02 January 2014

USIR KEBIASAAN NEGATIF DI KANTOR

KALA DIANTIPATI OLEH PIMPINAN

Foto: Dok KATA HATIKU
Mungkin Anda tidak pernah sadar, kebiasaan-kebiasaan kecil yang Anda atau rekan kerja Anda lakukan di kantor sering kali membuat atasan Anda menjadi pusing. Apa sajakah itu? Simak terus artikel di bawah ini dan temukan jawabannya.
Bagaimanakah laporan kinerja Anda enam bulan terakhir? Apakah kata “excellent” tertera dengan apik di lembar evaluasi Anda? Atau malahan deretan huruf yang membentuk kata “poor” yang menghiasi lembaran tersebut? Apa pun itu, selalu ada alasan untuk semuanya. Jika hasil laporan kinerja Anda tidak memuaskan dan bos Anda seakan tidak pernah mengerti Anda, jangan buru-buru menyalahkannya. Mungkin saja Anda harus menghentikan kebiasaan buruk Anda.
Anita Bruzzese dalam bukunya yang bertajuk “45 Things You Do That Drive Your Boss Crazy”, mencoba menjabarkan beberapa kebiasaan negatif yang sering kali dilakukan karyawan yang memengaruhi laporan kinerja mereka. Bagaimana pun ketika Anda di-“hire” untuk melakukan pekerjaan Anda saat ini, bos Anda mengharapkan Anda adalah seseorang yang profesional serta dapat diandalkan, menjalankan tanggung jawab Anda, tanpa mengeluh.

Jangan “Lebay”
Kehidupan pribadi Anda sedang tidak baik. Keluarga Anda selalu memaksa Anda melakukan hal-hal yang tidak Anda inginkan. Anda merasa tidak cukup mendapatkan perhatian dari kekasih Anda. Seolah-olah tidak ada yang mengerti jalan pikiran Anda. Familier dengan beberapa pernyataan di atas? Apa yang ingin Anda lakukan? Membiarkan air mata Anda bercucuran, hingga perasaan Anda lega? Please, jangan “lebay”. Menangis adalah hal yang natural dan terapi untuk beberapa masalah.
Namun, Anda sebaiknya memilih tempat yang tepat untuk melakukannya. Menangis di tempat kerja hanya menurunkan citra Anda. Perlu Anda ketahui, tidak semua orang merasa empati dengan seseorang yang menangis di tempat umum. Beberapa rekan kerja Anda yang cukup dekat mungkin akan berusaha menghibur dan menenangkan Anda. Di sisi lain, rekan kerja Anda yang lain dan sang bos mungkin saja merasa risih. Apalagi jika bos Anda laki-laki, mereka akan bingung menghadapi Anda.

Blogging
Ya, teknologi memudahkan segalanya! Bahkan untuk urusan curhat Anda bisa melakukannya secara digital, kemudian mengundang teman-teman Anda untuk mengomentari postingan Anda di blog. Tetapi apakah pantas untuk berbagi dengan seribu lebih follower Anda di Twitter dan lima ribu teman Anda di Facebook tentang betapa menyebalkannya bos Anda? Betapa kantor Anda adalah sebuah organisasi yang tidak profesional dalam menangani karyawan kerjanya? Tentang rekan kerja Anda yang tidak koperatif? Bahkan menuliskan semua detail tentang betapa Anda membenci pekerjaan Anda di blog?
 Mulailah berinternet secara sehat. Sebarkan berita-berita baik, dan berikan pengaruh positif juga bagi teman-teman Anda di dunia maya. Jika Anda merasa tidak bisa mentoleransi situasi kantor, bos, serta rekan kerja Anda solusi terbaik dari masalah ini adalah mencari tempat kerja baru idaman Anda. Karena mengeluh di dalam blog dan berbagai situs pertemanan tentang kondisi karier Anda tidak akan menolong sama sekali, dan tentu saja tidak baik untuk kesehatan mental.

