17 January 2014

LOVE IN REINCARNATION 04

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Foto: Effendy Wongso
Changi International Airport masih seperti dulu. Lalu-lintas dan deru pesawat udara dari mancanegara seperti tidak ada habis-habisnya. Salah satu kota kosmopolitan terpadat di dunia ini masih mendenyutkan rutinitasnya sebagai kota industri terbesar di Asia Tenggara.
Amelia masih duduk di ruang tunggu terminal keberangkatan. Sebentar lagi sebuah boeing Singapore Airlines akan menerbangkannya ke Beijing. Ia menggigit bibir. Merasa terharu atas simpati anak-anak sekelas yang dengan sukarela mau mengantar mereka sampai di bandara. Juga beberapa guru yang sejak dalam perjalanan menuju bandara tadi terus memberikannya motivasi-motivasi agar dapat berprestasi di dunia jurnalisme yang tengah dirintisnya saat ini.
Sesaat mereka tadi berpisah di depan pintu masuk ruang tunggu keberangkatan. Papa dan Mama, serta kedua orang adiknya hanya dapat mengantarnya ke gerbang bandara karena terburu-buru hendak mengikuti sebuah kegiatan tur amal di Sentosa Island, sebuah pulau kecil yang terletak tidak terlalu jauh dari pusat Kota Singapura. (Tur amal tersebut rutin diadakan setiap periode oleh perusahaan-perusahaan kapital yang berada di Singapura. Bertujuan untuk mengumpulkan dana dermawan, yang kemudian diserahkan kepada  dinas sosial negara untuk disumbangkan kepada negara-negara miskin yang tengah dirundung musibah bencana alam dan lain sebagainya).
Sesaat sebelum berpisah tadi juga, Ronald sempat memberikannya seuntai gelang tasbih kayu cendana.
“Untuk kamu.”
“Un-untuk aku?”
“Ya. Ambillah.”
“Apa ini?”
“Cuma gelang.”
“Untuk apa?”
“Kenang-kenangan.”
“Tapi….”
“Kenapa?”
“Tapi, mungkin gelang ini sangat berarti buat kamu. Sepertinya semacam gelang-gelang tua warisan begitu.”
“Memang, iya. Sudahlah, A Mei. Terima saja.”
“Tapi, mana boleh aku menerima barang turun-temurun begitu? Hei, aku tidak berhak sama sekali dengan barang ini. Hih, bisa-bisa aku dicekik sama arwah leluhur keluarga kamu yang marah nantinya.”
“Hahaha, kamu lucu juga ya, A Mei.”
“Habis, kamu memaksa sih.”
“Ini ikhlas. Lagian, arwah leluhurku tidak bakalan marah, kok. Kan sudah minta izin.”
“Hihihi….”
“Hahaha….”
“Ron, terima kasih saja, deh. Bukannya menolak, tapi….”
“Oh, come on. Please, terimalah. Cuma kenang-kenangan saja, kok.”
“Iya, sih. Tapi, aku tidak enak hati, nih. Mana boleh sembarangan orang menerima begitu saja barang warisan seperti punya kamu ini. Yah, walaupun tidak berharga, namun aku yakin kalau gelang tasbih cendana ini memiliki histori tersendiri di dalam silsilah keluarga kamu. Iya, kan, Ron?”
“Justru itulah, aku ingin memberikan gelang tasbih ini kepada orang yang sangat berarti buat aku. Ja-jadi….”
Jantung Amelia berdetak. Jadi, selama ini ia menjadi bagian terpenting dalam hidup seorang Ronald Tan!
‘AKU INGIN MEMBERIKAN GELANG TASBIH INI KEPADA ORANG YANG SANGAT BERARTI BUAT AKU’.
Kalimat indah itu masih mendesir pada gendang telinganya.
Kalimat indah itu menghunjam nikmat di dalam ulu hatinya.
Kalimat indah itu menorehkan harapan akan penantian yang selama ini ditunggu-tunggunya.
Kalimat indah itu….
“Oh, come on….”
“Hm, baiklah kalau kamu memaksa begitu. Aku terima. Terima kasih ya, Ron.”
“Sama-sama.”
“Kamu kok baik banget sama aku, Ron?”
“Sama semua orang juga aku baik, kok.”
“Tapi, sama aku kok beda?”
“Maksudmu….”
Amelia terdiam sesaat tadi. Ia tahu Ronald diam-diam menyukainya. Sayang ia belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan hatinya itu. Sesungguhnya ia pun menyukai cowok itu. Meski tidak terlalu stylish layaknya anak-anak muda lainnya, tapi Ronald adalah cowok yang baik. Ia sangat care. Lebih mengutamakan kepentingan teman-temannya ketimbang dirinya sendiri. Punya tanggung jawab dan disiplin. Lagian, cowok kutu buku itu juga tenang dan berwibawa. Mungkin karena ia terlahir sebagai anak sulung dalam keluarganya yang tergolong sederhana.
