13 January 2014

KAMU BUKAN MALING, TYA!

Oleh Effendy Wongso

Foto: Dok KATA HATIKU
PROLOG

Lelaki itu membanting pintu Pajero-nya. Tatyana mengawasi gerak gegas ayahnya itu dengan mata kuyu. Bibirnya mengatup rapat. Dia belum beranjak dari dalam  mobil. Ekor matanya mengikuti punggung lelaki berkemeja kantor itu sampai menghilang di balik pintu rumah.
“Dia bikin malu Papa lagi, Ma!”
Dari dalam rumah, lapat didengarnya Papa berteriak. Amarah yang sudah mengumbar sekali tadi, kini meledak-ledak kembali.
Air mata Tatyana menitik. Bukan hanya sekali dia melakukan hal yang tidak terpuji seperti barusan tadi. Tapi, sudah berkali-kali!
“Papa tidak habis pikir, Ma! Apa sih yang kurang kita kasih kepada dia lagi?!”
Tatyana menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Digigitnya bibir. Lantas diliriknya sebuah boneka kucing di atas dashboard. Lucu. Seolah menatapnya dengan kepala yang meneleng. Tak sadar dia tersenyum. Gemas sekali di matanya. Boneka kucing kecil itulah yang menjadi biang kemarahan Papa.
“Semua ini gara-gara Mama yang tidak becus mengawasinya!”
“E, eh… apa-apaan sih, Pa?!” Terdengar sanggahan, tidak kalah ketusnya dengan suara yang mendiskreditkan tadi. “Kok, Mama yang disalahkan?!”
“Ya jelas! Papa sudah berulang kali mengingatkan Mama supaya mengawasi Maling Kecil itu!”
“Tya bukan pencuri!”
“Apa bedanya kalau hampir setiap minggu Papa mendapat panggilan dan teguran dari, nyaris semua swalayan di kota ini!”
“Pa, Tya anak kita! Dia bukan pencuri!” jerit Mama serak dengan suara paruh tangisnya.
Tatyana belum bergeming dari jok mobil. Kepalanya tertekuk lunglai ke dada. Rasa-rasanya dia ingin berteriak. Biar seisi dunia tahu kalau dia bukan pencuri seperti tuduhan semua orang. Mengapa semua orang menuduhnya pencuri?! Sekarang, bahkan Papa sendiri pun sudah menganggapnya pencuri!

***

TATYANA ROMANOV

“Saya ibarat penderita kusta. Dijauhi, dimusuhi….”
“Mereka tidak bermaksud begitu….” Edwin menyela, berdiri dari duduknya di bangku kantin sekolah.
Saya menggigit bibir keras, menahan tangis yang hendak menyeruak.
“Bahkan, Papa mempermalukan saya di hadapan orang banyak…,” urai saya parau. Sungguh, saya sakit hati dan sedih ketika mengingat kejadian kemarin siang. Papa menampar pipi saya. Lalu memaki-maki saya pencuri di hadapan pembelanja swalayan.
“Ta-tapi….” Edwin kembali duduk di samping saya. Keningnya berkerut.
“Padahal, saya tidak mencuri….”
“Iya, saya tahu kamu tidak mencuri. Kamu cuma klepto. Itu cuma penyakit….”
“Apa bedanya….”
Edwin terdiam.
“Mungkin dengan kepergian saya ke Praha, akan dapat menyelesaikan masalah. Supaya Papa-Mama tidak malu lagi punya anak pencuri!”
“Tya…!”
“Trims, Win. Hanya kamu yang percaya saya bukan pencuri.”
Saya berlalu dari kantin. Saya merasa tidak punya harga diri lagi meski Edwin dengan tulus membela saya. Dia cowok yang baik. Dan hanya dialah satu-satunya yang tidak mengasingkan saya seperti teman-teman lainnya. Tulus saya ucapkan terima kasih untuk kebaikannya itu. Tapi jujur saya tidak tahan lagi. Mungkin kepergian saya ke Praha bisa memupus prahara di hati saya. Mungkin di sana masih ada orang yang mau menerima utuh kehadiran saya. Bukan sebagai pencuri!
Mendadak saya teringat Oma Selena. Betapa rindunya saya akan pelukan dan belaian sepasang tangan keriputnya….
 
