22 January 2014

JADI PENGUSAHA SUKSES PERLU KETERAMPILAN

M Farid Widodo
Merugi Rp 30 Miliar, Kini Usahanya Berkembang hingga Amerika

Foto: Pribadi
Menjadi pengusaha sukses itu memerlukan keterampilan dan mental yang kuat, demikian dikatakan Direktur Indonesian Islamic Business Forum (IIBF), M Farid Widodo, saat ditemui beberapa waktu laludi Gedung Graha Pena, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar.
“Untuk menjadi pengusaha memang banyak kesulitan yang dihadapi, makanya dibutuhkan keterampilan mental untuk menghadapinya,” ujar pria yang akrab disapa Farid ini.
Merunut kelam perjalanan bisnisnya, ia mengungkapkan pernah jatuh bangkrut dan mengalami rugi Rp 30 miliar di industri jamu tradisional yang telah dirintisnya sejak 1992. Usaha jamu yang dirintisnya dengan modal usaha Rp 5,2 juga tersebut, runtuh lantaran regulasi pemerintah yang tidak lagi berpihak kepadanya.
Keruntuhan usahanya berefek pada keruntuhan kepercayaan orang di sekelilingnya, karena menyisakan utang yang setumpuk. Memulai bangkit kembali dalam kondisi terpuruk tidaklah mudah, namun ia sebagai orang yang taat pada ajaran agama tak pernah merasa putus asa.
Di tengah kesulitan, saya membangun usaha industri kopi herbal, yang saat ini berjaya di Tanah Air, tanpa berniat untuk mengulangi kesalahan saya yang dulu,” ujarnya.
Kesalahan yang dimaksud adalah ‘membangun usaha di atas pusaran utang’, sebuah fatalistik dan tindakan paling berisiko dalam bisnis. Sejak keruntuhan industri jamunya di 2004, selama beberapa tahun kemudian ia mulai bangkit dan membangun kepercayaan orang-orang yang dulu juga turut runtuh.
Alhasil, pada 2010 lalu ia mendapatkan kepercayaan dari koleganya untuk membangun industri kopi di bawah naungan PT Cordova Indonesia dengan modal usaha mencapai Rp 10 miliar.
Tak pelak, dengan mental wirausaha yang memang tumbuh dalam jiwanya, dalam jangka dua tahun ia mampu meningkatkan aset perusahaan menjadi Rp 15 miliar untuk PT Cordova Indonesia, ditambah dengan membuka cabang di Amerika Serikat dengan bendera PT Cordova Amerika. Saat ini ia juga sedang merintis cabang di Negeri Tirai Bambu, China.
Dengan bekal pengalaman kepemilikan industri jamu yang dimiliki, ia membangun usaha kopi herbal dengan melihat peluang yang ada, di mana tren warung kopi (warkop) tengah melirik varian kopi baru akibat isu peralihan dari kopi berbahan kimia ke arah herbal. Inilah hal yang melecutnya untuk memproduksi kopi herbal yang didistribusikan secara nasional.
 Kendati demikian, kopi jenis ini masih sulit dijumpai di pasar tradisional, dan hanya terdistribusi di kalangan tertentu. “Pasalnya, kopi ini didistribusikan melalui perusahaan besar seperti Bank Muamalat. Jadi untuk seluruh pegawai Bank Muamalat, pasti mendapatkan jatah kopi herbal ini,” terangnya.
Di luar perusahaan perusahaan yang bermitra dengan PT Cordova Indonesia, jika ada yang ingin menikmati kopi herbal Cordova, bisa langsung ke Cafe Ngopi di Jakarta, sebuah kafe yang memasarkan langsung hasil industri kopi herbal Cordova.
Farid yang juga pemilik Cafe Ngopi mengatakan, saingan ‘head to head’-nya adalah Starbucks Coffee Jakarta. “Saya sengaja memilih pesaing international hanya sekadar ingin membuktikan bahwa kualitas kopi lokal tidak kalah dengan kopi dari luar negeri, selain tentu saya pelayanan kami tidak kalah dengan mereka,” ujarnya.
Namun berbeda kafe lain yang ingin mempercepat laju usahanya dengan menjadi franchisor, Farid tidak ingin menjadi francisor. Menurutnya, menjual brand dan manajemen usaha itu tidak membuat orang lain pasti memperoleh keuntungan yang sama.
Saya ingin, jika menjadi franchisor, saya bisa memastikan bahwa usaha franchisee saya juga berjalan sebagaimana saya berjalan, inilah yang disebutnya sebagai franchisor,” tegasnya.
Ditambahkan, jika mulai menjadi franchisor sementara ia sendiri belum mampu untuk meraih target maksimal yang ingin dicapainya, maka hal tersebut sama dengan menggorok leher sendiri.
“Menjadi franchisor itu tidak mudah, selain menjual  brand dan manajemen, kita juga harus melakukan pendampingan. Kalau tidak, memaksa, sama saja kita menggorok leher sendiri, tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)