09 January 2014

HANTU KAPAL OLIVE MARU

Oleh Effendy Wongso

Foto: Dok KATA HATIKU
Sepi sesaat. Atmosfer keheningan mengambang sebentar, lalu berganti menjadi melodi yang mengaduk-aduk isi hati dalam syahdu birama solo piano di atas kapal Olive Maru (1). ‘Courante II Avec Deux Doubles’-nya Johann Sebastian Bach lembut membuai. Irama klasik itu mengalun seiring dengan laju lamat kapal. Deburan ombak yang menyapu lambung kapal seperti tarian gemulai para geisha (2), teriring denting indah hasil sentuhan jari-jari sang pianis pada tuts ebony and ivory Yamaha hitam mengkilap di ruang dansa kapal.
Reina Tanaka mengurai simpul hidung, menghirup udara baur dengan takzim. Ini merupakan perjalanan avonturirnya yang pertama. Sejenak ia terbebas dari kungkungan para sinshe (3) Dai Nippon di Tokyo sana. Butuh waktu semalam sebelum ia memutuskan untuk berangkat dengan kapal ini. Tiga temannya ikut. Ajima Kamasuki, Bunzo Aonuma, dan Yumi Matsutoya. Ketiga gadis bermata sipit itu memang seperti pitik. Mengakuri langkahnya kemana saja.
Satu jam berlalu. Udara masih menghembuskan lafaz yang sama. Bau asin dari partikel air laut masih pula menggenang di atas kapal. Puluhan tawa terdengar riuh, nyaring seperti denting kristal yang berisi sampanye. Tidak ada rutinitas yang sejenuh ini. Satu jam rasanya seperti seabad. Tapi penyesalan memang selalu datangnya terlambat.
Ini seperti kompensasi pelarian. Dan ketiga anak itu tidak ada yang berusaha menggebah keinginannya yang babur. Selalu saja begitu. Hingga ia terpaku dalam kapal dengan kapasitas penumpangnya yang lebih dari separo ternyata sudah berusia uzur. Kedinamisan tingkah remaja yang sekian tahun mengakrabi kesehariannya disaput dengan wajah-wajah tanpa energi. Lemah seperti baterai ponsel tanpa charge.
Gaun pesta Cinderela yang digunakannya seperti belenggu bebat. Ia tarik napas setiap kali melangkah. Sepasang sepatu hak tinggi menambah penderitaannya. Pesta ini seperti neraka!
“Rasanya, aku pingin melompat ke laut saja!”
“Jangan!” Yumi menyergah, kegamangannya mengukir tiga garis tipis pada dahi.
“Habis….”
“Ini ritual pesta. Kamu tidak dapat mengelak, Reina-chan. Sebab ini adalah sebentuk tiket, syarat untuk dapat berlayar dengan kapal kesohor Olive Maru ini….” Bunzo menimpali, menguraikan dalih serupa ode.
Namun satu kibasan tangan Reina melayang seinci di depan wajahnya. Membungkam kalimatnya yang belum finish. Gadis berambut mayang itu mendadak diam serupa arca. Tak berkutik dengan isyarat tangan tanpa kata-kata tadi. Cukup jelas menggambarkan kaIau gadis tomboi itu tidak bakal memafhumi penjelasannya barusan.
“Hei, kesohor kamu bilang?!”
Gadis berpipi montok itu mengangguk.
“Hei, jangan bilang kapal ini kesohor seperti Titanic yang akan menenggelamkan kita dalam lautan kejenuhan!”
“Tapi, Rei….”
“Kesohor apaan kalau suasananya mirip makam sunyi dengan seabrek penumpang tua yang berbaris anteng, persis antrian orang yang hendak mendaftar ke surga!”
Asal!
Ketiga sahabatnya terbahak. Reina Tanaka, anak tunggal dari sepasang pengusaha kaya itu memang bengal. Sifatnya yang superduper-aktif bikin banyak orang mengurut dada. Pembawaannya yang mbalelo kerap mencetuskan keputusan kontradiktif di pihak lain. Yang, tentu saja pada akhirnya dianggapnya sebagai tirai tiran pemasung kebebasannya. Tidak terkecuali untuk kedua orangtuanya. Juga beberapa guru sekolah dan guru kursus pribadinya.
Makanya, tanpa melalui seleksi di fitur wisata pada biro perjalanan umum, ia langsung mengambil keputusan untuk berlayar bersama kapal Olive Maru. Satu bulan masa vakansi merupakan paradais. Rutinitas satu semester bikin suntuk itu mesti digebahnya dengan bersenang-senang di Pulau Hokkaido. Di sana ia bakal menjumput buih-buih ombak yang bakal menggelitiki kakinya. Berenang dan berjemur badan di bawah sinar matahari pagi. Uh, menyenangkan sekali!
Namun belum apa-apa ia sudah mengumpat kesal seperti salah minum obat. Disesalinya keputusan untuk berlayar dengan kapal tua setengah rongsok ini, persis para penumpangnya yang mungkin setahun lagi sudah diungsikan ke panti wreda!