***

EDWIN PARAWANGSA

Saya bingung. Tidak tahu harus berbuat apa untuk mengurungkan niat gadis itu meninggalkan Makassar. Tapi, sepenuhnya saya sadari kalau cewek blaster itu punya problematik kejiwaan yang sangat kronis.
Kadang-kadang saya tidak habis pikir, bagaimana seorang gadis kaya dapat melakukan hal yang sangat kontras dan ironis. Mencuri. Ngutil! Bah, tidak masuk akal! Padahal, apa sih yang kurang pada kebendaannya?! Dia punya segala-galanya. Uang sakunya, wow, jangan ditanya. Melebihi gaji sebulan pesuruh kantoran.
Namun ajaibnya, dia pengutil. Tentu saja perbuatannya itu bikin malu orang tuanya. Sudah kejadian empat kali ayahnya dipanggil ke kantor swalayan yang barangnya kecolongan itu.
Dan….
“Win….”
Saya tergeragap. Rupanya saya melamun tanpa menyadari kalau saat ini dr Andi Riani Rustam tengah berhadapan dengan saya.
“Melamunkan siapa, sih?” Kakak perempuan Andi Riana Rustam, teman sekelas saya, itu menggoda.
“Ti-tidak, Kak. Saya tidak melamunkan siapa-siapa, kok,” elak saya berdusta. Saya panggil dia ‘Kak’. Bukan ‘Dok’. Kami sudah akrab layaknya kakak-adik. Makanya saya ceritakan semua perihal Tatyana Romanov kepadanya.
“Si Tatyana bagaimana?”
Mata saya membola. Menyambut antusias pertanyaannya. Ini tujuan saya ke rumah Riana. Saya pernah menceritakan perihal Tatyana kepada Kak Riani. Saya pernah menceritakan perihal Tatyana kepadanya. Tentang problematik kejiwaannya yang sangat ganjil di pengertian saya.
“Dia bersikeras ingin kembali ke Praha, Kak,” ujar saya pelan. “Katanya, dia sudah tidak dianggap di sini.”
“Itu bukan jalan penyelesaian yang baik,” cetusnya dengan dahi mengerut.
Saya mengangguk getas.
“Kamu tidak berusaha mencegahnya, Win?”
“Sudah berulang kali. Tapi….”
“Kalau menurut Kakak sih, dia sudah berada dalam kondisi yang sangat labil.” Kak Riani menyalibi jawaban saya. Diteguknya lemon-tea yang barusan ditaruh di atas meja oleh Riana sebelum masuk ke dalam rumah untuk meneruskan menonton acara drama Korea Full House di Anteve. Dia menawari saya minum. Tapi perhatian saya lebih tersita ke pasal Tatyana.
“Maksud Kakak?”
Dia meletakkan cangkir tehnya. “Pada saat kritis seperti itu, Tatyana seharusnya mendapat perhatian yang lebih bersifat irasional ketimbang rasional. Maksudnya, pengarahan dilakukan secara persuasif, dan bukan menghakimi seperti memaki-maki, terlebih-lebih mempermalukan karena melihat konteks kronologis pada saat kejadian.”
“Nyatanya….”
“Itulah, Win.” Kak Riani menyalib, tampaknya sudah tahu kalimat apa yang hendak saya lontarkan. “Banyak dari kita belum tahu apa sebetulnya kleptomania itu. Akibatnya, kita main hakim sendiri. Padahal, sebetulnya si Kleptomania itu sendiri tidak menyadari kalau sedang melakukan hal-hal yang dianggap perbuatan memalukan dan kriminal.”
“Sebenarnya kleptomania itu apa sih, Kak?” tanya saya serius.
“Sebetulnya kleptomania itu  merupakan kelainan jiwa. Tapi, perlu kamu ingat kalau kelainan ini tidak tergolong dalam perilaku egosentris dan antisosial. Anu, itu lho… sebangsa orang yang suka ketawa-ketiwi sendiri.” Kak Riani tertawa dengan mimik jenaka, berusaha meringankan suasana. “Jadi, bukan orang gila.”
Saya turut tertawa.
“Penderita kleptomania, anehnya, justru merasa senang saat melakukan aksinya. Ngutil, bagi mereka, merupakan kenikmatan tersendiri. Kenikmatan-kenikmatan itu terjadi pada saat ketegangan yang biasa disebut suspence itu muncul. Dan si Penderita akan merasa hebat atau jago karena berhasil mengelabui petugas serta pelayan di toko-toko atau swalayan-swalayan.”
“Un-untuk apa mereka berbuat begitu, Kak?! Seperti Tya, bukankah dia termasuk orang yang berada? Lha, untuk apa cari penyakit mengambil barang yang tidak seberapa harganya itu? Lagi pula, kebanyakan dari barang-barang curiannya itu tidak dibutuhkannya sama sekali.”
“Edwin tahu dari mana?”
“Tidak ada yang Tya sembunyikan dari saya, Kak. Dia ceritakan semua apa yang telah dilakukannya. Kok, bisa begitu ya?”
“Itulah, Win. Seperti yang sudah Kakak jelaskan tadi, mereka tuh memperoleh rasa senang dan nikmat saat melakukan aksinya. Jadi, kamu jangan berpikir ke soal kaya atau miskinnya mereka lagi. Atau, soal butuh tidaknya barang-barang curian tersebut. Sebab, hal itu sudah menyangkut psikis. Mereka ngutil tanpa rencana terlebih dulu. Akibatnya, kebanyakan dari mereka ketangkap dengan mudah. Ya, selain karena tidak ada rencana, mereka juga merasa tidak bersalah.”
“Apakah Tya bisa sembuh dan hidup normal kembali?”
“Karena sifatnya yang kronis, maka kleptomania ini memang agak susah disembuhkan. Bisa sih, tapi itu semua tergantung pada kontrol diri si Kleptomaniak. Si Penderita perlu didukung oleh lingkungan keluarga, kerabat, atau sahabat yang bisa dan mau mengerti tentang si Penderita. Ya, tentu saja itu memerlukan proses yang lama sekali. Dan ingat, pengawasan dan pengarahan kepada si Penderita harus lebih ditekankan pada unsur membimbing. Bukan menghakimi.”
“Jadi, apakah Tya bersalah dalam hal ini, Kak?”
“Yang namanya mencuri itu kan, salah. Jadinya, ya bersalah. Cuma kadarnya kecil. Sebab, tindakan yang dia lakukan bukan lantaran ingin merekrut keuntungan pribadi atau memperkaya diri. Hal tersebut dia lakukan murni karena impulse atau dorongan sesaat untuk memperoleh kenikmatan dari ngutil itulah.”
Saya menggumam. “Kasihan, Tya!”
“Ya, itulah, Win. Di sinilah peranan orang tua digugat. Secara langsung maupun tidak, orang tua merupakan faktor terpenting dalam perkembangan dan pertumbuhan kejiwaan sang anak. Makanya, sebelum menjadi ayah, kamu harus tahu kiat-kiat menjadi ayah yang baik. Menjadi ayah bagi setiap anak itu gampang. Tapi, menjadi bapak yang teladan, nah itu yang sulit. Sebaliknya, ibu pun begitu.”
Psikiater muda itu tersenyum. Saya turut melebarkan bibir.
“Terima kasih ya, Kak, atas penjelasannya,” ujar saya berbasa-basi. “Juga untuk lemon tea-nya.”
Dia mengangguk simpatik. Saya meneguk lemon tea manis bagian saya karena sudah kehausan.
“Eh, ngomong-ngomong, untuk apa sih Edwin ngotot nanya perihal Si Tatyana itu?”
“Edwin naksir Tya tuh, Kak!” Ada suara yang nyelonong nakal dari arah bingkai pintu ruang dalam.
Riana?! Asem! Dia buka-buka kartu saya kepada kakaknya!
Kak Riani tergelak. Dan itu bikin merah pipi saya.

