23 January 2014

INDUSTRI OTOMOTIF YANG MENCENGANGKAN

Foto: Effendy Wongso
Saat ini industri otomotif di Indonesia seolah tidak ada matinya. Geliat penjualan produk otomotif, khususnya mobil, baik baru maupun bekas senantiasa sumringah. Seiring ledakan kaum kelas menengah di Tanah Air, penjualan kendaraan roda empat ini pun melaju secara signifikan.
Luar biasa memang, pasalnya jika mengamati laju pertumbuhannya yang spektakuler, pada kuartal ketiga tahun lalu di 2013 pun, tren penjualan mobil masih mencengangkan. Pesanan terus membanjir, dan bahkan untuk mendapatkan merek-merek favorit, pembeli harus melakukan inden yang cukup lama.
Hal ini memacu para produsen mobil untuk meluncurkan model dan varian baru. Mereka juga lantas menggenjot utilisasi pabrik yang dimiliki, dan mengucurkan dana triliunan rupiah untuk ekspansi pabrik atau membangun pabrik baru. Sejumlah merek yang selama ini hanya meraih penjualan tipis pun mulai berani ekspansi besar-besaran.
Sejauh ini, segmen mobil serba guna atau multipurpose vehicle (MPV) yang kerap disebut mobil keluarga masih merajai pasar, terutama MPV segmen menengah bawah. Kenaikan kesejahteraan dan tumbuhnya kelas menengah secara langsung telah mendongkrak penjualan mobil.
Fenomena lonjakan penjualan mobil ini tentu saja menggembirakan. Selain banyak menyerap tenaga kerja dan mendorong multiefek banyak sektor, kenaikan penjualan mobil jelas menambah setoran pajak ke kas negara.
Menurut data yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), tahun lalu penjualan mobil di Indonesia menembus angka satu juta unit, di mana rekor ini adalah yang tertinggi dalam sejarah market otomotif di Tanah Air.
Dalam lansirannya, untuk kendaraan roda empat, Toyota masih menguasai pasar otomotif di Indonesia, dan sekaligus merupakan produsen mobil penumpang (passenger cars) terlaris sepanjang 2012 lalu, dengan penjualan produk Toyota Avanza yang terjual sebanyak 192.146 unit, disusul Daihatsu Xenia dengan 73.418 unit, Kijang Innova dengan 71.685 unit, Nissan Grand Livina dengan 34.129 unit, Suzuki Ertiga dengan 34.074 unit, Toyota Rush dengan 34.033 unit, Toyota Yaris dengan 27.809 unit, Daihatsu Terios dengan 23.949 unit, Honda Jazz dengan 21.244 unit, Honda Freed dengan 19.811 unit, Toyota Fortuner dengan 18.528 unit  dan Honda CRV dengan 14.753 unit.
Terkait perkembangan bisnis otomotif yang sangat mencengangkan, penulis dan pemerhati bisnis-sosial, Khiva Amanda saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu di Jakarta, berargumen bahwa ada tiga strategi yang merupakan kunci sukses sebuah produsen otomotif sehingga bisa berkembang fantastis.
“Contohnya, Toyota. Sesungguhnya, produsen mobil asal Jepang ini telah menerapkan tiga strategi tersebut sehingga membuatnya melegenda dalam bisnis otomotif di Indonesia. Tiga strategi ini berperan cukup krusial sehingga industri otomotif seakan dalam penguasaan Toyota saja,” ungkapnya.
Disebutkan, strategi pertama adalah “first mover” atau pelakon pertama. Dalam industri otomotif, terutama pangsa pasar mobil di Tanah Air yang mulai tumbuh signifikan di era 1970-an, Toyota adalah brand yang termasuk pionir.
“Nah, ini sejalan dengan laju investasi penanaman modal asing (PMA) Jepang ke Indonesia saat Order Baru mulai berkuasa. Dengan posisi sebagai first mover atau pelakon pertama, maka brand Toyota menjadi lebih awal dikenal. Ini sudah barang tentu menancapkan image yang kuat di kalangan konsumen Indonesia pada saat itu. Kelak, sudah dapat dipastikan, untuk masa selanjutnya, keuntungan ini menjadi pilar Toyota dalam mendominasi pasar mobil Tanah Air,” bebernya.
