17 January 2014

LOVE IN REINCARNATION 06

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Foto: Effendy Wongso
Beberapa objek wisata telah dikunjunginya. Amelia telah merangkum beberapa tulisannya ke dalam notebook Acer yang selalu menemaninya ke mana pun. Untuk mengabadikan gambar, ia tidak sepenuhnya menumpukan harap pada benda yang bernama kamera konvensional. Kamera Nikon tipe F5 berteropong lensa Tamron yang menggunakan pita film seluloid tersebut sangat riskan digunakan pada suhu yang mendekati titik beku. Jadi meskipun resolusinya bagus dan tajam, tapi hal itu tidak menjamin objek dapat terekam dengan sempurna. Itulah sebabnya ia menyarankan Jennifer untuk juga menggunakan kamera digital sebagai kamera serep. Takut terjadi apa-apa pada objek yang dijepret. Dokumentasi gambar memang merupakan salah satu hal yang paling urgen dalam jurnalistik.
Kemarin mereka telah mengunjungi Tiananmen dan The Great Wall yang kesohor itu. Rencananya, siang ini mereka beserta rombongan tur dari Manila akan mengunjungi Beijing Teracotta’s Museum. Teracotta adalah patung tembikar berbentuk prajurit-prajurit dari masa lampau. Entah dari dinasti apa. Sepengetahuannya, dari lektur-lektur yang pernah dibacanya di perpustakaan sekolah, patung-patung Teracotta itu merupakan sebuah keajaiban di abad modern ini.
Bagaimana tidak kalau patung-patung Teracotta hasil penggalian arkeolog China tersebut disinyalir sebagai penemuan terbesar di abad dua puluh. Menariknya pula, patung-patung tersebut menyimpan banyak kisah. Histori ihwal terbentuknya patung-patung Teracotta tersebut juga menjadi misteri. Bahkan menjadi legenda yang tidak asing lagi bagi masyarakat China.
Dan setengah jam lagi mereka akan berangkat. Amelia sudah bersiap-siap sedari tadi setelah lunch di rest-room hotel beserta rombongan tur dari Manila. Sesaat ia hanya menikmati musik ringan dari seorang pianis hotel sehabis makan tadi ketika Jennifer lebih memilih kembali ke kamar. Beberapa peserta tur lain juga tampak santai di lobi hotel menikmati musik serupa. Sayang peserta tur dari Manila tersebut kebanyakan orang tua. Jadi ia tidak terlalu interest untuk nimbrung dan bertukar cerita dengan mereka. Kalau tidak, tentu ia dapat menambah pengalamannya tentang negeri lain.
“Baiklah, Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Kurang lebih setengah jam lagi kita akan berangkat. Jadi mohon jangan sampai terlambat. Saya akan menunggu Anda di lobi hotel ini. Ingat, setengah jam lagi.”
Amelia menanggapi kalimat Siu Ing dalam bahasa Inggris itu dengan berlari ke arah elevator. Hendak menuju kamarnya yang berada di lantai sebelas untuk mempersiapkan perlengkapan jurnalistiknya. Ia baru saja menghabiskan dimsum hotel yang cukup lezat. Buktinya, perutnya agak menggembung dan mulas karena diisi dua kali lebih banyak dari standar porsi makannya yang satu piring. Jennifer sendiri pasti telah menghabiskan tiga kali lipat dimsum lebih banyak darinya. Dan sekarang entah sedang apa, tapi ia yakin gadis gembrot itu pasti sudah mendengkur di pulau kapuk, setelah menjadi peserta tur pertama yang paling cepat menyentuh piring di rest-room sejak dibuka satu setengah jam lalu untuk rombongan dari Phoenix Travel, nama travel mereka.  
Dan memang benar!
Ia menemukan Jennifer Chan tengah menelentang di atas tempat tidur kamar hotel. Sepasang earphone walkman masih menempel pada daun telinganya yang cangut. Samar-samar masih terdengar beat rap lawas “Romeo Must Die”-nya Aaliyah  yang sudah mengembara ke alam baka sesaat setelah pesawatnya jatuh, dan mutung di sebuah pulau kecil di Amerika.
Amelia mendesis pelan. Sebenarnya bukan mendesis. Tapi mengeluh. Selalu saja begitu. Tubuh Jennifer yang seberat panda dewasa itu memang demannya dibawa tidur. Apalagi kalau perutnya sudah diisi dimsum. Munjungan zat gizi penambah bobot badan itu selalu mengundang kantuk hingga matanya memejam layaknya orang mati saja.
Bukan hal yang menyenangkan. Partnernya itu memang reseh. Padahal, tujuan mereka ke Beijing ini bukan dalam rangka vakansi. Tapi ada hal yang lebih penting ketimbang berleha-leha menyusuri Tembok China dan ngelenceri beragam jenis obyek wisata lainnya.
