16 January 2014

LOVE IN REINCARNATION 02

Oleh Weni Lauwdy Ratana

TENTANG ENIGMA MASA LALU
  
Foto: Dok KATA HATIKU
SMA Saint Teresa tampak lengang. Tidak ada kegiatan belajar mengajar pada dua setengah jam pertama sejak bel masuk berdentang pagi tadi. Di sini, di salah satu ruangan gedung sekolah, Amelia terpekur di antara perbincangan serius beberapa orang guru dan dewan sekolah. Ia mendengar takzim. Dan hanya sesekali mengeluarkan pendapat pada rapat di aula guru pada hari ini.
“Jadi, kami menyerahkan tugas ini pada kamu dan Jennifer Chan.”
Amelia kemekmek, masih berusaha menyanggah. “Ta-tapi, kenapa harus saya, Pak?”
“Kami guru-guru sudah menilai kinerja kamu dalam satu kuartal ini. Prestasimu bagus. Mading yang kamu pegang juga berhasil. Tiap minggu kami membaca artikel-artikel yang kamu muat. Selama ini, tidak ada yang kurang selain perlunya perbaikan-perbaikan nonteknis. Hm, kami sangat yakin dengan kemampuan jurnalis kamu. Jadi, itulah alasan kami memilihmu untuk melakukan tugas jurnalistik ke China,” tampik Kepala Sekolah, lalu berusaha membujuk supaya Amelia segera memenuhi tuntutan tugas yang mereka sepakati bersama.
“Tapi….”
“Sudahlah, A Mei. Yang penting kamu harus siap dan sungguh-sungguh. Majalah edisi perdana sekolah kita harus berhasil, dan tidak kalah bagusnya dengan majalah-majalah umum lainnya. Kamu bebas membentuk kelompok redaksi. Boleh memilih siapa-siapa saja sebagai pengasuh majalah kita. Tapi tentu saja, kamu harus selektif memilih anak-anak yang punya bakat menulis saja. Kami para guru hanya dapat mensupport kamu dari belakang. Masalah dana, founder dan dewan sekolah sudah siap mengeluarkan bujet yang kamu perlukan selama di China. Juga untuk biaya cetak majalah dan segala macam nantinya.”
“Tapi….”
“Oya, mengenai semua akomodasi selama kamu di China, kami akan menghubungi kamu lagi nanti. Di Beijing sudah ada guide sebuah travel yang akan mengantar kalian ke objek-objek utama bahan tulisan majalah kita nantinya. Jadi jangan khawatir bakal tersesat. Secara reguler kalian adalah turis. Jadi, enjoy saja di sana.”
“Tapi….”  
“Baiklah, rapat segera kita tutup dengan menyepakati Amelia Samantha Hong menjadi duta jurnalis SMA Saint Teresa ini ke China. Bapak-bapak dan Ibu-ibu guru sekalian, tidak ada yang keberatan, kan?”
“Tidak ada!”
Kalimat serupa koor dalam nada kalimat yang sama ‘tidak ada’ itu menyudahi rapat para guru siang ini. Amelia menghela napas panjang-panjang. Tidak ada kesempatan untuk menolak keputusan para guru dan dewan sekolah. Palu amanat baru saja diketukkan dengan keputusan yang tidak dapat diganggu gugat. Rasanya ia baru saja mendengar ‘vonis’ yang membahagiakan.
SMA Saint Teresa mempercayakan majalah terbitan perdana ini dipegang oleh Amelia Samantha Hong Xiao Mei!
Ini merupakan sebuah kebanggaan besar sepanjang hidupnya! 
Bentangan langit sudah semakin membiru ketika Amelia keluar dari ruang rapat guru. Tak sedikit pun terlihat awan gemawan yang biasanya menghiasi gigir langit. Kadang-kadang iklim panas tropis memang membuat kulitnya yang putih bersih itu jadi sedikit sensitif. Dan ia selalu misuh-misuh kalau badannya sudah kemerah-merahan dan terasa gatal disengat Sang Surya. Sudah seharusnya memang suhu di Singapura memanas. Penghujung musim hujan baru saja berlalu.
Tapi hari ini Amelia memang tidak menyangka kalau temperatur udara akan menyengat begini. Makanya, sejak dari rumah pagi-pagi sekali ia tidak menyiapkan apa-apa untuk melindungi dirinya dari panas matahari, paling tidak sunblock cream yang telah meluluri badannya jauh sebelum terik mentari siang memanggangnya.
Namun, meski begitu, hari ini suhu sepertiga didih itu tidak terlalu menggamangkan hatinya. Hari ini ia tidak terlalu mempermasalahkan cuaca tropis yang sudah condong ke musim kemarau. Rupanya ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya ketimbang jatah ngedumel semisal misuh-misuh yang rutin dalam hidupnya jika musim sudah sedikit berubah ekstrim seperti sekarang ini.