***

“Kak….”
Reina menahan langkahnya ke tempat tidur. Kantuknya yang samar lenyap seketika. Ia terbelalak. Ada gadis cilik tengah menyapanya. Berdiri di belakang pintu kamar, menatapnya dengan wajah kusut. Rambutnya masai menutupi sebagian wajahnya yang pasi.
“Eh, kamu siapa?!”
Ada susupan rasa yang tidak jelas menggelitik sisi hatinya. Aneh. Kenapa bocah itu bisa masuk kemari?! Padahal, ia sudah mengunci pintu kamar. Bahkan dengan tambahan satu grendel kiri bawah pada daun pintu. Tidak mungkin ketiga sahabatnya itu lupa mengunci pintu kamar di dek lima ini tadi ketika keluar makan malam di rest-room kapal. Ia yang memegang anak kunci, kok!
“Namaku Miyoshi Masao,” jawab anak perempuan kurang lebih berusia sembilan itu lunak, nyaris serupa desisan. “Dari Hokkaido.”
“Eh, ba-bagaimana kamu bisa masuk ke kamar ini?!”
“Di luar dingin, Kak. Aku butuh selimut untuk menghangatkan badan!”
Gadis cilik itu belum menjawabi pertanyaan Reina. Malah mengurai dalih tak bersalah bernada lara. Kepalanya menunduk menekuk dada. Bibirnya pucat seperti tembok.
“Ta-tapi, hm… maksudku, kok kamu tidak bersama orangtuamu?! Apa mereka tidak mencarimu?! Kamu tinggal di dek berapa?”
Gadis cilik berbaju lusuh itu menggeleng. “Mereka sudah meninggal! Shigure (4) yang turun terus-menerus tanpa henti selama lima hari telah membinasakan sebagian penduduk kampung. Orangtuaku terseret badai tsunami sampai terlarung di laut Hokkaido.”
“Ya, Tuhan! Ja-jadi…..”
“Aku takut, Kak! Tidak ada yang melindungiku lagi. Aku kesepian!”
“I-ya, ya! Ta-tapi bagaimana kamu bisa berada di atas kapal ini?!”
Gadis cilik itu masih menunduk. Sama sekali enggan menjawabi pertanyaan Reina.
Ada suara menguap membelah keheningan.
“Rei, kamu ngapain?” Ajima mengucek-ucek matanya dari seberang tempat tidurnya. “Ngomong sama siapa, sih?!”
Reina mengalihkan wajahnya ke arah Ajima yang masih menguap, separo tertidur dan terbangun. Sedari tadi sahabatnya yang bertubuh paling jangkung itu cuma mendengkur. Sehabis santap malam tadi, ia langsung melayang ke busa empuk tempat tidur. Padahal, ia beserta Yumi dan Bunzo tadi jalan-jalan ke geladak. Menikmati semilir angin laut yang sejuk membuai serta gemintang yang basir di langit malam. Kedua anak itu malah kerasan di atas geladak, dan lebih memilih menebar jala gosip sampai fajar ketimbang turun ke kamar dek lima untuk beristirahat.
“Uh, kamu mengganggu orang tidur saja! Padahal, aku sudah nyaris dicium sama Hideaki Takizawa (5)!” Ajima masih ngedumel. “Eh, sejak kapan sih kamu mengidap penyakit igau begitu?”
Reina termangu begitu ia memalingkan wajahnya kembali. Gadis cilik itu tiba tiba lenyap dari hadapannya. Bulu kuduknya sontak berdiri. Ia merinding ketakutan. Menyisakan sekelumit tanda tanya di benaknya.
“Lho, ma-mana bocah perempuan itu, Ajima?!”
“Bocah perempuan apaan?! Mimpi kali kamu, ya?”
“Ta-tadi… aku bicara dengannya!”
“Kamu mengigau!”
“Tidak! Barusan dia berdiri di belakang pintu kamar kita, kok. Di sana!”
“Sudahlah, Rei. Kamu kecapekan karena sedari pagi hingga sore tadi mutar-mutar geladak seperti ikan-sapu dalam akuarium. Makanya, kamu mengigau seperti orang gokil, bicara sendiri. Nah, sudah. Sekarang kamu tidur. Jangan ganggu mimpiku lagi. Karena aku mau melanjutkan sweet dream-ku bersama Hideaki Takizawa!”
Reina masih termangu. Kekagetannya belum lenyap meski dua patah kata dari Ajima tadi, sweet dream, dapat dijadikan lelucon untuk memancing hormon tawa bila digubah menjadi wet dream!
“Ajima…!” Dan ia kembali kemekmek dengan wajah pucat.
“Ada apa, sih?!”
“Di… di be-belakangmu! Han-hantuuuu!”
Reina menggabruk pintu kamar. Menghambur keluar setelah berteriak ketakutan. Gadis cilik itu muncul lagi, tepat berdiri di belakang punggung Ajima!
Ada darah mengalir dari sepasang matanya yang aneh!
Ajima mendongak setelah berbalik untuk melihat. Ia menjerit histeris sebelum pandangannya mengabur dan gelap. Lantas terlentang pingsan di atas tempat tidur.

