19 January 2014

LOVE IN REINCARNATION 09

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Foto: Effendy Wongso
Apa yang selama ini membayang dalam benaknya nyaris serupa korona. Membias kasatmata dalam fitur maya. Satu kuintesens tentang kebajikan yang tergebah oleh khilaf zaman. Presensi batil sejumlah anak manusia yang caruk oleh kegemerlapan dunia. Jauh di luar limit predestinasi. Sehingga dunia yang mereka huni tidak lagi nyaman.
Begitulah. Presbiterat dari masa ke masa yang menghadirkan serangkaian gulana. Ia tersenyum kecut. Gamang oleh sejarah. Sejarah telah mencatat kisah kelam itu. Sebagai pembelajaran baginya, juga bagi siapa saja untuk bertindak arif. Agar dunia bukan lagi serupa neraka yang dipenuhi pewaka.
Ditinggalkannya Beijing Teracotta’s Museum dengan lunglai. Di sana atmosfer berputar seperti puting-beliung. Ia hendak beristrahat. Pikirannya yang membabur telah menguras nyaris seluruh tenaganya. Dan hanya menyisakan seperempat kalori untuk membawa kakinya melangkah sampai di seberang jalan, mencegat taksi yang akan mengantar mereka kembali ke hotel.
“Kamu kenapa, sih?!” Jennifer berhenti setindak di gerbang museum. “Dari tadi kok murung melulu!”
Amelia menggigit bibir.
Kepalanya masih menekuk dada. Sedikit disesalinya sifatnya yang posesif, yang tidak pernah dapat menutupi perasaannya. Emosinya kadang mengumbar keluar tanpa katup. Dicecarnya misteri mimpi yang selama ini mengganggu tidur malamnya. Menghubung-hubungkannya dengan legenda Teracotta yang beralkisah kelam. Dan dua kali kehadirannya di tempat ini untuk itu, mengorbankan waktu mereka untuk mengunjungi situs-situs bersejarah lainnya. Namun semuanya sia-sia. Misteri tak terkuak.
Jennifer masih mengekorinya dengan beragam pertanyaan prihatin. Ia sadar, tentu bukan hal yang baik kalau kemurungan dibawa serta dalam paket perjalanan jurnal mereka di China. Objektivitas tulisan bakal rancu. Padahal, tugas ke China kali ini telah menghabiskan biaya yang tidak sedikit dari sekolah. Mereka diberi fasilitas inap hotel bintang lima. Juga sangu yang lebih dari cukup bahkan dijadikan oleh-oleh buat orang rumah di Singapura sekalipun. Jadi, komitmen semula untuk menghadirkan tulisan yang baik di majalah World Chronicle harus tetap menjadi prioritas di atas kepentingan pribadi.
Tapi sejak dihantui oleh mimpinya yang aneh semalam, gadis bermata sipit peranakan China itu jadi ketularan aneh. Seusai mimpi, Amelia menceritakan perihal prajurit-prajurit dari masa lampau itu kepadanya. Yang konon berasal dari Dinasti Yuan.
“Prajurit Dinasti Yuan!”
“Prajurit Dinasti Yuan?!”
“Iya.”
“Ya, Tuhan! Mimpimu lebih seru daripada mimpiku, tentang penantian bintang jatuh alias Meteor Garden!”
“Asal!”
“Seperti film-film silat Mandarin klasik saja. Mimpiku, yang melodrama tidak seasyik mimpimu yang menegangkan. Penuh dengan intrik dan suspense.”
“Sembarangan kamu!”
“Suer! Sayang tidak ada proyektor yang dapat mengaplikasikan mimpimu itu di layar tembok. Kalau ada, wah pasti heboh! Kamu dikejar-kejar prajurit dari Dinasti Yuan lengkap dengan pedang naga mereka….”
“Dan kamu juga lari terbirit-birit karena NYOLONG BERAS MEREKA!”
Jennifer membeliak di-cut oleh Amelia yang menyalak lengking dengan kalimat ‘NYOLONG BERAS MEREKA!’.
“Kamu…!” Jennifer melototkan bola matanya.
Amelia  membalas dengan melototkan matanya pula. “Dasar kamu yang duluan bercandanya, sih!”
Jennifer tergelak. “Hihihi….”
Semalam, Jennifer meledeknya habis-habisan. Tentu saja gadis berbadan serupa balon raksasa itu tidak bakal percaya kalau ia mengatakan bahwa, patung-patung Teracotta itu mirip dengan beberapa wajah prajurit dari Dinasti Yuan, entah, mungkin juga dari Dinasti Tang seperti yang dikatakan oleh Wang Wei, sang Pengurus Museum, yang hadir dalam mimpinya tersebut.
“Dalam mimpimu itu, kamu dikejar-kejar karena disangka Tuan Putri dari Kerajaan mereka?!”
“Aku malas ngomong lagi!”
“Jangan begitu dong, A Mei! Mimpimu itu perlu alibi supaya orang bakal percaya. Dan tidak dianggap gokil kalau kamu menceritakannya kepada orang lain. So, alibimu yang paling tepat itu ya aku!”
Amelia mengibaskan tangannya. “Kamu…!”
Selalu saja begitu. Sudah menjadi tradisi gadis bertubuh besar itu tidak pernah serius. Makanya, ia tidak terlalu berharap kalau sahabatnya itu dapat menjadi talang curhat. Dan ia lebih memilih memendam isi hatinya ketimbang menjadi bahan olok-olokan Jennifer. Salah-salah nanti ia bisa naik pitam serta menampar pelepah bibir anak itu yang setebal karet penghapus.       
“Hei, Khe Khe kok cemberut sih?”
Khe Khe?!
Ia menggigit bibir.
Alur pikirannya berhenti di satu titik. Ia terbangun dari lamunan tentang ulah Jennifer, dan berganti alur ke mimpinya semalam. Dilanjutkannya langkah menjauh dari gerbang museum. Melangkah dengan cepat ke arah sebuah taksi yang parkir tidak jauh dari seberang jalan. Jennifer mengekorinya sembari terkikik.
Khe Khe adalah panggilan untuknya, yang diteriakkan oleh prajurit-prajurit serupa patung-patung Teracotta itu dalam mimpinya semalam. Khe Khe kurang lebih berarti Tuan Putri. Anak perempuan kaisar atau puak bangsawan dari dinasti-dinasti yang berkuasa di kerajaan-kerajaan China pada masa lampau. Ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu!
Tapi, kenapa prajurit-prajurit yang konon berasal dari Dinasti Yuan itu memanggilnya dengan Khe Khe?! Apakah hal itu hanya ekuivalentik dengan mimpi dan kebetulan semata?!
Ia sendiri tidak yakin.
Taksi sudah berjalan perlahan setelah Amelia merebahkan kepalanya di jok. Kepalanya kembali memening. Ia tidak paham dengan fenomena yang dialaminya. Mungkinkah mimpi yang dialaminya semalam merupakan bunga tidur semata?!
Ia menarik napas panjang. (blogkatahatiku.blogspot.com)