26 January 2014

INDUSTRI FARMASI DAN APOTEK YANG KIAN KOMPETITIF

Foto: Effendy Wongso
Di Indonesia, industri farmasi merupakan industri yang cukup menjanjikan. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan teknologi dan observasinya yang tergolong tinggi. Dengan demikian, para pengusaha di bidang ini membutuhkan pemasaran untuk hasil produksinya sehingga sampai ke masyarakat, terutama yang membutuhkan obat-obatan tersebut.
“Inilah yang menyebabkan berdirinya banyak apotek. Kondisi kesehatan yang kurang baik di Indonesia, menyebabkan banyak pengusaha menganggap apotek merupakan bisnis yang cukup menggiurkan. Apalagi, dengan munculnya berbagai macam penyakit, yang menyebabkan konsumsi obat masyarakat bertambah,” urai apoteker sekaligus owner Apotek Semangat, Abdullah Arsyad, saat ditemui beberapa waktu lalu di apoteknya, Jalan Andalas, Makassar.
Pria berkacamata ini menjelaskan, ketatnya persaingan antarapotek menyebabkan laba margin semakin menipis. “Kalau dulu, apotek dapat mengutip laba kurang lebih 20 persen hingga 25 persen dari batas maksimal harga eceran tertinggi (HED), maka sekarang tidak bisa lagi. Sekarang, apotek sudah sangat jarang mengambil margin besar, terutama apotek-apotek besar yang bahkan mengutip hanya lima persen laba margin,” ungkapnya.
Dengan demikian, hal ini semakin menambah iklim kompetitif di usaha farmasi. “Di Makassar sendiri, regulasi tentang jarak (zonasi) antarapotek sudah kendur sehingga persaingan di bidang ini semakin kompetitif,” tuturnya.
Zonasi yang dimaksud oleh Abdullah adalah bahwa dulu regulasi dari pemerintah mengharuskan jarak antarapotek memiliki range yang agak jauh. “Sekarang kita lihat, dalam sebuah mal misalnya, bisa terdapat beberapa apotek. Bila di lantai satu ada apotek, tak menutup kemungkinan di lantai dua pun ada apotek. Dari sini kita bisa melihat bahwa bisnis apotek ini tidak dapat disamakan dengan dulu lagi, di mana banyak anggapan bahwa usaha ini sangat menggiurkan,” paparnya.
Lantaran ketatnya persaingan di bisnis ini, ia menilai wajar bila para pengusaha apotek selalu berkreativitas dalam menjalankan usahanya. “Di antaranya, mendirikan apotek sekaligus tempat praktik dokter. Nah, ini yang banyak dilakukan pengusaha apotek. Ya, karena dengan ini antara apotek dan klinik terjadi sinergi yang saling menguntungkan,” ungkapnya.
Senada dengan Abdullah, salah seorang apoteker di Watampone pun mengungkapkan bahwa pelaku usaha di bisnis obat-obatan ini tak bisa hanya berpangku tangan saja.
“Apotek saya ini misalnya, selain berdiri di lokasi strategis, juga menggandeng beberapa korporat. Teknisnya, karyawan dari korporat yang telah menjalin kerja sama, bisa mendapatkan pemeriksaan di klinik kami dengan fasilitas tertentu. Selain itu, ada juga diskon untuk harga obat tertentu. Nah, strategi ini cukup banyak menarik konsumen di Watampone ini,” bebernya.
Adapun apotek yang terbilang berstrategi cukup spektakuler ditunjukkan oleh Apotek K-24, di mana salah satu cabangnya terletak di Jalan Sangir, Makassar. Apotek yang dimiliki oleh Gideon Hartono asal Yogyakarta ini, juga menerapkan buka selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu dan 365 hari setahun. Intinya, apotek ini tidak pernah tutup. Makanya, apoteknya tersebut dinamakan “K-24”.
Menurutnya, nama tersebut menganalogikan “K” yang berarti komplet, dan “24” yang berarti buka nonstop selama 24 jam. Alhasil, strategi yang diterapkan apotek K-24 ternyata cukup jitu sehingga banyak mendulang laba. Tak heran, apotek tersebut memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai apotek asli Indonesia yang dapat diwaralabakan. Tidak tanggung-tanggung, gerai apotek ini telah puluhan berhasil dibuka secara waralaba di berbagai daerah di Tanah Air.
Menurut Gideon, baik siang hari maupun malam hari, harga obat di apoteknya tetap sama. “Tidak kita naikkan di malam harinya. Karena itu, tak heran jika apotek K-24 di manapun selalu dipadati konsumen,” akunya.
Ditambahkan, jumlah jenis obat di apotek K-24 juga tergolong komplet. “Tentunya, ini agar kami bisa memberikan obat kepada konsumen sesuai resep. Makanya, kami melengkapi apotek ini dengan 60 persen jenis obat yang ada di Indonesia. Saya kira, apotek lain, jarang ada yang punya stok lebih dari 50 persen dari seluruh jenis obat yang ada,” imbuhnya.
Memang strategi yang dijalankan oleh apotek K-24 cukup berhasil, apalagi ketika apotek lain masih berjuang mencari konsumen, apotek K-24 justru telah berhasil mewaralabakan usahanya. (blogkatahatiku.blogspot.com)