecamuk perang.”
“Ja-jadi….”
“Ada apa, A Mei?!”
“Ja-jadi….”
“Eh, A Mei. Kamu tidak apa-apa, kan?”
“I-iya, ak-aku tidak apa-apa. Aku masih mendengar kamu, kok.”
“Oh....”
“Hm, lalu….”
“Lalu, anehnya, aku bermimpi tentang hal itu tiga malam berturut-turut. Lucu. Menurutku, lucu sekali. Seperti film serial di TV saja. Bersambung begitu.”
“Ja-jadi….”
“Hei, A Mei. Benar kamu tidak apa-apa?!”
“….”
“A Mei, A Mei!”
“….”
“A Mei, kamu masih mendengar aku, kan?! A Mei, ka-kamu kenapa sih?! Kamu tidak apa-apa, kan?!”
“Hm, ya-ya. Ak-aku tidak apa-apa, Ron.”
“Yakin kamu tidak apa-apa?”
“Sungguh, aku tidak apa-apa.”
“Tapi….”
“Mungkin aku kecapekan, Ron. Jadi agak nervous begitu tadi.”
“Oh….”
“So….”
“So, semua itu hanya mimpi. Yah, mungkin karena aku terlalu memikirkan dan mengkhawatirkan keadaan kamu terus di negeri orang. Jadinya, ya terbawa ilusi dan mimpi aneh begitu.”
“Mu-mungkin.”
“Oya, kapan kamu balik ke Singapura?”
“Besok.”
“Besok? Ah, syukurlah. Take care, ya?”
“Iya. Terima kasih ya, Ron?”
“Sama-sama. Hm, sudah dulu ya, A Mei? Sampai ketemu di Singapura. Bye.”
“Bye, Ron.”
“Eit, tunggu, A Mei!”
“Ada apa lagi, Ron?”
“I miss you, A Mei!” (blogkatahatiku.blogspot.com)

SELESAI