26 January 2014

INDUSTRI MAINAN ANAK

ANTARA KONSUMERIALISME DAN EDUKASI

Foto: Effendy Wongso
Ditemani orangtua mereka, beberapa anak tampak ceria dituntun menyusuri labirin mainan di pusat grosir mainan anak di Pasar Sentral, Makassar. Meskipun saat ini para pedagang mainan anak kebanyakan hanya berupa lapak pasca-kebakaran dua tahun lalu, namun hal tersebut tak menyurutkan minat bocah-bocah itu untuk berburu mainan yang lucu-lucu seperti mobil-mobilan, pistol air, bola plastik, boneka, standing character superhero, dan lain-lain.
Hujan yang terus mendera selama sebulan terakhir di awal tahun tidak menyurutkan kecerian khas anak-anak untuk hunting mencari mainan idaman mereka. Beberapa malah tampak merengek dan menangis saat permintaan mereka untuk membeli mainan tertentu tak digubris oleh orangtuanya. Itulah sekelumit pemandangan tentang konsumerialisme konsumen cilik yang dapat dijumpai sehari-hari di salah salah satu pusat perbelanjaan tertua di Kota Makassar.
Memang, di tempat ini puluhan lapak yang dulunya kios permanen sebelum terbakar merupakan pusat penjualan mainan anak yang lengkap dan berharga terjangkau. Konsumennya bukan saja anak-anak, akan tetapi para pedagang mainan dari berbagai daerah di Sulsel.
Hal inilah yang mendorong Jeffry Lewa, salah satu distributor besar mainan anak di Kota Makassar untuk mengeruk laba di celah ini. Ditemui beberapa waktu lalu di toko mainannya, “Star Toys”, Jalan Wahidin Sudirohusodo, Makassar, ayah tiga orang anak ini mengungkap, mainan anak memiliki prospek yang bagus. Prospek yang dimaksud adalah bahwa pangsa pasar di komoditas ini bersifat “long term”, permanentatif, dan tak tergerus zaman.
“Mainan anak tidak memiliki risiko besar seperti komoditas makanan, atau sandang misalnya. Meski ada tren terhadap tema mainan tertentu, tetapi anak-anak tetap dapat membeli mainan dengan model lama karena komoditas ini permanentatif dan tak kedaluwarsa,” ujar pria yang juga berinvestasi di bidang properti ini.
Dijelaskan, meski tetap memiliki risiko seperti kerusakan, namun rasionya kecil bila dibandingkan dengan profit margin yang diperoleh per itemnya. “Risiko tetap ada seperti kerusakan saat pengiriman barang. Ya, kurang lebih tiga persen, dan itu risiko yang mesti ditanggung oleh kami,” ujar penghobi avonturir ini.
Adapun nilai persentase profit margin dari hasil jualannya berkisar 10-15 persen. “Omset bruto sekitar Rp 50 juta hingga Rp 100 juta per bulan. Sebenarnya tidak besar, tetapi bisnis komoditas mainan anak ini rasio atau tingkat risikonya tidak besar,” demikian Jeffry mengungkap.
Sebagai salah satu pemain besar, pengusaha berdarah Tionghoa ini sudah mendistribusikan komoditas mainannya di hampir semua kabupaten yang ada di Sulsel, di antaranya Bone, Maros, Pangkep, Palopo, Parepare, dan lain-lain. Diakui, segmentasi jualannya adalah menengah ke bawah dengan konsumen anak-anak hingga remaja.
“Selain Makassar, pasar kami terbesar di Watampone (Bone). Seperti yang kita ketahui, masyarakat di pedesaan masih banyak yang belum bersentuhan dengan permainan elektronik (Playstation), sehingga masih banyak yang membeli mainan ‘reguler’ seperti yang kami jajakan, misalnya mobil-mobilan, boneka, pistol plastik, bola plastik atau karet, robot-robotan, dan lain-lain,” terangnya.
Jeffry menambahkan, produk jualannya masih didominasi dari “luar”. “Kebanyakan dari China, sekitar 80 persen. Sisanya, produksi nasional. Tidak banyak, tetapi kualitasnya tidak kalah dengan produk dari China,” paparnya.
Terkait minimnya mainan anak produksi dalam negeri, pria yang telah menggeluti bisnis di komoditas mainan anak sejak 2007 ini tak terlalu paham. Pasalnya, hal tersebut menyangkut regulasi pemerintah dengan pengekspor dari luar negeri. Hanya saja, produk-produk lokal yang beredar sudah melewati proses kompetisi, dan dapat bersaing dalam faktor harga.
“Produk lokal yang kami jual adalah barang-barang yang berharga kompetitif, bahkan sebagian lebih murah dibandingkan barang impor karena tidak melalui proses bea impor,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)