20 January 2014

LOVE IN REINCARNATION 11

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Foto: Effendy Wongso
Amelia menghela napas panjang. Diedarkannya mata ke sekeliling. Semuanya masih tampak lawas. Patung-patung Teracotta masih berjajar rapi. Berdiri dengan anggun dalam bungkam, menghadirkan fenomena misteri yang tak terpecahkan.
Hari ini ia memisahkan diri dari rombongan tur. Kembali menjejaki tempat yang sudah dua kali dikunjunginya itu. Efek sembrani mimpi-mimpinya telah memaksa kakinya melangkah ke tempat ini.
“Setelah terdesak mundur, sisa-sisa laskar barbarian Mongol berlarian kembali ke gurun, Ulan Bator. Namun, di antaranya banyak yang tertangkap lantas dieksekusi oleh Huang Di, ayahanda Yuan Ren Xie Khe Khe yang lalim, seorang kaisar psikopat yang mengubur prajuritnya sendiri untuk dijadikan Teracotta!”
Amelia menggigit bibir. Terdiam saat menyimak prahara kisah suram monarki di China yang dituturkan oleh pengurus tua museum dengan suara lamat. Diusapnya wajah. Mimpi-mimpi itu menjelas kembali di benaknya.
“Perang dan perang telah membawa demikian banyak korban. Tidak di pihak pemerintah yang berkuasa saat itu, Dinasti Yuan, juga tidak untuk pemberontak barbarian Mongol. Banyak siasat yang menghalalkan berbagai cara untuk memenangi ambisi pribadi.”
“Maksud Bapak….”
“Salah satunya adalah Putri Yuan Ren Xie….”
“Putri Yuan Ren Xie?!”
“Ya. Putri yang hadir dalam mimpi-mimpimu. Sejarah mencatat bahwa dia adalah putri tunggal Kaisar Yuan Ren Qing dari permaisuri pertamanya. Khe Khe menjadi salah satu korban perang.”
“La-lalu….”
“Setelah tertangkapnya ribuan pemberontak barbarian Mongol dalam sebuah pertempuran di perbatasan Tembok Besar, atase militer Mongol mencari cara agar dapat membebaskan tawanan secepatnya sebelum dieksekusi. Dari pihak jasus atau mata-mata Mongol di Da-du, mereka mendapat informasi bahwa Putri Yuan Ren Xie akan keluar daerah, entah dalam rangka apa, dan melewati sebuah hutan, yang saat itu dijadikan tempat pelarian beberapa ribu pemberontak barbarian Mongol. Nah, dari informasi itulah mereka akhirnya dapat menangkap putri tunggal Sang Kaisar setelah melumpuhkan prajurit-prajurit tangguh yang mengawal dan menyertai perjalanan Putri Yuan Ren Xie saat itu.”
“Ja-jadi….”  
“Putri Yuan Ren Xie merupakan pampasan perang, satu nyawa yang dapat ditukar dengan ribuan nyawa tawanan Mongol di Da-du!”
“La-lalu….”
“Jadi, tertangkapnya Khe Khe merupakan sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Pembebasan tawanan merupakan komitmen imbal dari penyerahan Khe Khe ke pihak penguasa Tionggoan. Namun sayang Sang Kaisar ingkar dengan janjinya. Setelah berhasil membebaskan putrinya, dengan liciknya Sang Kaisar mengatur siasat keji berupa perangkap. Para pemimpin Mongol kembali tertangkap. Dieksekusi kemudian. Lalu, genosida bagi kaum barbarian Mongol tak dapat dielakkan lagi. Tanah Tiongkok kembali dilumuri kisah tragis yang seperti tidak ada habis-habisnya!”
Amelia terpaku. Menekuri ulasan Wang Wei sang Pengurus Museum dengan takzim. Ini adalah kali ketiga ia mengunjungi tempat Teracotta ditemukan. Pada sebuah penggalian paling spektakuler di abad kedua puluh. Diceritakanlah semua fenomena aneh mimpi-mimpinya selama berkunjung ke Beijing.
“La-lalu apa hubungannya….”
Lelaki tua itu berdeham sampai dadanya yang tipis berguncang. Diamatinya wajah gadis bermata sipit itu dengan rupa gerun. Ia mengguman dengan kalimat tak jelas, mungkin dalam bahasa Kanton, salah satu bahasa daerah paling dominan di China. Amelia tidak mengerti.
“Semuanya itu seperti takdir. Mungkin kamu merupakan reinkarnasi dari Yuan Ren Xie Khe Khe!”
“Ap-apa?! Reinkarnasi?!”
“Ah, sudahlah. Jangan mengingat-ingat lagi peristiwa tragis sejarah bangsa ini. Di mana perang telah mengorbankan banyak nyawa yang tak berdosa! Tangisan Teracotta, juga mimpi-mimpi yang kamu alami itu merupakan fenomena aneh yang seperti dikirim dari langit untuk kita renungi bersama!”
“Ta-tapi….”
“Pulanglah. Anggaplah mimpi-mimpimu itu hanya bagian dari bunga tidur. Jangan sampai mimpi-mimpi itu merusak pikiranmu. Sebab hal itu hanya seutas benang merah tragedi silam yang kembali melintas di alam bawah sadarmu.”
“Tapi Pak….”
“Maaf! Bapak harus melayani tamu lainnya.”
Lelaki tua itu melangkah, perlahan menjauhi Amelia yang masih tepekur di salah satu sudut museum. Gadis berwajah lesi itu menggigit bibir. Menatap punggung lelaki tua yang menirus dari matanya. Mungkin ia harus menyudahi uraian simpul mimpi. Dan menguburnya untuk selama-lamanya. Sebab dunianya yang sekarang memang nyata.
Bukan mimpi! (blogkatahatiku.blogspot.com)