Persoalannya, ya karena itu tadi.
Bahwa, dari hasil rapat di aula guru barusan, ia mendapat kabar yang cukup surprais. Surprais karena, beserta Jennifer Chan Mei Fang ia akan diutus ke China sebagai duta jurnalis sekolah.
Ihwal semua itu tentu saja dalam rangka penerbitan majalah edisi perdana sekolah mereka. Dan sudah barang tentu hal tersebut merupakan prestasi yang membanggakan, yang tidak dapat dilakukan oleh semua siswa di SMA Saint Teresa.
Sebagai pemimpin redaksi mading, ia dinilai memiliki komitmen di bidang jurnalis. Lantaran itulah, maka topik tersebut dibahas intensif dalam rapat dewan sekolah. Yang pada akhirnya final menghasilkan keputusan mutlak yang tidak dapat diganggu-gugat.
Jadi, tak ada keputusan terlebih banding dalam rapat selain menyepakati pemberangkatan Amelia Samantha Hong dan seorang staf redaksi representatifJennifer Chan Mei Fang. Majalah sekolah yang bakal berisi beragam rubrik kebudayaan dunia itu patut dijadikan lektur penting untuk wawasan para siswa di SMA Saint Teresa khususnya, dan sekolah-sekolah lain pada umumnya. Rapat guru-guru juga memutuskan, untuk majalah terbitan perdana itu, obyek kebudayaan dan situs-situs bersejarah Negeri China akan dijadikan profil pertama serta menjadi headline di majalah World Chronicle, nama majalah sekolah mereka.
Ia masih tercenung dengan rupa sumringah di perempatan koridor aula guru dan kelasnya ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Tidak terlalu keras memang, tapi cukup untuk membuyarkan semua angan indahnya yang saat ini sudah terpencar dan terbang ke langit biru. Ia menoleh. Wajah bundar Jennifer menyambut tatapan matanya dengan ringisan heran plus empat kerutan di dahi.
Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Tanpa dipanggil Si Gendut pun datang. Heh, ia tidak perlu berpayah-payah lagi ke kelas kalau begitu. Mengabari Jennifer perihal tugas jurnalistik mereka di China nantinya. Si Gentong Nasi itu sudah berjalan sendiri, dan kini telah berdiri di hadapannya dengan wajah berminyak, salah satu tanda lahir seorang Jennifer Chan memang begitu.
“Hayo, ada apa? Kok senyam-senyum senyam-senyum sendiri, sih?”
Amelia mencibir. Bersidekap tangan lalu membuang muka. Mencoba menebar rasa penasaran di hati gadis bertubuh besar itu. Sahabat tetanggaannya tersebut memang selalu ingin tahu meski sama sekali tidak terlibat dan tidak memiliki andil apa-apa dalam sebuah permasalahan.
“Oh, I see. Kamu pasti ditembak sama Ronald, kan?”
Jennifer mengacung-acungkan telunjuknya di depan wajah tirus Amelia. Dan tersenyum penuh kemenangan seolah paparazzi yang telah membongkar sebuah top-secret dari seorang selebritis yang disembunyikan dari khalayak publik.
Memang, selama ini Jennifer tahu kalau Ronald sang Ketua Kelas naksir sama Amelia. Tapi sayang perasaan cowok itu selalu dipendam dalam hati saja. Jadi selama ini pula ia belum pernah mengungkapkan kata cinta secara terbuka dan terus terang kepada Amelia. Boro-boro ucapan cinta dari bibirnya sendiri, sebaris SMS cinta pun belum pernah. Namun biar begitu, Jennifer tahu kalau yang namanya Ronald Tan Gio Hok itu diam-diam mencintai Amelia. Buktinya, cowok berkacamata minus itu selalu kikuk bila berhadapan dengan Amelia. Juga tatapan matanya yang rikuh dan menyiratkan banyak makna bila memandang cewek pujaan hatinya itu dari jauh.
Heh, bukankah orang yang tengah jatuh cinta selalu berkelakukan aneh-aneh? Ronald pun begitu. Pokoknya, meskipun ia tidak pernah memploklamirkan diri bilang suka dan cinta sama Amelia, tapi seisi kelas juga tahu kok! Jadi, orang bego saja yang tidak paham kalau kelakuan cowok cool itu bukan sedang jatuh cinta. Buktinya lagi, saban hari kelakuannya persis kura-kura kepanasan bila bersitatap mata dengan Amelia.
“Kalian jadian, ya?” Jennifer masih mencecar dengan beragam pertanyaan pada sahabatnya yang tiba-tiba saja hari ini berubah jadi riang begitu. “Ronald ngajak kencan, ya? Duh, first date, nih yee?”
Amelia kembali mengarahkan sorot matanya ke wajah bundar Jennifer. Dientakkannya kaki keras-keras ke lantai koridor. Pura-pura sewot akibat keceriwisan gadis prenjak yang punya hobi tidur dan makan apa saja yang enak-enak itu.
