14 January 2014

INDUSTRI TELEKOMUNIKASI DI INDONESIA

KOMPETISI YANG HEKSAGONAL

Foto: Effendy Wongso
Saat ini persaingan perusahaan telekomunikasi sangat ketat, tingkat kompetisi operator telekomunikasi di Indonesia pun paling tinggi di dunia. Ini menyusul tarif telekomunikasi di Tanah Air yang sebelumnya juga tercatat paling murah untuk tingkat Asia.
Akibat persaingan yang ketat dan tarif yang murah, semua stakeholder yang berkecimpung di perusahaan provider seluler dituntut untuk selalu dapat memberikan kinerja maksimal guna dapat bersaing di persaingan provider telekomunikasi yang sudah sangat ketat dan heksagonal di Indonesia.
Tak hanya stakeholder, sumber daya manusia (SDM) terutama yang bekerja pada divisi pemasaran dituntut untuk selalu dapat melakukan inovasi, dan tidak hanya sekadar mengimbangi promosi-promosi besar yang dilakukan oleh kompetitior perusahaan telekomunikasi lain.
Apalagi, industri telekomunikasi nasional saat ini ditandai dengan mulai menguatnya tiga tren utama, yaitu evolusi platform jejaring sosial, mulai mewabahnya telepon seluler (ponsel) pintar, dan menguatnya posisi tawar konsumen.
Banyaknya operator yang bermain di industri telekomunikasi membuat peta persaingan menjadi sangat ketat, dan operator harus menyiapkan strategi masing-masing untuk memasuki pasar. Di saat operator concern di kualitas dan pelayanan, pasar justru dikejutkan dengan adanya persaingan harga di pasar, yang lebih menarik kalau diistilahkan dengan “perang harga”, yang muncul dalam berbagai versi iklan baik melalui media maupun promosi-promosi yang dilakukan dalam berbagai event.  Dinamika ini terjadi di seluruh segmen, baik itu telekomunikasi suara (voice) maupun telekomunikasi data seperti internet dan sebagainya.
Jika disimak lebih jauh lagi, perang harga ini sebenarnya dimulai oleh operator-operator yang baru muncul, dengan tujuan agar dapat diterima oleh market. Hasilnya bisa dilihat, strategi tersebut berhasil. Melihat hal itu, operator-operator yang besar pun ikut tergoda dan akhirnya perang harga tidak dapat dihindari. Hari-hari belakangan ini dapat disaksikan bersama betapa “murahnya” harga dari produk-produk telekomunikasi tersebut, dan semakin hari persaingan justru menjadi tidak sehat, karena pasar justru mengambil alih kendali atas nama harga.
Ironisnya operator justru banyak yang terlena, fokus kepada penjualan yang tinggi dengan harga yang sangat murah, tetapi melupakan faktor perbaikan kualitas jaringan dan pelayanan. Publik tinggal menunggu, operator mana yang paling kuat di dalam mengikuti strategi “perang” ini dan provider mana yang tidak sanggup lagi berjuang.
Memang tak dapat dipungkiri, derasnya ketiga arus tren tersebut diyakini memberikan warna dan bentuk tersendiri pada industri telekomunikasi di Tanah Air. Dalam beberapa analisis pada emiten sektor telekomunikasi di pasar modal, terungkap bahwa pada 2010 lalu emiten sektor telekomunikasi banyak mengeluarkan dana untuk kebutuhan operasional, khususnya memperbaiki kualitas layanan.
Perbaikan kualitas tersebut di antaranya memperbanyak layanan fitur pada pelanggan. Ini memang yang harus terus dilakukan perusahaan sektor telekomunikasi. Diproyeksikan, dana yang dikeluarkan untuk kepentingan itu sekitar 40 persen dari biaya operasional perusahaan yang dianggarkan. Sementara perseroan baru bisa mendapatkan hasil dari penambahan fitur pada empat hingga lima tahun ke depan.
Langkah tersebut wajib dilakukan perusahaan operator telekomunikasi mengingat persaingan usaha di sektor ini semakin alot. Tentu, jika tidak ingin kehilangan pelanggannya, operator telekomunikasi harus terus menerus meningkatkan kinerjanya. Alasannya, saat ini konsumen semakin kritis terhadap perusahaan layanan telekomunikasi yang digunakan.
Tahun ini merupakan saat bagi operator telekomunikasi memantapkan diri pada layanan data. Pasalnya, jumlah pengguna layanan data ke depan akan semakin meningkat seiring dengan tingkat kebutuhan mobile lifestyle terhadap internet dan maraknya pengguna ponsel pintar.
Untuk layanan ini, operator telekomunikasi juga harus mulai menyasar pelanggan-pelanggan di daerah. Apalagi, keberadaan berbagai platform jejaring sosial beserta aplikasi penunjang semakin memperluas pilihan cara berkomunikasi bagi penggunanya.
Kini pengguna smartphone atau ponsel pintar dapat menelepon temannya melalui Skype atau aplikasi di Facebook. Bertukar pesan lewat BBM (Blackberry Messenger) atau YM (Yahoo! Messenger). Gejala ini kemudian ditangkap sebagai peluang bagi para gadget manufacture atau produsen gadget untuk memperluas pasar mereka.
Fenomena ini disambut oleh para produsen gadget, di antaranya dengan meluncurkan ponsel dengan fasilitas jejaring sosial yang telah tertanam di dalam perangkat yang dijual. Dengan demikian, konsumen dapat dengan mudah berpindah dari satu operator ke operator lain. Berpindah dari satu paket ke paket lain atau menggunakan lebih dari satu operator demi alasan efisiensi.
Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat perpindahan pelanggan tertinggi dengan angka di atas 10 persen per bulan. Semua hal tersebut bermuara pada pergeseran cara akses internet. Porsi pengguna mobile internet akan semakin tinggi dibandingkan non-mobile.
Dalam kurun waktu kurang dari lima tahun, diperkirakan hampir setengah dari pengguna internet akan mengakses dari perangkat bergerak (mobile). Dengan demikian, di masa mendatang konsumen hanya memerlukan operator sebagai jembatan menggunakan internet. (blogkatahatiku.blogspot.com)