24 January 2014

KAULAH DARAH DAN NADIKU

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Pernah kukubur ia dalam naf bumi
namun ia merancak dalam bayang-bayang
sungguh,
aku mati setelahnya

Malam adalah insomnia
dan gericau serangga adalah gerus luka
sepanjang titi untai selendang puan
menuju ranah rembulan pasi

Kota sampai saat fajar seperti mati
dengkur insan adalah lak dan belenggu
bagai pemati dalam tabela bersprai putih,
tak ada kokok kinantan yang memanggil
tak ada liuk cemara yang melambai
biarpun landung embun diantar angin dan desau

Tubuhku menggerindin
siang dan siang adalah ultimatum
nyawaku tinggal sejengkal
di dalam obsesi dan angan

Karena kau, Kekasihku
adalah cinta yang telah menjelma
darah dan nadi dalam tubuhku
meskipun kau telah meraga dengan perempuan itu....