***

Pulau Hokkaido masih sejauh tujuh mil. Sudah tidak terlalu jauh. Tapi Reina dan Ajima sudah tidak tahan lagi. Siang ini mereka sudah bertekad untuk meninggalkan kapal Olive Maru. Apa pun yang terjadi!
Tentu saja nahkoda tua kapal, Yato Hayashi, tidak mengindahkan keinginan mereka. Membuang sauh untuk merapat di dermaga pulau-pulau kecil terdekat sangat riskan dari bahaya. Rencana navigasi sudah terpola mengarah ke Hokkaido semata. Jadi sampai menangis darah pun kedua anak itu memohon, lelaki berambut putih itu tetap bersikeras untuk berangkat hanya ke pulau tujuan.
“Kalian bisa turun dengan melompat dari kapal ini. Tapi, jangan salahkan saya kalau hiu-hiu di bawah sana kegirangan karena mendapat umpan daging segar!”
“Uh, untung kemarin malam kita tidak turun ke kamar. Kalau tidak, ih… pasti kelengar juga seperti Ajima karena melihat hantu bocah itu!” cerocos Bunzo mengedikkan bahu dengan mimik ngeri.
“Yato-san, hantu itu….”
Reina nyaris menangis karena kapal tidak mungkin berlabuh secepat dambanya. Ia masih menyimpan trauma terhadap sepasang mata berdarah hantu gadis cilik di kamarnya kemarin. Dengan setengah memohon, dia menceritakan semua kejadian miris semalam. Tentang penampakan hantu gadis cilik yang mengeluarkan darah dari matanya!
Lelaki itu berdeham berat. Menghisap cerutunya dalam-dalam. Matanya yang kelabu tampak menyipit.
“Hantu gadis cilik itu bernama Miyoshi Masao!”
“Ya, Tuhan!” Reina tersentak, mundur sejengkal tanpa sadar. Memang benar nama itu yang diucapkan hantu gadis cilik di kamarnya kemarin.
“Ke-kenapa Yato-san bisa ta-tahu?!”
Nahkoda tua itu merapatkan jaketnya. Kembali menghisap cerutunya dalam-dalam. Memandang horizon pagi yang menghampar biru. Pandangannya seperti menerawang.
“Tiga tahun lalu anak itu diketemukan tewas di atas geladak!”
“Te-tewas?!”
“Ya. Anak itu meninggal karena kedinginan, meringkuk dengan tubuh membeku biru di salah satu sekoci kapal. Tampaknya dia naik ke kapal ini secara diam-diam.”
“La-lalu?!”
“Akhirnya pemilik kapal ini, Olive Honjo, beserta pejabat daerah Hokkaido mencari identitas jasad bocah itu. Tidak berapa lama, akhirnya diketahui kalau anak itu merupakan salah satu pengungsi bencana banjir yang melanda Hokkaido!”
“Pe-pengungsi banjir?!”
“Iya. Anak itu melarikan diri dari rombongan korban evakuasi banjir.”
“Untuk apa?!”
