19 January 2014

LOVE IN REINCARNATION 07

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Foto: Effendy Wongso
Lima prajurit dari masa lampau itu tengah mengejarnya. Sebenarnya bukan mengejar. Tapi mencecar. Seperti mengekorinya ke mana pun ia pergi.
“Khe Khe , jangan lari!”
Amelia kemekmek.
Ia nyaris menangis karena ketakutan. Sungguh, ia sama sekali merasa asing dengan tempat yang lembab dan gelap ini. Tidak ada siapa-siapa selain prajurit-prajurit asing yang tengah mengejarnya. Ia menggigit bibir dengan tubuh gemetar. Dan masih berusaha berlari di antara dinding-dinding beku bangunan besar persegi dengan koridor-koridor serupa labirin, yang saat ini menjebak tubuhnya hingga tersesat dari jalan keluar.
Ia bersembunyi di salah satu dinding tanah liat. Menghindari kejaran lima prajurit berseragam besi dengan pedang berembos naga yang tersampir di sisi kanan pinggang mereka. Ritme derap-derap sepatu mereka menggemeletukkan giginya. Ia terisak. Menahan suara tangisnya.
“Khe Khe, jangan takut. Kami prajurit Dinasti Yuan!”
Ada teriakan lembut bernada bersahabat yang menetralisir ketakutannya. Tapi ia masih tidak berani menongolkan kepala. Tetap meringkuk di sisi tembok yang terbuat dari tanah liat tersebut.
Mendadak benaknya dipenuhi beragam kalimat. Dinasti Yuan?! Hei, bukankah Dinasti Yuan sudah runtuh kurang lebih delapan ratus atau sembilan ratus tahun yang lampau?! Lalu, kenapa pula prajurit-prajurit dari masa lampau itu mengejarnya?!
“Khe Khe,  Anda di mana?!”
Khe Khe?! Hei, bukankah Khe Khe dalam bahasa Mandarin kurang lebih berarti Tuan Putri?! Kenapa mereka memanggilnya dengan nama Tuan Putri?! Jangan-jangan….
“Khe Khe….”
Apakah ia sudah meninggal?! Lalu, bereinkarnasi di suatu tempat asing yang tidak ia ketahui namanya?! Atau, mungkinkah ia sudah menjadi hantu, berkumpul bersama prajurit-prajurit dari Dinasti Yuan di tempat baka ini?!
Tapi, kapan ia meninggal?!
Tadi, ia sehat-sehat saja kok! Buktinya, ia mampir lama ke lokasi Teracotta yang legendaris di Beijing. Mengamati ratusan patung prajurit dari tembikar. Memotret sampai satu rol film tiga puluh enam kutipnya habis!
Jennifer bahkan menemaninya siang tadi. Mencatat semua informasi mengenai asal usul patung Teracotta yang digali dari sebuah kuburan kuno di Beijing, di mana patung Teracotta itu diyakini dalam legenda sebagai pengawal-pengawal pribadi seorang kaisar lalim dari Dinasti Yuan.
Dan….
“Khe Khe!”
Prajurit-prajurit bertubuh jangkung tersebut sudah berdiri di depannya. Ia menjerit tak sadar. Berusaha melarikan diri dari tempatnya berdiri. Tapi seorang prajurit bermata sipit itu memegang lengannya.
“Ja-jangan!”
“Maaf, Khe Khe!”
“To-toloong!”
“Khe Khe, jangan menyulitkan kami! Anda harus pulang. Yang Mulia Kaisar Yuan Ren Qing mengkhawatirkan keselamatan Anda!”
“Ak-aku bukan Tuan Putri kalian! Ka-kalian salah orang!”
“Khe Khe, kami mohon….”
Amelia mengentak tangan prajurit bertubuh jangkung tersebut sehingga ia terbebas dari cekalan. Segesit walet ia berlari dan menghilang di sebuah tikungan labirin. Prajurit-prajurit berseragam besi itu panik. Turut berlari mengejarnya.
“Khe Khe!”
Amelia masih berlari. Berlari sejauh kakinya melangkah. Gelap di sekeliling. Dan ia terjatuh karena terbentur sesuatu.
“Bangun, bangun, A Mei!”
Ada satu gabrukan bantal di wajahnya. Ia terbangun dengan napas terengah. Prajurit-prajurit dari masa lampau itu telah menghilang. Tidak mengejarnya lagi seperti pelarian retenidos!
Ia menarik napas lega.
“Astaga, A Mei!” Ada wajah bundar Jennifer tepat seinci di mukanya. “Kamu mimpi apaan sih, sampai sebegitu hebohnya?! Bikin jantungku deg-degan saja! Aku pikir kamu lagi kumat ayan, sampai kejang-kejang begitu tapi minus leleran buih iler dari mulut kamu!”
Amelia tidak berminat menanggapi guyonan Jennifer yang sama sekali tidak lucu dengan imbal secuil senyum. Ia masih tercenung dengan mimpi yang barusan dialaminya sehingga bibirnya terkunci.
Dipijitinya pelipisnya.
Kepalanya tiba-tiba terasa pening. (blogkatahatiku.blogspot.com)