01 January 2014

KABAI S.Pd

TUKANG BECAK YANG SUKSES JADI DOSEN DAN KEPSEK

Foto: Effendy Wongso
Sesungguhnya tujuan utama pendidikan adalah untuk mendidik individu-individu dalam masyarakat agar dapat mempersiapkan dan memenuhi standar kualitas hidup yang lebih baik. Implementasi pendidikan juga dapat mengangkat harkat dan martabat seseorang, baik saat bekerja atau berkarya di bidang ekonomi, sosial, politik, dan sebagainya.
Selain itu, pendidikan juga mengintegrasikan orang-orang ke dalam masyarakat dan mengajarkan mereka nilai-nilai moral yang lebih baik. Hal tersebut dikemukakan oleh Kepala Sekolah Muhammadiyah Wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel), saat ditemui di SMA Muhammadiyah Wilayah Sulsel, Jalan Sam Ratulangi, Makassar, beberapa waktu lalu.
Kepada KATA HATIKU yang menyambanginya untuk memetik sedikit inspirasi hidupnya, pria bersahaja ini mengungkapkan perjalanan hidupnya yang tidak pernah terlepas dari pendidikan, meskipun ia terlahir dalam keluarga yang prasejahtera.
Menamatkan pendidikan sekolah dasarnya di SD Muhammadiyah pada 1985, ia lalu melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Teknik Negeri (setingkat SMP). Dalam perjalanan hidupnya pada waktu berada di sekolah menengah pertama, ia diasuh oleh seorang pria bernama Sunanto, yang sekaligus menyekolahkan dan mengajarinya mencari nafkah sebagai loper koran di Makassar.
Setelah menamatkan pendidikannya di bangku SMP pada 1988, ia meneruskan pendidikannya ke jenjang selanjutnya, dan memilih STM Pembangunan (sekarang SMK 5). Saat itu ia diasuh oleh seorang koki yang bekerja di Hotel Marannu (sekarang Hotel Singgasana) bernama Syamsuddin. Sembari bersekolah di STM Pembangunan, ia masih bekerja sebagai loper koran.
“Saat duduk di kelas 4 STM Pembangunan, saya sempat bekerja sebagai buruh di pabrik gula selama enam bulan. Setelah menyelesaikan pendidikan di STM Pembangunan, saya berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke universitas atau perguruan tinggi, namun karena keterbatasan finansial sehingga saya mengurungkan niat saya tersebut, dan untuk sementara bekerja serabutan sebagai kuli bangunan,” beber pria kelahiran Takalar, 13 Maret 1971 ini.
Berkat kesungguhannya untuk tetap dapat mencicipi pendidikan formal, pada 1992 ia masuk ke Universitas Muhammadiyah dengan mengambil jurusan bahasa Inggris. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari serta menunjang pendidikannya, ia terpaksa harus mengayuh becak, dan dilakoninya selama bertahun-tahun, mulai 1992 sampai 1997.
Pada 1993, sembari mendulang rupiah yang tidak seberapa dari profesinya sebagai tukang becak, ia juga sesekali dipercaya menjaga sebuah Puskesmas yang terletak di Jl Andi Makkasau dengan tugas-tugas rutin yang harus dilakukannya, seperti membeli obat, membuat kwitansi untuk wanita bersalin, belanja kebutuhan rumah Puskesmas, dan lain-lain.
Bagi Kabai, pendidikan merupakan modal penting bagi manusia. Ia sendiri sangat menyayangkan jika ada orang yang menyepelekan dan mengabaikan pendidikan. “Ilmu dan pendidikan merupakan modal penting untuk bekal hidup di kemudian hari. Jika berbekal ilmu pengetahuan, suatu saat pasti sangat berguna untuk masa depan. Soalnya bekal ilmu pengetahuan tidak akan habis, beda dengan bekal harta atau benda, pasti bisa habis,” terangnya.
Lebih lanjut Kabai mengatakan, pada 1997 ia melakukan Pemantapan Praktik Lapangan (PPL) di SMK Muhammadiyah Bontoala, dan langsung ditawarkan untuk mengajar di sekolah itu. Di tahun itu juga, ia sudah menjadi seorang guru honorer di SMK Muhammadiyah, dan resmi meninggalkan profesinya sebagai tukang becak serta pekerjaannya di Puskesmas. Di 1998 ia memutuskan untuk melepas masa lajangnya dengan menikahi Zul Arsi Abduh yang kini menganugerahinya tiga orang putra dan satu putri yang sehat dan lucu.
“Saat ini aktivitas yang saya tekuni banyak, di antaranya mengajar sebagai guru pada beberapa SMA di Makassar, dan juga sebagai dosen luar biasa di Akademi Teknik Elektromedik (ATEM). Sebelumnya, saya juga pernah mengajar di Politeknik Indonesia Internasional dari 2000-2003 sebagai guru honorer, dan diberi gelar Dosen Luar Biasa pada saat itu,” beber pria yang senang mendengarkan musik relegi ini.
Ia diangkat sebagai guru kontrak nasional pada 2003-2007. Di akhir 2007, pria yang senang berbaju koko di saat santai ini, resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sekarang ia menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah di SMK Muhammadiyah Bontoala Makassar dan Kepala Sekolah di SMA Muhammadiyah Wilayah Sulsel.(blogkatahatiku.blogspot.com)