31 January 2014

INDUSTRI MAINAN ANAK YANG IMAJINATIF

Foto: Effendy Wongso
Sebagai salah satu mainan edukatif, puzzle berkarakter binatang termasuk jenis mainan yang paling diminati. Mainan ini diklaim dapat merangsang daya pikir anak tentang dunia satwa. Hal tersebut dikemukakan oleh Gede Widiatmita, owner kedai mainan dan buku bacaan anak-anak, Gede Agency di Jalan Ahmad Yani, Watampone, Sulawesi Selatan (Sulsel), saat ditemui beberapa waktu lalu.
Gede adalah salah satu pemerhati anak di Kota Kepiting ini. Ia mengaku hanya menjual mainan yang edukatif saja. Selain itu, sedari dulu ia juga menyajikan bacaan anak-anak yang sarat makna seperti majalah Bobo, Kawanku, Nakita, Ayah Bunda, dan lain-lain. Gede boleh jadi merupakan salah salah satu orang yang masih memiliki idealisme di antara demikian banyak pengusaha mainan anak yang berorientasi konsumerialisme semata.
Namun sudah barang tentu, sebagai orang yang peduli terhadap perkembangan kreatif anak, kita memang dituntut untuk memulai segalanya dari hal-hal kecil seperti yang dilakukan pria asal Singaraja, Bali ini.
Lepas dari itu, anak-anak Indonesia memang memerlukan mainan edukatif yang dapat merangsang daya pikir. Dalam hal ini, orangtua dituntut untuk peduli dengan selektif memilihkan mainan untuk anak-anak mereka. Tak heran, jika mengaitkan dengan bisnis, peluang pasar mainan ini kian menjanjikan. Pada 2011 misalnya, seperti diuraikan oleh penulis dan pemerhati bisnis-sosial, Khiva Amanda, omset industri mainan edukatif mencapai Rp 44,21 miliar. Jumlah tersebut meningkat 30 persen dibandingkan nilai penjualan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 34,43 miliar.
Dikatakannya pula, di tengah pesatnya pertumbuhan pasar tersebut, produsen mainan kini semakin giat berinovasi. Berbagai bentuk mainan unik dan kreatif diciptakan, salah satu jenis mainan yang sedang tren adalah puzzle.
“Di era 1980, Indonesia sempat booming dengan permainan yang namanya ‘Lego’. Mainan ini memicu kreativitas anak lantaran diharuskan untuk membangun sebuah struktur seperti rumah atau bangunan sesuai minat mereka. Sayang mainan ini memudar, padahal sangat edukatif dan merangsang imajinasi anak-anak,” kenangnya.
Khiva berharap, apapun bentuknya, produsen mainan edukatif harus bisa menyelami imajinasi anak-anak. Melalui permainan edukatif tersebut pulalah sehingga imajinasi anak-anak dapat terbangun sehingga dapat merangsang daya pikirnya.
Sementara itu, pemerhati budaya dan mainan tradisional anak Makassar, Romo Hemajayo Thio, kala ditemui di Griya Jinaraja Sasana, Jalan Bonerate, Makassar, mengungkapkan keprihatinnya terhadap bebasnya akses digital yang belum layak dikonsumsi oleh anak-anak, di antaranya melalui jaringan internet.
“Orang tua perlu mengawasi anak-anak mereka. Di era teknologi ini, pergeseran pola permainan anak mengarah ke digital, di mana permainan tradisional mulai ditinggalkan, dan mereka menuju akses internet bebas. Jika tak diawasi, saya khawatir ini akan menimbulkan problematika tersendiri,” pesannya.
Hemajayo menyampaikan, seyogianya permainan tradisional tak ditinggalkan karena secara tersirat banyak membawa pesan moral, di antaranya menggugah anak-anak terhadap cinta Tanah Air dan tetap menggunakan bahan mainan yang bersumber dari alam.
Memang, industri mainan anak di satu sisi merupakan lahan bisnis yang menggiurkan, akan tetapi di sisi lain, bisnis ini sarat dengan moralitas karena merupakan gerbong bibit-bibit muda yang suatu saat akan memimpin bangsa ini.
Sebab mengajari anak bermain, khususnya melalui peranti atau alat permainan, adalah landasan kita dalam membangun kreativitas dan kemandiriannya kelak di masa depan. (blogkatahatiku.blogspot.com)