“Siapa juga yang ngajak kencan?!”
“Kagok ya?” Jennifer menggoda. “Habis, kencan pertama sih!”
“Jennifer Chan!” Amelia berkacak pinggang, melototkan matanya sehingga membulat sebesar bola pingpong. “Kamu ini ngomong apa, sih?! Asal nimbrung tanpa tahu apa tema masalahnya!”
Jennifer meleletkan lidahnya. “Memangnya apa lagi kalau bukan masalah Si Ronald Tan itu?”
Amelia mengayunkan tangan kanannya, pura-pura bermaksud menabok lengan Jennifer yang sebesar pilar bangunan mediterania. “Ka-kamu….”
“Hihihi… malu, ya?”
Amelia mengerutkan wajahnya menyemburatkan nada cemberut. Namun seulas senyum menyungging di bibirnya lima detik setelahnya.
Tiinggg!
Mendadak ia mendapat ide untuk ‘ngerjain’ Jennifer. Diliriknya gadis berbadan subur itu sembari menahan geli akibat ide lelucon yang bakal dilontarkannya, yang kini tengah menggelitik di serabut kelabu otaknya. Gadis nyinyir macam ini harus dikasih pelajaran biar tidak selalu merecoki urusan paling pribadi orang. (Apalagi kalau bukan perihal cowok yang bernama Ronald?!)
“Benar, kan? Temanya pasti tentang Si Ronald Tan itu, kan? Hayo, terus terang saja. Tidak usah malu-malu tikus begitu,” Jennifer masih mendesak dalam nada ledek.
“Ya, bukanlah!” Amelia menegaskan suaranya dalam nada jerit-gemas. “Kamu sok tahu, sih! Apa-apa yang berurusan denganku pasti dikatai: ‘Si Ronald-Si Ronal-Si Ronald’. Memangnya hidupku hanya berhubungan dengan Si Ronald Tan apa?!”
“So, apa dong?”
“Besok ada pesta makan-makan di halaman belakang sekolah. Itu masalahnya.”
“What?” Jennifer bertanya antusias sampai-sampai sepasang biji matanya nyaris terlontar keluar. “Makan-makan?!”
“He-eh. Makanya, jangan sok tahu begitu, dong! ”
“Be-benar, nih?!”
“Iya, makan-makan. Memangnya apa?”
“Dalam rangka apa, sih? Kok, aku tidak tahu? Memangnya tidak pakai undangan apa?”
“Mau pakai undangan kek, mau tidak kek, pokoknya aku tidak tahu ya, tidak tahu. Yang penting makan-makan. So, jangan cerewet lagi.”
“Asyik, asyik. Makan-makan, makan-makan.”
“Ya, makan-makan sampai puas.”
“Yess! Yess! Makan-makan, makan-makan. Eh, Barbeque garden party, ya? Iya, kan?”
“Mana aku tahu. Maybe, barangkali. Mau barbeque garden party kek, mau barbeque water closed party kek, ya terserah. Itu bukan urusanku.”
“Ya, benar juga, sih. Terserah acaranya apa dan dalam rangka apa, yang penting kan, makan-makannya itu lho. Asssyiiiik….”
Amelia mengibaskan tangan seolah menggebah tawon menanggapi tepuk tangan gembira Jennifer. Dikuncupkannya pelepah bibir serapat mungkin. Berusaha menahan tawa yang hendak meruap dari kerongkongannya.
Huh!
Biar tahu rasa si Karung Beras itu, betapa kecewanya nanti saat ia ternyata dikelabui!
Hehehe! kekehnya dalam hati.
“Eitss… jangan senang dulu,” lontarnya kemudian, kali ini menggrendel kegembiraan Jennifer dengan sebaris kalimat gantung. Telapak tangan kanannya pun mengelopak menggantung di udara mengisyaratkan STOP!
“Kenapa?!”
Kali ini Amelia sudah tidak dapat menahan tawanya. Dilontarkannya ide kalimat lelucon yang sedari tadi tertahan di tenggorokannya.
“Karena yang akan dimakan adalah rumput halaman belakang sekolah yang sudah meranggas! Hahaha… hahaha….”
Jennifer shock.
Dan ia menjerit histeris karena kecewa. Sementara itu Amelia masih terkikik seperti kuntilanak, lalu melarikan diri sebelum gadis gembrot itu menabok punggungnya dengan telapak tangannya yang selebar daun pisang.
“Awas kamu ya, A Mei!”
“Heh, aku tidak salah kan? Besok memang ada kerja bakti bersih-bersih rumput di halaman belakang sekolah!”
Amelia yang memiliki nama kecil A Mei itu terus berlari, dan tepat berhenti di bingkai pintu kelasnya saat nyaris bertabrakan dengan Ronald sang Ketua Kelas. (blogkatahatiku.blogspot.com)