24 January 2014

IMLEK HIDUPKAN BANYAK SENDI BISNIS

Foto: Effendy Wongso
Di Makassar, geliat sambut hari raya Imlek terjadi dari tahun ke tahun. Di daerah Pecinan Makassar, sekitar kawasan Jalan Sulawesi, Sangir, Serui, Timor, dan jalan-jalan lainnya, toko-toko mulai ramai menjajakan ritel yang berhubungan dengan Imlek. Toko-toko tersebut biasanya mendulang laba paling minim selama 15 hari pasca-hari “H” Imlek yang jatuh pada Jumat (31/1/2014) lantaran Imlek masih berkaitan erat dengan penanggalan lunar China lainnya, yakni Cap Go Meh.
Dalam bisnis, Imlek tak hanya milik etnik Tionghoa saja. Pasalnya, momentum Imlek banyak menghidupi sendi-sendi ekonomi, baik usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), terlebih lagi bagi para pengusaha sekelas taipan.
Hal tersebut diungkapkan Dekan Pusat Bahasa Mandarin Universitas Hasanuddin (Unhas) sekaligus salah satu dosen terbang dari Hanban University di China, Prof Zhu Xiaojun, saat ditemui beberapa waktu lalu di Pusat Bahasa Mandarin Unhas, Jalan Sunu, Makassar.
“Semua sendi bisnis bergerak, tak hanya ritel sebagai komoditas konsumsi tetapi juga bidang lainnya seperti produk pendukung (Imlek),” ungkapnya.
Menurut pria yang fasih berbahasa Indonesia ini, momentum Imlek juga tidak hanya dirayakan oleh komunitas Tionghoa saja, namun semua etnis dapat merayakannya, terutama yang bergerak dalam sektor bisnis.
“Di beberapa negara, Imlek bahkan menjadi tren fashion di mana pola dan cara berbusana pun merujuk pada entitas China. Baju-baju model Cheongsam (Shanghai) digemari, dan secara sporadis ini juga menghidupkan industri garmen yang ada di negara-negara tersebut,” beber pria kelahiran Jiangxi, China, 19 November 1972 ini.
Sementara itu, saat ditemui di tokonya, Jalan Sangir, Makassar, Selasa (21/1/2014) siang, owner Toko Lotus Jaya, Yenni Susillowati mengungkapan, jelang Imlek usahanya senantiasa menggeliat.
“Peningkatan selalu terjadi, sepekan jelang Imlek sampai 15 hari setelahnya saat memasuki Cap Go Meh,” jelas wanita peranakan Tionghoa-Jawa ini.
Yenni merunut, meski tahun ini penjualan tak sebaik Imlek tahun lalu, namun omset yang diperolehnya terbilang lumayan, di mana setiap harinya ia dapat meraup Rp 5 juta.
“Peningkatan dibandingkan hari biasa berkisar 80 persen. Memang, jika dibandingkan dengan Imlek tahun lalu (2013), pendapatan tahun ini agak menurun. Saya kira, faktor cuaca juga menjadi penyebab kurangnya pembeli, di samping itu toko-toko yang menjual kebutuhan Imlek juga sudah banyak sehingga persaingan jadi semakin ketat,” paparnya.
Dijelaskan, masyarakat Tionghoa dari seputaran Kota Makassar maupun dari daerah-daerah kabupaten di Sulsel seperti Bone, Sengkang, dan Parepare, yang berkunjung ke tempatnya biasanya paling banyak membeli kertas angpau.
“Kertas angpau adalah produk yang paling banyak dibeli di sini. Selain itu, dupa dan lilin merah juga merupakan produk laris. Adapun pernak-pernik Imlek, saya hanya menjualnya sebagai pelengkap saja, tak lebih 20 persen dari stok barang-barang kami. Sebabnya, produk ini boleh dibilang tidak terlalu laris dibandingkan produk yang saya sebutkan tadi,” bebernya.
Menyusuri kawasan Pecinan lainnya di Makassar, di Jalan Sulawesi juga terdapat beberapa toko yang menjual perlengkapan Imlek. Di toko Hap Long misalnya, masyarakat yang merayakan Imlek dapat membeli berbagai kebutuhan Imlek seperti jajanan khas China dan makanan lainnya.
“Kami tak hanya menjual kebutuhan ritual Imlek seperti dupa dan lilin, tetapi juga makanan khas Imlek seperti jeruk mandarin dan beberapa jenis permen atau jajanan khas China lainnya,” terang owner Hap Long, Aheng.
Ditambahkan, selama Imlek ia dapat menjual puluhan kardus kertas angpau, salah satu jenis produk yang paling laris selama Imlek dan Cap Go Meh. (blogkatahatiku.blogspot.com)