20 January 2014

LOVE IN REINCARNATION 12

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Foto: Effendy Wongso
Amelia masih terhuyung-huyung dengan kepala memening. Masih berpegang erat pada sebuah bilah mahoni yang berjejer sederet membentuk tirai terali. Matanya masih mengabur. Hanya tampak seberkas cahaya merah seperti lidah yang menjilat-jilat di matanya.
Unggun dalam talang api menyadarkannya, siuman dari pingsan. Dikerjap-kerjapkannya mata. Ini adalah tempat asing kedua yang ia temui dalam hidupnya. Ia terasing dari dunianya yang sesungguhnya. Dan ketika kepalanya menegak, apa yang dilihatnya telah samar dari kenyataan.
Inikah dimensi lain dari sang waktu?!
Angin terus bertiup. Laut terus mendebur. Awan terus berarak. Matahari terus bersinar. Bumi terus berputar. Dan makhluk-makhluk hidup terus beranak pinak seiring arus buliran-buliran detik yang terhimpun dalam waktu. Namun baginya, waktu seolah-olah berhenti. Menyeretnya ke belakang. Menghadirkan serangkaian kisah serupa puzzle. Repihan-repihan masa yang merangkai kisah suram dalam serabut kelabu otaknya!
Tragedi peradaban yang dilihatnya: penganiayaan sesama manusia atas nama kekuasaan! Sungguh merupakan oportunis yang tidak dapat diterima nalar subtil.
Ada kaisar yang tega membinasakan serta membentuk para prajuritnya sendiri menjadi patung tembikar, Teracotta!
Pedang berembos naga.
Lima prajurit Dinasti Yuan.
Stola kulit rubah.
Thamu Dan.
Derap-derap sepasukan berkuda.
Bangunan labirin.
Hutan mahoni.
Barbarian Monggol.
Tangisan arwah Teracotta!
Wang Wei, lelaki tua dengan kulit ringsing.
Reinkarnasi.
Semuanya itu membaur di alam pikirannya. Membentuk pusaran puting-beliung yang memporak-porandakan identitas dirinya serupa amnesia!
“Dia sudah tersadar!”
Ada suara bariton menyalak di dekat gendang telinganya. Masih samar serupa bisikan.
“Jaga dia baik-baik! Jangan sampai lepas lagi!”
“Siap, Thamu Dan!”
“Nyawa ribuan sahabat kita tergantung dari Khe Khe!”
“Siap, Thamu Dan!”
Suara derit engsel menyudahi serangkaian perintah yang diakuri takzim oleh seorang pengawal barbarian Mongol. Terdengar helaan napasnya yang ringan. Juga gesekan sepatu kulit kijangnya yang menyentuh tanah. Serta tegukan air yang mengaliri kerongkongan.
Amelia terduduk lunglai. Sepasang kakinya yang melemah tidak sanggup menopang tubuhya. Ia terjerembap di atas gundukan jerami. Di atas lantai pasir berdinding tembok lembab dan berlumut pada tiga sudut di sisinya.
“Maafkan kami, Khe Khe,” seorang prajurit barbarian Mongol mendekat. Menawarinya air minum dalam botol kulit rusa. “Silakan minum. Anda pasti sudah haus.”
Diangkatnya wajah perlahan. Pemuda itu menyambut tatapan matanya yang rikuh dengan seulas senyum ramah. Dan ia terkesiap tidak percaya atas penglihatannya sendiri ketika menatap wajah yang sudah mengakrabinya lama selama ini!
“Ro-Ronald?!”
Pemuda prajurit Mongol itu mengernyitkan dahi. Heran atas sikap aneh putri kaisar tawanan dari Dinasti Yuan tersebut.
“Khe Khe, Anda tidak apa-apa?!”
“Ke-kenapa aku bisa berada di tempat ini?! Dan, dan kenapa kamu jadi begini?!”
“Ja-jadi begini bagaimana?! Apa maksud Khe Khe?!”
