16 January 2014

LOVE IN REINCARNATION 03

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Foto: Effendy Wongso
Meski rapat para guru telah selesai, namum guru-guru masih belum keluar dari aula guru. Mungkin ada hal yang mereka bicarakan selain penerbitan majalah edisi perdana sekolah, yang rencananya akan dicetak full-colour dengan kertas art-paper. Eksklusif memang untuk level sekolahan. Tapi itulah yang diinginkan founder dan dewan sekolah. Mungkin hal tersebut merupakan bagian dari promosi sekolah menjelang Tahun Pelajaran Baru. Buktinya, majalah World Chronicle akan dilempar ke pasar umum dan bakal terbit rutin setiap bulan. Memang sebuah terobosan besar yang dilakukan oleh sebuah sekolah menengah umum. Itulah sebabnya mereka tidak tanggung-tanggung mengirim dua siswa utusan jurnalis ke China. Rupanya rubrik-rubrik yang akan ditampilkan nanti di majalah harus up to date. Langsung dari pandangan mata. Dan bukan sekadar menyalin dan mengembangkan bahan yang diulik dari berbagai sumber.
Anak-anak masih tampak santai. Berleha-leha sejenak dari rutinitas harian yang bikin otak terbebat. (Namun seperti kebiasaan dan minat baca yang besar di kalangan remaja Singapura, waktu luang yang sebagaimana bebasnya pun mereka pergunakan untuk membaca. Biasanya perpustakaan jadi sangat ramai pada momen-momen lowong tanpa guru. Hanya sedikit saja yang benar-benar santai sekadar ngalor-ngidul).
Dan yang masuk bagian dari yang sedikit itu di antaranya adalah Amelia dan Jennifer. Siang itu, setelah mengikuti rapat guru di aula guru tadi, ia menceritakan panjang-lebar apa yang telah diputuskan oleh dewan sekolah dan para guru kepada Jennifer.
“Kita akan ke China.”
“Kita? Hei, kamu ngomong apa sih?”
“Sekolah mengutus kita berdua meliput profil kebudayaan China.”
“Hah, di China?!”
Jennifer memepetkan telinganya nyaris menyentuh bibir Amelia. Ia masih belum yakin benar dengan indera pendengarannya sendiri, meskipun pemimpin redaksi mading sekolah itu sudah memaksimalkan volume suaranya sampai pada desibel tertinggi. Akibatnya, tingkahnya yang serupa orang tuli itu ditanggapi dengan satu totokan di dahi oleh Amelia. Pasalnya, gadis berbintang Gemini yang memiliki jiwa kepemimpinan itu, meski kadang-kadang jutek dan jaim, kesal separo hidup karena nyaris mencium telinga Jennifer tanpa sebab. Sahabatnya yang bertubuh sebesar kulkas dua pintu di rumahnya itu terlonjak. Kontan menggeser posisinya agar menjauh sedepa dari tempatnya berdiri sebelum kena jitak yang bisa bikin kepala bentol sebesar biji gundu.
“Iya, di China. Memangnya di Nigeria?!”
“But, dalam rangka apa?”
“Sekolah kita akan menerbitkan majalah. Namanya, World Chronicle. Majalah ini berisi rubrik-rubrik tentang beragam kebudayaan dunia. Nah, dewan sekolah dan para guru memutuskan kita sebagai pengurus mading untuk meliput beberapa kebudayaan China di majalah edisi perdana itu.”
“Ja-jadi, kita langsung meliput ke China?!”
“Bukan. Di Nigeria! Kamu tuh ya, sudah dibilangi ‘di China-di China’, masih saja nyinyir begitu seperti nenek-nenek!”
“Ah, yang benar kamu, A Mei?”
“Kalau tidak percaya, ya sudah!”
“Eit, tunggu-tunggu. Jangan marah, dong. Maksud aku, kenapa kita alias ‘why us’ dan kenapa pula harus meliput kebudayaan China?”
“Kalau di Nigeria, yang akan kita liput tuh gajah sejumbo badan kamu, tahu! Nih, anak dikasih tahu juga malah ngeyel!”
“Sori. Aku kan tidak mengikuti rapat kalian. Ya, mana tahu kalau kita akan ditugaskan apa?”
“Kita ini pengurus teras mading, A Fang. Jadi, siapa lagi kalau bukan kita? Nah, untuk pertanyaan kamu yang bilang kenapa harus China, silakan tanya sendiri sama yang bersangkutan, dewan sekolah dan para guru. Mengerti?”
Jennifer yang dipanggil dengan nama kecil A Fang itu terkikik. Menutup mulut dengan telapak tangannya yang selebar pelepah daun pisang. Tubuh bongsornya tampak menggemeletar seirama tawa yang sudah menyeruak tengil. Lucu melihat Amelia sewot begitu. Tampangnya jadi anehmirip orang yang lagi kebelet pipis.