“Kurang jelas. Tapi, saya kira dia memang belum tahu apa-apa. Dipikirnya dengan mengikuti kapal Olive Maru ini, yang ketika itu berangkat menuju Tokyo melintasi laut Hokkaido, maka dia dapat menemukan jasad kedua orangtuanya yang terseret banjir sampai ke laut Hokkaido ini.”
“Ja-jadi….”
“Sampai saat ini anak itu kadang-kadang menampakkan arwahnya. Saya juga tidak tahu kenapa. Tapi, mungkin arwahnya masih penasaran dengan pencarian jasad kedua orangtuanya, salah satu keluarga korban bencana banjir tiga tahun lalu di Hokkaido. Ah, kasihan anak itu!”
Reina menggigit pelepah bibirnya. Hatinya tersentuh mendengar penjelasan lelaki tua itu tentang hantu gadis cilik di kapal Olive Maru. Ketakutannya terbungkam menjadi haru. Rupanya ada kisah getir yang dialami gadis cilik itu semasa hidupnya. Sungguh beban derita yang tak tertahankan di usianya yang belia dan kanak-kanak!
Dari kejauhan Pulau Hokkaido nampak berupa noktah hitam di matanya. Ia menarik napas lega. Sebentar lagi, mungkin dalam bilangan jam, kapal sudah akan merapat di sana.
“Eh, kalian bersiap-siap, ya? Hokkaido sudah dekat! Setibanya di sana, langsung cari jinja (6). Ingat, jangan kemana-mana sebelum ke jinja!” Reina mewanti-wanti.
“Lho, untuk apa? Eh, memangnya kita ke Hokkaido mau jadi pertapa apa?” protes Bunzo.
“Iya, nih. Masa rencana liburan mau diganti dengan acara bertapa, sih?!” timpal Yumi.
“Jangan protes!” sergah Reina, mengibaskan tangan seperti kebiasaannya. “Pokoknya ikut saja. Aku tidak ingin arwah Miyoshi Masao mengikuti dan mengganggu acara liburan kita. Makanya, aku mau mendoakan dia. Supaya arwahnya tenang di alam sana. Tidak penasaran lagi!”
“Oo.” Nyaris ketiga sahabatnya itu mendesis dengan kalimat serupa.
“Yuck. Jadi, bagi yang tidak setuju silakan tunjuk tangan. Tapi, aku tidak dapat menjamin nyawa kalian kalau diuber-uber sama arwah penasaran lagi!”
Ketiga gadis sahabatnya itu sertamerta berangkulan ketakutan mendengar kalimat ancaman tadi. Reina terpingkal, ngakak lepas tanpa kendali seperti kebiasaan latennya. Yato Hayashi tersenyum. Lalu ikut terbahak bersama.
Sementara itu kapal Olive Maru terus melaju membelah ombak di laut Hokkaido. (blogkatahatiku.blogspot.com)

Keterangan:
(1) Maru = Kapal.
(2) Geisha = Penari wanita Jepang, penghibur tetamu di tempat perjamuan dan lain sebagainya.
(3) Sinshe = Guru, cendekiawan.
(4) Shigure = Hujan yang turun pada akhir musim gugur.
(5) Hideaki Takizawa = Nama salah seorang artis remaja populer Jepang.
(6) Jinja = Kuil tempat memuja dewa dan dewi dalam agama Shinto.