19 January 2014

KENAIKAN HARGA ELPIJI 12 KILOGRAM

Polemik Tak Populis di Awal 2014

Foto: Effendy Wongso
Langkah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga tabung gas Elpiji 12 kilogram hingga 68 persen, meskipun direvisi kembali ke harga yang jauh lebih kondusif tak lantas menyurutkan kekhawatiran sejumlah masyarakat, terutama para pengusaha warung dan rumah makan. Tindakan instansi yang memproduksi gas tabung biru tersebut tersebut dianggap tak populis sebab efeknya tak hanya memberatkan, akan tetapi berimplementasi terhadap terjadinya inflasi yang merugikan banyak pihak.
Naiknya harga gas Elpiji tabung 12 kilogram benar-benar memukul para konsumen, tak hanya pengguna di kalangan rumah tangga dan industri kecil tetapi juga para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Tidak mau rugi besar atas kenaikan tersebut, mereka memilih beralih menjadi konsumen Elpiji tiga kilogram yang jauh lebih murah.
Selain harganya jauh lebih murah karena disubsidi oleh pemerintah, sebelumnya tabung gas yang lebih dikenal dengan nama “tabung melon” ini juga mudah dijumpai di penyalur atau toko-toko kecil mitra Pertamina. Akan tetapi, sejak kenaikan harga tabung biru 12 kilogram, tabung melon sempat menjadi barang langka karena diburu oleh masyarakat.
Terjadinya migrasi penggunaan tabung tersebut, tidak saja dilakukan oleh para pengusaha kecil seperti pelaku rumah makan dan warung-warung kecil, namun juga sudah terjadi pada konsumen dengan perekonomian menengah. Dari pantauan KATA HATIKU, peralihan penggunaan Elpiji 12 kilogram ke tabung tiga kilogram sudah merambah pada semua penjual gas Elpiji di Makassar.
Hal ini diakui oleh salah seorang supervisor Kartu Kredit BCA Makassar saat dimintai komentarnya sebagai pengguna produk Pertamina dari kalangan menengah tersebut beberapa waktu lalu. Menyoal kenaikan yang tergolong tak rasional itu, ia mengungkapkan bahwa kenaikan harga tabung gas Elpiji 12 kilogram, jelas akan berdampak ganda terhadap masyarakat.
“Untuk masyarakat menengah ke bawah, meski tabung gas yang dipakai selama ini, yang berukuran tiga kilogram atau melon tidak naik sesignifikan tabung biru, tetapi akan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan lain lantaran faktor inflasi,” terangnya.
Ditambahkan, bagi masyarakat menengah ke atas yang tak terlalu berdampak atas kenaikan pertama di pengujung tahun lalu, kali ini kenaikan sangat terasa karena kenaikan mencapai 68 persen atau naik sekitar Rp 3.959 per kilogram, meskipun pada akhirnya harga kemudian direvisi Rp 1.000 per kilogram.
Terkait kenaikan harga Elpiji 12 kilogram, sebagian masyarakat di Makassar pun sempat kesulitan mendapatkan Elpiji tabung tiga kilogram. Pemilik warung Sop Saudara di Jalan Andalas, Daeng Saleh, saat ditemui pada Senin (13/1/2014), mengaku kelangkaan gas tabung melon tersebut sudah dirasakannya sejak Minggu (5/1/2014) lalu.
“Rencana saya mau menaikkan harga jual makanan. Terpaksa, soalnya gas melon (tabung tiga kilogram) sudah tidak ada di penyalur. Saya bahkan sudah mencari di beberapa penyalur, tetapi tabung melon semuanya kosong. Banyak sekali orang cari gas tabung melon, saya sendiri juga pusing mau cari kemana lagi,” keluhnya.
Meski tidak tahu pastinya penyebab kosongnya tabung gas tiga kilogram terebut, tetapi ia menduga ada oknum yang menimbun tabung gas yang paling banyak dipakai oleh para pedagang warung kecil di Makassar ini.
“Kosongnya tabung gas melon ini kemungkinan disebabkan oknum. Biasalah, saya kira ini cara-cara lama spekulan. Bayangkan, kenaikannya tidak kira-kira,” tambahnya.
Ketika diingatkan bahwa harga tabung gas 12 kilogram sudah direvisi dari Rp 3.959 per kilogram ke Rp 1.000 per kilogram pun, pria yang pernah menjadi penarik becak ini tetap pesimis terhadap kestabilan ketersediaan pasokan gas di Makassar.
“Tidak berpengaruh, soalnya semua orang pasti memburu tabung gas melon. Saya lihat, banyak pengusaha rumah makan besar di sekitar sini yang juga sudah pakai tabung gas melon ini,” ungkapnya, enggan menyebut nama-nama rumah makan yang dimaksud.
Senada keluhan Daeng Saleh, salah seorang pengusaha warung kaki lima yang terletak di kawasan yang sama, Sunaryo, mengaku mengalami hal serupa. Selain kelangkaan, harga gas tabung tiga kilogram tersebut pun ikut terkerek naik.
“Dari penyalur langganan saya juga mengalami kelangkaan. Saya sendiri selalu dapat, tetapi harganya sudah lebih mahal,” ujar pria asal Lamongan, Jawa Timur ini.
Sementara itu, Jr Officer Community Development PT Pertamina Region VII Makassar, Umar Ibnu Hasan, yang dikonfirmasi di kantor Pertamina, Jalan Garuda, Makassar beberapa waktu lalu, mengaku stok Elpiji tabung tiga kilogram di Pulau Sulawesi, khususnya di Makassar, aman.
“Satgas sudah kami bentuk dan baru mereka melaksanakan tugasnya. Satgas ini setiap harinya jalan melakukan pengawasan penyaluran Elpiji dalam masyarakat. Tetapi kami mengimbau, biar sudah dibentuk Satgas namun masyarakat perlu melakukan pengawasan. Jika ada penyimpangan, segera laporkan ke bagian pengaduan PT Pertamina,” pesannya.
Umar enggan lebih jauh merinci polemik yang terjadi lantaran kenaikan tabung gas 12 kilogram serta revisi harganya, sebab ketentuan itu telah menjadi keputusan Pertamina di pusat. Yang pasti, pihaknya hanya dapat mengawasi kelancaran ketersediaan dan distribusi semua tabung gas di areanya.
Ditemui di tempat yang sama, General Manager PT Pertamina Marketing Operation Region VII, Dani Adriananta, mengatakan bahwa manajemen PT Pertamina mencatat peningkatan jumlah konsumsi Elpiji tiga kilogram hingga 20 persen, di mana merupakan peralihan dari pengguna gas Elpiji 12 kilogram.
Dijelaskan, konsumsi rata-rata masyarakat Makassar sekitar 200 metrik ton (MT) per hari, naik menjadi sekitar 240 MT per hari. “Kami memperkirakan banyak masyarakat yang berpindah menggunakan tabung gas Elpiji tiga kilogram sebagai alternatif pascakenaikan harga Elpiji lalu. Tentu saja ditujukan bagi masyarakat yang memungkinkan untuk menggunakan gas Elpiji subsidi,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)