19 January 2014

LOVE IN REINCARNATION 08

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Foto: Effendy Wongso
“Beijing Teracotta’s Museum masih menyimpan sejumlah misteri. Tidak seperti layaknya museum sejarah lainnya, tempat yang merupakan saksi bisu kisah kelam monarki China ini dahulu adalah tanah pemakaman para kaisar yang berkuasa.”
“Pemakaman?!”
“Ya. Beredar dua versi. Apakah dari Dinasti Yuan atau Dinasti Tang. Tidak jelas yang mana. Tapi yang pasti, patung-patung Teracotta ini memiliki banyak histori gaib!”
“His-histori gaib?!”
Amelia mendengar takzim ulasan Wang Wei, seorang petugas tua museum, diam-diam ia bersyukur karena fasih berbahasa Mandarin. Ia tercenung menghubungkannya dengan benang merah mimpinya semalam. Terutama muasal zaman para prajurit itu, yang dalam mimpinya menyebut mereka berasal dari Dinasti Yuan!
Sementara itu Jennifer masih sibuk mengamati wajah-wajah patung Teracotta di sana dengan rupa bingung. Bingung karena di antara ribuan patung Teracotta itu, tak ada satu pun yang berwajah sama. Semua memiliki karakter wajah berlainan. Satu keajaiban budaya masa lampau, pikirnya. Sesekali ia kembali memotret detil wajah-wajah patung tembikar tersebut secara close-up, kebanyakan di antaranya sudah retak dan repih di sana-sini.
“Konon, pada suatu hari kaisar penguasa Tionggoan pada waktu itu, yang biasa juga disebut Huang Di, bermimpi buruk. Buruk sekali. Dalam mimpinya tersebut dia tiba-tiba berada pada suatu tempat yang sangat gelap. Tempat itu diyakininya sebagai alam baka. Tidak ada siapa-siapa menemaninya. Di dalam mimpinya pula, Sang Kaisar terus berjalan di kegelapan sampai berhenti di suatu tempat asing. Di sana disaksikannya banyak arwah gentayangan, yang mengejar dan hendak membunuhnya!”
“Membunuh Sang Kaisar?!”
“Ya,” jawab lelaki tua bertubuh ringkih itu disertai dengan satu anggukan pada kepala. “Sang Kaisar pun berlari. Menghindari terkaman hantu-hantu ganas tersebut. Berkali-kali dia berteriak memanggil para jenderal perang dan prajuritnya, tapi tidak ada satu pun yang datang menolongnya,” lanjutnya.
“La-lalu apa yang terjadi kemudian, Pak?!” tanya Amelia penasaran.
Tiga detik lelaki tua itu jeda, menelan ludah dan membetulkan letak kacamata bingkai tebalnya yang melorot dari pangkal hidung dengan satu sentuhan jari. Sementara itu Amelia masih terpaku serupa muno, mengernyitkan dahinya dengan rupa linglung.
“Ketika Sang Kaisar terjaga dari mimpi, maka pada saat itu juga dia bersumpah untuk memboyong semua prajuritnya ke alam baka. Menjaga dan mengawalnya seumur hidup di sana nanti. Dan bila kelak meninggal dunia, maka dia tidak bakal merasa kesepian dan ketakutan lagi. Seperti apa yang dia rasakan dalam mimpi buruknya!”
“Maksud Bapak?!”
“Ini!” Lelaki tua itu melangkah mendekati sebuah patung Teracotta. “Patung-patung ini konon merupakan jasad para prajurit yang sengaja dibinasakan untuk melaksanakan niat babur Sang Kaisar!”
“Astaga! Mak-maksud Bapak…?!”
“Konon, ribuan bahkan ratusan ribu prajurit dibinasakan. Jasadnya diawetkan atau dibalsem untuk kemudian dicampur dengan tanah liat serupa semen dan tembikar membentuk manekin. Lalu dikubur di dalam sebuah pemakaman besar bakal kuburan Sang Kaisar kelak bila meninggal dunia.”
“Ap-apa?!” Amelia tersentak tanpa sadar. Tumitnya terundur satu langkah ke belakang.
“Kaisar psikopat!” ujar Wang Wei sang Pengurus Museum seperti menggumam.
“Kejam!” desis Amelia geram. “Kaisar kejam!”
“Tentu saja kejam. Kalau tidak begitu, mana tega dia membinaskan prajurit-prajuritnya sendiri. Seolah-olah nyawa mereka tidak ada harganya sama sekali! Makanya, meski sudah hampir seribu tahun kisah ini berlalu, tapi fenomena aneh masih sering terjadi di sini!”
“Ap-apa itu, Pak?!”
“Tengah malam, kadang-kadang terdengar tangisan yang berasal dari patung-patung Teracotta ini!”
Amelia bergidik. Bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya meremang.
“Kadang-kadang juga terdengar jeritan memilukan atau semacamnya. Juga mimpi-mimpi aneh yang dialami beberapa turis maupun tamu setelah mengunjungi museum ini.”
Amelia menggigit bibirnya. Berarti mimpinya semalam merupakan fenomena aneh yang dimaksud oleh lelaki tua itu!
“Arwah para prajurit patung-patung Teracotta ini penasaran karena meninggal secara tidak wajar! Mungkin itulah penyebab munculnya fenomena aneh tersebut!”
Suhu rembang petang di Beijing semakin mendingin ketika lelaki berkulit ringsing itu pamit melayani beberapa turis bule yang ingin mengetahui sejarah patung Teracotta. Amelia masih membeku dengan beragam kisah baur dalam benak. Hatinya tersentuh. Kisah silam monarki di China memang menyimpan banyak misteri. Patung-patung Teracotta memang saksi bisu kekelaman zaman!
“Amelia Samantha Hong! Kok melamun, sih?” Jennifer menggugah dari belakang, menggandeng tangannya separo menyeret. “Pulang, yuk. Kita sudah ditunggui sama Kak Siu Ing di hotel. Acara bebasnya kan, sampai jam lima sore ini saja. Satu jam lagi pasti kita ditinggal oleh beberapa peserta tur  muda yang akan clubbing di Dragon’s Fire Discotheque.”
Amelia mengangguk lunglai. (blogkatahatiku.blogspot.com)