14 January 2014

KONTEMPLASI

Oleh Ahmad Arafat A.

Di langit kutanya, mana pintu-Mu?
Di angin kuhela, mana lagu-Mu?
Di Surya kupandang, mencari cahya-Mu
Di Bumi kupijak, mencari jejak-Mu
Ingin kukecapi
: selaksa layang kasih-Mu
Ingin kugenggami
: semburat Panji Agung-Mu
Duhai hari,
kemanakah engkau pergi?
Duhai hati,
kepada siapa engkau kembali?
/
Aku adalah sepercik embun pagi
yang mendekami hijaunya bumi
dan akan jatuh ke tanah hakiki
lalu kembali ke awan abadi
Aku hanyalah setitik cah'ya lentera
yang merajang terangnya purnama
walaupun ternyata,
ku kan sirna tiada berjaya
Aku ialah yang tak berdaya
didera gelombang badai cinta
terhempas tajamnya duri cita
bertahan pada sepokok asa
Aku hanyalah pengelana
yang terasing juga terbuang
berjalan di belukar nan menghadang
mengarungi samud'ra hidup penuh gelombang
\
Ku berlari mengejar mentari
berkeliling di belantara mati
berteduh di pojok ilusi
berlindung di balik mimpi
Oh... bilakah sayapku tumbuh
agar ia membawaku pada masa itu
dimana warna tiada berbilang
dan rasa menjadi gelora?
Sehingga ku 'kan tenteram kini
berjalan di teriknya bayang Mentari
dinaungi awan pembasuh nurani
di kaki Langit, berkawan Pelangi