Sementara itu Amelia sendiri mengatupkan bibirnya gemas. Menggeleng-geleng untuk beberapa saat menanggapi kelakuan sahabatnya yang, selain punya hobi bobo dan makan itu, juga memiliki otak yang suka ‘hang’.
Menanggapi kata ‘hang’ yang diumpatkannya dalam hati tadi, Amelia suka tertawa sendiri. ‘Hang’ adalah sebuah istilah dalam komputer kalau sang komputer itu sering ngadat. Berasal dari kata hang dalam bahasa Inggris, yang kurang lebih berarti ‘menggantung’. Biasanya karena prosesor komputer itu belum canggih. Kurang lebih sekelas pentium satu yang masih lamban. Lain halnya dengan pentium empat yang sudah canggih dan dapat mengakses data secepat meteor. Nah, Jennifer pun memiliki otak yang belum secanggih prosesor pentium empat. Jadinya, sering ‘hang’ dan telmi, telat mikir!
“Wah, kalau begitu asyik dong. Kita bisa ngelencer ke China. Lantas, ngubek-ngubek….”
“Stop!” Amelia mengibaskan tangannya di depan wajah riang Jennifer. “Aku tidak mau mendengar kalimat ‘restoran’ dan ‘makanan’. Cukup semua itu. Aku sudah muak mendengarnya. Rasanya mual dan mau muntah.”
“Memangnya kamu lagi ‘ngidam’ ya, sampai sebegitunya mau muntah dan mual segala rupa?”
“Pokoknya, STOP dengan hobi latenmu yang bikin orang bisa masuk Rumah Sakit Jiwa itu.”
“Hahaha, Caaapeee Dehhh! Iya, iya, aku stop deh sesuai amanat dari Tuan Putri.”
“Nah, bagus.”
“Hm,” Jennifer memelas. “Tapi, A Mei, memang apa tidak kompensasi.”
Amelia mengerutkan dahi. “Maksud kamu, apaan sih?”
“Kan, sayang kalau kita tidak JJS dan ngelayap nyobain….”
“Stop, stop, stop!”
“Lho, memangnya tidak boleh? Mumpung di China, lho. Masak tidak mau nyobain masakan tradisional mereka yang sudah kesohor ke seantero dunia.”
“Tidak boleh! Saban hari aku selalu mendengar kalimat ‘makan-makan-makan’-mu itu. Jadinya, meskipun sebenarnya aku lapar, tapi aku tuh bakal kekenyangan mendengar kalimat ‘makanan’-mu itu! Setiap hari yang diomongin ‘makan-makan-makan’ melulu. Sekalian saja kamu pasang artikel masak memasak di mading kita! Atau, bikin rubrik kuliner di majalah baru kita nanti. Biar kamu puas-puas-puas!”
“Sori, deh….”
“Ya, sudahlah. Yang penting kamu siap-siap dan berkemas-kemas saja untuk berangkat ke China. Senin pagi depan kita akan berangkat. Bawa keperluan secukupnya. Jangan macam-macam seperti hendak berimigrasi ke negara lain saja. Mengerti?”
“Oke, Bos.”
“Dan ingat. Janji untuk tidak ngorok melulu.”
“Oke, Bos.”
“Juga, jangan makan melulu.”
“Yah, lapar dong, Bos!”
“Lapar-lapar-lapar! Kalau lapar, ikat perut kamu dengan ikat pinggang. Memangnya perut kamu terbuat dari karet apa hingga setiap menit harus diisi makanan?!”
“Hihihi….”
“Jangan ketawa. Aku lagi serius!”
“Oke, oke. Aku janji bakal menahan lapar, Bos.”
“Bagus.”
“So, apa lagi yang mesti aku patuhi sebagai syarat perjalanan ke China nanti?”
“Hm, oh ya. Ingat juga, jangan bawa bakul.”
“Bakul? Memangnya….”
“Ya, iyalah. Kalau kamu bawa bakul berarti mulut kamu yang lebar tidak bakal berhenti mengunyah nasi.”
Jennifer membeliak di akhir kalimat Amelia. Seperti biasa, Amelia berlari di antara labirin bangku-bangku kelas, menghindari gadis bertubuh besar itu sebelum telapak tangannya yang selebar daun pisang menabok punggungnya.   
Beberapa siswa yang tengah berada di dalam kelas terlongong melihat kelakuan tengil kedua anak yang mengurusi mading sekolah tersebut. Dan ulah berisik mereka berhenti ketika bel sekolah berdentang memekakkan. Beberapa menit kemudian seorang guru masuk ke dalam kelas mereka untuk mengajar ‘Teknik dan Logika Abakus’.
Ronald yang diam-diam memperhatikan mereka tadi sontak berdiri. Memerintahkan anak-anak yang baru masuk kelas, dari perpustakaan maupun yang sudah sedari tadi berada di dalam kelas untuk duduk tenang kembali ke bangkunya masing-masing. Tentu saja setelah membungkuk hormat dan menghaturkan salam seperti biasa. (blogkatahatiku.blogspot.com)