Introspkesi Diri
Seperti inilah ilustrasinya, tahun ini Raisa telah memasuki masa kerja lima tahun di perusahaannya. Telah dipromosikan menjadi asisten manajer marketing dan memiliki tiga junior yang membantunya bekerja. Suatu hari Raisa menghadap sang direktur dan bertanya, mengapa tahun ini ia tidak mendapatkan kenaikan gaji yang signifikan, padahal dengan posisinya sekarang, paling tidak ia mendapatkan 70 persen kenaikan dari  penghasilannya di tahun lalu, tetapi ia hanya mendapatkan kenaikan gaji sebesar 20 persen. Di sisi lain, salah satu juniornya mendapatkan kenaikan 50 persen, padahal ia baru satu tahun ini bekerja di kantornya.
Pernah mengalami hal ini? Apa yang salah? Sebelum memberikan complain, sebaiknya analisa dulu apakah Anda dalam posisi yang benar. Perlu Anda ingat, ketika Anda menandatangani kontrak dengan perusahaan, maka mereka sebenarnya menganggap Anda dapat bekerja dengan giat demi kesuksesan bersama. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan bos Anda berkaitan dalam kenaikan gaji Anda setiap bulan. Bukan hanya soal disiplin dan rajin masuk, namun lebih kepada performa Anda di lapangan. Bagaimana Anda berinteraksi dengan sesama pegawai, dan mencapai gol yang telah disepakati. Bukan senioritas yang dipertimbangkan di sini, namun profesionalitas. Jika Anda ingin meminta “lebih”, pastikan Anda juga memberi “lebih” bagi perusahaan Anda, agar seimbang dan tidak saling dirugikan.

Jangan Jadi Biang Gosip
Siapa pun tahu gosip menjadi “bumbu” yang asyik di dalam pembicaraan. Walaupun itu tidak baik untuk kesehatan mental Anda, akan tetapi sepertinya bergosip adalah menu wajib bagi sebagian orang. Bagaimana jika Anda dijuluki sebagai “ratu gosip” di kantor? Apakah masih menyenangkan bergunjing tentang keburukan orang lain? Baiklah mungkin Anda berpikir julukan itu hanya beredar di kalangan rekan kerja. Hei, tembok pun memiliki “telinga”. Bos Anda yang terkesan cuek dan dingin itu pun pasti sudah tahu akan “reputasi” Anda. Jika sudah begitu, segala upaya Anda untuk bermanis-ria di depan bos tidak akan digubris, lebih parah lagi bos Anda akan kehilangan kepercayaan kepada Anda selamanya.
Sebaiknya hentikan kebiasaan buruk tersebut. Hal itu hanya semakin mempertegas bahwa Anda adalah orang yang tidak kompeten dan gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Jika Anda cukup berjiwa besar, hadapilah orang yang bermasalah dengan Anda secara “empat mata”. Lain cerita jika Anda menjadi korbannya. Jangan tersulut emosi, acuhkan saja si tukang gosip. Sebagai orang yang lebih anggun dan intelek ketimbang si tukang gosip, Anda cukup menunggunya berkonfrontasi langsung dengan Anda. Tidak perlu pusing menggelar konferensi untuk menjelaskan fakta yang sebenarnya, jika memang masalahnya tidak penting. Pinjam jawaban jitu artis Desi Ratnasari kepada para jurnalis infotainment di era 1990-an dulu, “No comment”.

Smart
Bos Anda pasti mendambakan seorang karyawan yang tanggap dan smart. Tanggap dalam hal pekerjaan dan juga dapat menjadi seorang ice breaker di tengah-tengah “lunch meeting” dengan “potential client”. Anda tidak diharapkan menjadi orang yang super “gaul”, ataupun kamus berjalan. Namun sekadar pengetahuan singkat tentang masalah yang menjadi topik perbincangan warga dunia cukup membantu. Paling tidak, Anda mengetahui apa yang sedang menjadi tren di industri Anda bekerja. (blogkatahatiku.blogspot.com)