Gadis gembrot itu ternyata sudah tertidur. Amelia melepas earphone dengan gerak gegas dari telinga sahabatnya itu. Namun tidak ada omelan riuh bak kicau cucakrawa sebagai tanggapan protes seperti biasa. Malah terdengar suara dengkur mengirama seperti ninabobo gergasi dalam cerita dongeng. Tidak terlalu keras untuk menulikan indera pendengaran tapi cukup nyelekit di gendang telinga.
Amelia menggeleng-gelengkan kepala. Digabruknya bantal ke wajah damai separo tersenyum itu. Mungkin ia lagi bermesraan dengan Jerry Yan  di alam mimpinya. Dan ia selalu menjelma menjadi Barbie Xu, yang entah kurus tiba-tiba karena diet apa!
“Aphs….”
“Bangun!”
“Taoming Tse , jangan tinggalkan aku!”
“Astaga nih, anak!”
Amelia berkacak pinggang dengan rupa semasam mangga muda. Dilihatnya gadis sahabat sehati dan sebaya mudanya itu setengah terjaga. Mengucek-ngucek matanya seperti tidak percaya sedang berada di kamar hotel mereka di Beijing. Huh, pasti pikirnya tengah berada di salah satu hotel bintang lima di Barcelona seperti dalam film Meteor Garden II! umpatnya, mempertegas gelengannya.
“Eh, uh! Ki-kita di mana, A Mei?!”
“Di Barcelona!”
“Astaga! Aku lupa acara kita….”
“Terang saja kamu lupa kalau sudah kencan sama Jerry Yan di alam mimpimu!”
“Hihihi….”
“Jennifer Chan Mei Fang!”
Kalau sudah menyebut nama selengkap-lengkapnya, itu berarti Amelia tidak mood diajak bercanda. Dan hal itu merupakan salah satu bentuk isyarat yang lebih gawat dari tabuhan genderang perang di zaman baheula. Memang sudah menjadi kebiasaannya apabila sedang marah dan tidak senang. Ia memang paling tidak suka direcoki dengan canda saat tengah serius. Emosinya bakal teroksidasi, dan menjadi api amarah yang entah kapan dapat padam. Agaknya hal itu dimafhumi benar oleh Jennifer sehingga tidak ingin menempuh risiko didiamkan tiga kali dua puluh empat jam. Juga porsi misuh-misuh tiga kali sehari persis resep anjuran minum obat dari dokter!
“Sori….”
Jennifer menggaruk-garuk rambutnya meski kepalanya sama sekali tidak ketombean. Sedikit merasa bersalah karena menyebabkan sahabatnya itu cemas bukan kepalang tanggung akibat kebiasaan molornya yang tidak dapat diajak kompromi. Tidak di Singapura. Tidak di Beijing. Semuanya sama saja. Kalau badannya sudah terkontaminasi benda empuk yang bernama kasur, maka pasti pelupuk matanya akan merapat seolah dilak.
“Basi!”
Amelia mengentakkan kakinya keras di lantai. Ia sudah bosan dengan kebiasaan laten Jennifer. Padahal gadis itu sudah berjanji tidak akan menuruti hobi bobonya itu selama berada di Beijing. Tapi nyatanya janji hanyalah tinggal janji. Gadis itu masih saja nyebelin. Kalau tidak dikasari, maka ia akan menjadi-jadi. Dasar gentong nasi berjalan! makinya dalam hati.
“Please. Don’t be angry, dong!”
“Sudah, sudah! Cepat mandi sana! Kita sudah ditunggu sama rombongan tur. Lima menit lagi pasti kita ditinggal!”
“Oke, oke. Aku mandi cepat.”
Gadis gembrot itu melesat seperti terbang.
Kali ini, ia memang benar-benar takut ditinggal. Ia takut terlambat mengikuti ritual tugas mengunjungi situs-situs bersejarah di China. Ia takut luput meliput dan menulis salah satu situs bersejarah China untuk majalah perdana World Chronicle. Ia takut tulisan mereka di dalam jurnal majalah sekolah terbitan SMA Saint Teresa Singapore amburadul karena data inakurat. Ia takut gagal dan mengecewakan dalam tugas serta kunjungannya kali pertama di negeri para panda beranak pinak ini. Dan terlebih-lebih, ia takut tidak dapat mencicipi penganan tradisional khas China di setiap perhentian situs-situs tersebut. Toh pada prinsipnya, tugas mereka bukanlah pekerjaan kasar yang menuntut kerja fisik lebih, kok. Namun lebih pada pleasure. Menyelam sambil minum air. Bertugas sambil berlibur.
Dan sebagai redaktur mading di sekolah, mereka memang sengaja ditugaskan membidik China sebagai salah satu daerah obyek bahan jurnal. Mengulik khazanah masa lampau negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia tersebut. Di samping itu China banyak mendapat sorotan dari lembaga swadaya internasional sebagai salah satu negara pelanggar berat kerusakan beberapa cagar kebudayaan dan bangunan bersejarah dunia. Banyak oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab mencuri khazanah bangsa besar itu. Di antaranya diselundupkan atau dijual ke luar negeri.
Salah satunya adalah patung Teracotta! (blogkatahatiku.blogspot.com)