***

EPILOG

Tak ada gading yang tak retak. Edwin menyadari hal itu pun berlaku untuk keluarga Romanov yang tergolong makmur dan harmonis. Mungkin ada benarnya perkataan Kak Riani tempo hari, batinnya. Secara langsung maupun tidak, orang tua merupakan faktor terpenting dalam perkembangan dan pertumbuhan kejiwaan sang anak.
Dan dia sudah melihat secara gamblang permasalahan yang kini menimpa Tatyana. Perhatian dan curahan kasih sayang yang berlebihan kepadanya malah menyebabkan dia menjadi gadis yang rapuh. Kurang percaya diri. Sebagai putri semata wayang, Tatyana mendapat perlakuan yang ekstra istimewa.
Tatyana tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan keinginannya. Tatyana kecil selalu diawasi secara ketat. Tatyana tidak boleh manjat pohon karena nanti jatuh. Tatyana tidak boleh bersepeda karena nanti keserempet mobil. Tatyana tidak boleh berenang karena nanti tenggelam. Dan seribu satu macam larangan lainnya.
Dia merasa lemah. Dan suatu ketika dalam masa pertumbuhannya sebagai Tatyana remaja, gadis cantik blaster Ceko-Bugis itu pun salah mengekspresikan jati dirinya. Dia ingin dianggap. Bahwa dia juga hebat dan bisa berbuat banyak seperti gadis-gadis sebayanya.
Tapi sayang….
Ah. Edwin tidak ambil peduli pada praduga yang telah disimpulkannya. Sekarang, dia mesti  buru-buru ke rumah gadis itu. Menjelaskan segalanya. Bahwa, kleptomania bukan momok yang menakutkan. Mudah-mudahan gadis itu belum berangkat ke Bandara Sultan Hasanuddin.
Semalaman dia tidak dapat tidur. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk membantu gadis itu memupuskan problematik kejiwaannya yang suram.
Ya, dia bertekad. Dia harus segera menyusul gadis itu. Selagi masih ada waktu…. (blogkatahatiku.blogspot.com)