14 January 2014

INVESTASI YANG TAK SEKADAR DAYA TARIK

MENEROPONG BISNIS DI SULSEL

Foto: Effendy Wongso
Setelah melewati hampir empat kuartal siklus dinamika perekonomian nasional di pengujung 2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi hanya tumbuh sebesar 5,5 persen dan akan menurun pada tahun berikutnya menjadi 5,3 persen.
Prediksi tersebut dilansir beberapa lembaga survei setelah mengaitkannya dengan kondisi perekonomian dunia yang juga tidak menentu, paling tidak jika hal ini mengacu pada pascakrisis global yang melanda dunia pada 2008 lalu. Berdasarkan pergerakan indikator-indikator makro hingga September 2013 lalu, disinyalir tingkat pertumbuhan ini dapat berubah seiring perkembangan lingkungan eksternal, antara lain dilandasi merahnya kinerja keuangan nasional berupa melemahnya nilai tukar rupiah.
Dalam lowlistic-scenario atau nilai prediksi terendah tingkat, pertumbuhan diperkirakan hanya sebesar 4,62 persen di 2013 dan 4,88 persen di 2014. Pertumbuhan ekspor akan sedikit menurun disebabkan prospek pertumbuhan di negara tujuan ekspor Indonesia tidak terwujud sebagaimana yang diharapkan. Pasalnya, eskalasi harga minyak dunia akibat gejolak politik di Timur Tengah sangat berpengaruh terhadap kenaikan defisit neraca transaksi berjalan, meskipun impor minyak sedikit dibatasi.
Kenaikan defisit neraca transaksi berjalan akan direspons oleh peningkatan aliran modal asing keluar, turunnya cadangan devisa, dan meningkatnya inflasi. Terkerek oleh kondisi yang tidak menguntungkan tersebut, secara langsung dapat menyebabkan melambungnya suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI rate secara signifikan. Jelas, dalam situasi seperti ini akan menghambat investasi dan menekan potensi pertumbuhan di Tanah Air.
Setali tiga uang, kebijakan stimulus fiskal di Jepang pada awal 2014 nanti juga dapat mempengaruhi depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Terkait kondisi Amerika dan Eropa pascakrisis, beberapa kebijakan dari kedua benua tersebut dapat dengan mudah membuat aliran modal asing keluar dari Indonesia dalam waktu singkat.
Disinyalir, apabila gejolak finansial tersebut terjadi maka BI rate juga dapat terus meningkat. Sedangkan untuk highlistic-scenario atau tingkat prediksi tertinggi yang lebih optimististik, dari angka yang telah didapat dalam rangkuman empat semester telah menunjukkan bahwa perekonomian di Indonesia boleh jadi dapat tumbuh hingga 5,9 persen di 2013 dan 5,85 persen di 2014. Hal itu terjadi apabila depresiasi rupiah dapat mendorong ekspor produk-produk bernilai tambah, sehingga memperbaiki cadangan devisa dan membuat defisit neraca transaksi berjalan turun.
Penurunan defisit neraca berjalan akan meningkatkan kepercayaan investor asing. Apabila investasi asing dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI) dapat mendominasi struktur investasi asing di Indonesia, maka agregat investasi juga turut meningkat. Investasi ini akan semakin menguat apabila pemerintah dapat mengarahkan belanja modal secara maksimal untuk memperluas infrastruktur. Dengan demikian, beberapa proyek pembangunan infrastruktur seperti jalan tol dan bandara akan berkontribusi mendorong pertumbuhan di tahun depan.
Di Sulsel sendiri, gejolak ekonomi yang tak terlalu sumringah setahun belakangan ini memang tidak terlalu banyak memukul investasi yang telah ditanamkan oleh para pelaku bisnis, bankir, pengusaha, dan seluruh stakeholder yang sudah terlibat cukup jauh dalam ekonomi di Sulsel selama 2013.
Bahkan, tren positif pertumbuhan ekonomi, industri, dan investasi di daerah ini diproyeksikan terus berlanjut pada tahun depan. Adapun pencapaian tahun ini sedikit ditutup manis lantaran melampaui capaian di 2012 lalu. Krisis Eropa maupun AS yang sempat menghantui ekonomi global terbukti tak banyak mempengaruhi kondisi di daerah ini.
BI memproyeksikan perekonomian Sulsel tumbuh pada kisaran 7,8 persen hingga 8,4 persen. Ini seiring perkembangan ekonomi Sulsel beberapa tahun terakhir yang didukung peningkatan investasi dan konsumsi masyarakat. Di 2014 mendatang, pertumbuhan ekonomi daerah ini bisa menembus angka delapan hingga sembilan persen asal pemerintah membenahi regulasi serta dukungan infrastruktur yang memadai.
Untuk laju inflasi yang telah dicapai di 2013, BI menakarnya masih berada pada kisaran target inflasi nasional 4,5 persen plus satu persen. Tekanan inflasi diperkirakan dari sisi fluktuasi konsumsi (makanan) maupun akibat regulasi pemerintah sehubungan kebijakan penyesuaian harga yang telah ditetapkan di 2013 ini. Regulasi tersebut seperti penyesuaian tarif dasar listrik (TDL), kenaikan upah minimum Provinsi (UMP) Sulsel sebesar 20 persen, kenaikan Elpiji 12 kilogram, serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Masih cerahnya pencapaian ekonomi yang telah diperoleh sepanjang tahun ini, telah membuka peluang investasi bagi para investor dari luar Sulsel yang ingin menanamkan modalnya. Kendati demikian, investasi bukan sekadar daya tarik tetapi diperlukan dukungan regulasi, ketersediaan infrastruktur, pasokan energi listrik, serta jaminan keamanan yang kondusif sehingga bisa menjadi “guarantee business” bagi para pelaku bisnis yang tertarik berinvestasi di Sulsel. (blogkatahatiku.blogspot.com)