Amelia memijit-mijit pelipisnya. Dan menggeleng-geleng untuk beberapa saat. Tapi matanya yang tadi melamur kini memang menjelas. Ia yakin. Ia memang tidak salah lihat. Pemuda prajurit Mongol itu adalah Ronald Tan Gio Hok! Seseorang yang selama ini diimpi-impikannya!
“Ak-aku bingung, ada apa dengan semuanya ini! Ronald….”
“Maaf, aku bukan orang yang Khe Khe maksud.”
“Tapi….”
“Khe Khe jangan terlalu banyak pikir. Khe Khe pasti kelelahan. Istirahatlah, Khe Khe.”
“Ta-tapi….”
Amelia menggigit bibir. Ia gamang. Dunia membabur di matanya. Sama sekali tidak mengerti fenomena apa yang telah menimpanya. Airmatanya menitik. Ia gamang. Gamang dengan paradigma baur dan penuh selubung misteri. Yang belakangan ini membayangi hidupnya.
“Minumlah sedikit, Khe Khe. Mungkin perasaan Anda bisa lebih baik,” tawar pemuda prajurit Mongol itu. Mengacung-acungkan botol minuman berisi air putih di hadapan Amelia.   
Tapi Amelia menggeleng, menolak air minum yang disodorkan padanya. Dahaganya menguap dilabur kegalauan. Ditepisnya kebaikan pemuda itu. Dan lebih memilih mematung dengan otak yang dibebani beragam pikiran. Ia menggigit bibit. Rasa-rasanya buminya tempat berpijak telah hilang. Airmatanya menderas.
“Anda baik-baik saja kan, Khe Khe?!”
Amelia masih terdiam. Tak bicara sepatah kata pun meski sebenarnya ia hendak berteriak, menanyakan sesuatu kepada pemuda yang sangat diakrabinya pada suatu masa dalam hidupnya.
“Atau, jangan-jangan Anda sakit?!” tanya pemuda itu dengan rupa prihatin. “Benarkah, Khe Khe?!”  
Masih belum ada jawaban untuk pertanyaan bernada cemas pemuda berseragam kulit kempa lembu itu. Cuma sedikit gelengan pada kepala Amelia menjawabi. Pemuda berwajah aristokrat itu mengangguk mafhum. Tak lagi mendesak gadis yang tengah meneteskan airmata tersebut dengan berbagai pertanyaan. Ia hanya menatap dengan wajah iba. Sama sekali tak menggusarkan kalimat sarkastis apapun sebagai tanggapan diam gadis yang barusan dijebloskan kembali ke dalam penjara di kamp barbarian Mongol itu. Ia melangkah menjauh dari terali mahoni.
“Di mana sebenarnya aku sekarang berada?!”
Pemuda itu sontak mengalihkan pandangannya ke arah gadis berambut kusut itu tepat ketika ia tiba, dan berhenti di seberang meja jaga. Udara yang menusuk-nusuk dingin memaksanya untuk menghangatkan diri. Secawan arak sisa di atas meja persegi penjara agaknya mampu menetralisir dingin udara malam yang bertiup dari arah Gurun Gobi. Ia memutar tumit. Melangkah mendekat kembali ke arah Amelia di balik tirai terali.
“Khe Khe tidak tahu?!”
Amelia menampik tegas. “Aku bukan Khe Khe!”
“Oya?!” Pemuda bertubuh tegap itu sinis mencibir. Ia berkacak pinggang dengan lagak sedikit angkuh. “Dan aku juga bukan orang yang Khe Khe sebut-sebut tadi!”
“Ta-tapi, kamu memang Ronald!”
“Khe Khe pasti sakit!”
Pemuda mengulurkan tangannya di antara tirai terali mahoni, bermaksud menyentuh dahi Amelia untuk mengukur tensi suhu panas badannya dengan telapak tangan. Namun Amelia malah terlonjak kaget. Lantas terjerembap kembali ke belakang, di atas setumpuk jerami dalam sel.
“Hati-hati Khe Khe!”
Amelia meringis kesakitan. Tapi ia merasakan ada atmosfer persahabatan yang dipancarkan tulus dari sepasang mata lunak pemuda prajurit barbarian Mongol itu.
Sejenak ia merasa aman. (blogkatahatiku.blogspot.com)