23 January 2014

KEKASIH DAN JINGGA KENANGAN

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Kekasih dan Jingga Kenangan
- catatan harian pada sebuah diari....

(dari seuntai puisi alit yang telah berdebu:
'Kekasihku yang Tak Pernah Ada')

Ada sepasang layang-layang
yang pernah kau terbangkan
kala angin mendesau sebelum gerimis
: ingatkah, lak nan rapuh
telah mengoyaknya saat mengangkasa

Lalu ia benar-benar boyak oleh air hujan
tak lama berselang, dan kita pongah dalam uras
: biarkan saja, demikian katamu
lalu kita sama-sama ketawa seperti gila,
sebab rinai nan satu satu adalah tirai ajaib
yang turun oleh lara airmata dewi
yang menangis didera asmara

Tak kita peduli lagi layang-layang
yang jamah bumi
dalam cumbu nirkaru dengan tanah
seonggok sobekan menjelma kolumela
di antara kolimasi dan tirai-tirai patah
dan tak lama membusuk dalam selokan

Sesal jadi tak berarti
: sebab sauh mata pada banglas langit
adalah ambal dan mafela
yang mengelabu oleh indah gemawan

Namun cinta tak selamanya indah
seperti layang-layang yang ruyak
serupa hering tak bersayap
patah dalam penantian

Kasih, tanpamu
: aku menjelma pesakit tanpa eliksir
tidakkah kau dengar raung suaraku
yang membentur dinding gawir
dan tiap sebentar mengentropi
dari satu sisi hati ke sisi lainnya
: energi ini telah mati!

Kasih, tanpamu
penantian ini merupakan kenangan
yang menjingga dan lesi....