Akan tetapi, runut Khiva, sebaliknya di pasar China dan Eropa, Toyota bukan sebagai first mover namun “late follower” atau perusahaan yang hadir belakangan. Akibatnya, penjualan mobil Toyota di dua negara itu agak jauh tertinggal dibanding merek lainnya seperti Volkswagen yang menjadi market leader di Eropa dan China.
“Strategi kedua adalah ‘Quality and Reliability’. Keunggulan utama Toyota sebenarnya lebih terletak pada sisi keandalan mesin-mesin mobilnya, lebih awet dan tahan lama. Berbagai survei dunia mengenai keandalan mutu mobil menunjukkan merek Toyota hampir selalu berada di peringkat nomor satu,” terangnya.
Sebaliknya, rujuknya, pengamat otomotif sejatinya lebih mengakui keunggulan Honda. Desain Honda Freed misalnya, tampak lebih manis dibanding Innova. Demikian pula, desain Honda Jazz lebih futuristik ketimbang Yaris.
“Kalau saja Honda mengeluarkan model sekelas Avanza yang sekecil atau se-‘smal’ MPV, mungkin desainnya akan lebih manis. Berkat itu, saya kira Honda bisa ikut merebut pangsa Avanza yang seolah tidak pernah mendapat lawan tangguh. Ya, ini sebelum akhirnya Suzuki Ertiga dan kini Chevy Spin masuk dengan kisaran harga yang sama dengan Avanza,” prediksinya.
Sementara itu, strategi ketiga yang dikemukakan oleh Khiva adalah “Focus on Customers’ Need”. Disebutnya, Proyek Innova dan Avanza pada akhirnya merupakan dua ikon utama yang terus melestarikan legenda Toyota lantaran dibutuhkan oleh konsumen.
“Ya, kedua merek ini, khususnya Avanza, dibangun untuk fokus terhadap kebutuhan konsumen mobil di Tanah Air, seperti memuat banyak penumpang dengan harga yang terjangkau. Sedangkan inovasi Avanza, juga lahir pada era tren ledakan daya beli konsumen middle-class di Indonesia. Hasilnya spektakuler, seperti yang terlihat dalam data yang dirilis oleh Gaikindo. Ini merupakan angka penjualan Avanza yang sangat fantastis,” imbuhnya.
Kendati demikian, di luar faktor-faktor tadi, Honda Motor Company, produsen mobil ketiga terbesar Jepang, kini tengah mati-matian untuk menandingi kesuksesan Toyota di kelas mana saja dan di belahan dunia manapun, dan terus membombardir konsumen dengan produk-produk terbaru.
Hal ini tak hanya terjadi di negara asalnya, Jepang, akan tetapi juga di Indonesia yang kini menjadi lanskap baru berbagai produsen mobil dunia.
“Beberapa bulan lalu, Honda memperkenalkan sekaligus dua produknya khusus untuk pasar otomotif di Indonesia, yakni MPV bawah yang akhirnya diberi nama Mobilio, dan Brio Satya di segmen mobil hemat energi berharga terjangkau. Mobil jenis ini sebelumnya dikenal dengan sebutan low cost  green car (LCGC),” ungkap Khiva.
Dijelaskan, Honda secara terus terang melansir bahwa Mobilio dijual dengan harga seperti Avanza, yang dijuluki Toyota sebagai “mobil sejuta umat” lantaran sejak diluncurkan pada 2004 terus menduduki posisi teratas sebagai mobil terlaris.
“Nah, untuk mendongkrak citra Mobilio, Honda bahkan mengundang orang nomor satunya, Takanobu Ito ke Indonesia, dan langsung memperkenalkan Mobilio kepada Wakil Presiden Republik Indonesia (RI), Boediono dan beberapa menteri lainnya,” terangnya.
Hal lainnya, sebut Khiva, untuk menarik hati konsumen Indonesia, Mobilio dibuat seperti dimensi antara Kijang Innova dan Avanza. Alhasil, saat diperkenalkan dan mulai dijual dengan sistem inden atau booking, selama 11 hari di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2013, mobil ini telah mengantongi pesanan 2.508 unit.
“Memang, ‘new war’ atau perang baru lain yang diciptakan Honda menyasar segmen LCGC yang masih jadi ‘trending topic’ hingga sekarang. Nah, begitu kelompok Astra meluncurkan LCGC-nya, yakni Daihatsu Ayla dan Toyota Agya, dua hari kemudian Honda memperkenalkan Brio Satya dengan mesin 1.200 cc,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)