“Hm, maksud aku….”
“Kenapa? Kamu tidak suka ya, pemberianku?”
“Oh, bukan. Bukan begitu.”
Amelia mengibaskan tangannya sesaat juga tadi. Sedikit merasa kesal dengan sikap super duper introver Ronald. Pancingannya, agar cowok itu mengungkapkan isi hatinya, ternyata sukses gagal alias nihil. Umpan pada kail kalimatnya tadi tak tersentuh sama sekali. Sampai kapan cowok itu dapat memendam rasa cintanya?! Sampai kapan ia terpenjara oleh sikapnya yang dingin membeku?! Digigitnya bibir seperti kebiasaannya. Ayo dong, Ron! Ngomong kalau kamu tuh suka sama aku! Ngomong dong kalau kamu memang mencintai aku! Romantis sedikit kenapa, sih?! Kasih kecupan di dahi atau pipi kek! Pesawat sudah hampir berangkat, nih! Masa sih ucapan tiga patah kata alias ‘I Love You’ itu saja tidak ada?!
Huuuh! Seeebeeel! Oh, Heaven help me, please! Tolong bikin cowok kiyut itu hidup dari kelakuannya yang serupa patung, dan jangan hanya sesekali menyembulkan senyum semanis gulanya semata! pinta Amelia memohon sembari melangkah dengan kaki memberat ke arah ruang tunggu keberangkatan.
 Namun, Ronald masih saja membatu. Hanya lambaian tangannya saja yang terlihat seiring airmata Amelia yang sudah menitik. Selebihnya, apa yang diharapkannya sukses dengan gigit jari.
“A Mei….”
Jennifer menggebah lamunan Amelia yang sedari tadi murung seperti mendung di musim hujan. Announcer bandara telah mengumumkan kepada calon penumpang jurusan Beijing untuk segera memasuki pesawat.
“Pesawat sudah mau berangkat tuh!”
Amelia mengangkat wajah dengan lunglai. Masih berusaha melirik jauh ke depan. Mungkin saja Ronald masih berdiri di sekat kaca pembatas ruang tunggu keberangkatan. Melambaikan tangannya sekali lagi sampai punggungnya benar-benar sudah menirus dan masuk ke dalam pesawat. Namun semuanya jauh dari harap. Bingkai perak kacamata cowok itu tak terlihat di antara rimba manusia dekat dinding-dinding kaca. Hanya tampak puluhan orang yang masih menempelkan muka di sana. Beberapa di antaranya adalah anak-anak dan orang tua yang sedang melambai. Bukan kepadanya. Ah, Ronald pasti sudah pulang. Mereka semua pasti sudah pulang. Airmatanya kini sudah menetes.
Ia berdiri. Menyambar tas pundak yang diletakkannya di bangku samping tadi. Berusaha mensejajari langkah Jennifer yang sudah berjalan tiga tindak di depan. Turut mengantri proses pemeriksaan tiket di antara sepasang pilar petugas wanita yang mengenakan seragam senada. Airmatanya kini sudah menderas.
Dan ia baru saja hendak memperlihatkan tiketnya kepada petugas bandara ketika tiba-tiba merasakan pergelangan tangannya dicekal. Ia berbalik, dan sedikit menepi ke sisi tembok menghindari desakan orang-orang yang masih berjubel di belakangnya. Ia sudah terpisah dengan Jennifer yang telah melewati proses pemeriksaan tiket.
“Ro-Ronald?!”
“Sori, aku mengganggu keberangkatan kamu sebentar.”
“Kok kamu bisa masuk kemari?!”
“Aku minta izin sama Kepala Petugas Bandara. Aku bilang, ada hal penting yang hendak aku sampaikan kepada kamu.”
“Hei….”
“Ssstt. Untung Kepala Petugas Bandara itu baik, dan mengizinkan aku masuk sebentar kemari.”
“Un-untuk apa?!”
“Ada sesuatu yang lupa aku sampaikan kepada kamu tadi.”
“Apa itu?”
Amelia merasakan tubuhnya terentak ke depan. Ia limbung, dan tiba-tiba sudah berada di dalam pelukan Ronald. Dadanya serasa sesak.
“Aku mencintai kamu, A Mei!”
“Ak-aku….”
“Take care. Aku akan menunggumu sampai kapan pun juga.” (blogkatahatiku.blogspot.com)