10 January 2014

Hantu Bocah di Dien Bien Phu

BLOGKATAHATIKU/IST
Hantu Bocah di Dien Bien Phu
Oleh Effendy Wongso

BLOGKATAHATIKU - Langit malam di Ho Chi Minh masih menyisakan partikel air dari hujan sejam lalu. Novotel Vietnam Hotel masih bertengger anggun di sudut kota. Disinari benderang lampu merkuri dari seputaran taman, bangunan megah itu tampak bagai gergasi di antara bangunan lainnya.
Jonathan Svaram Khok masih meringkuk dengan selimut tebalnya di ranjang hotel. Masih terlalu pagi sebenarnya untuk berangkat tidur. Tapi semilir udara dingin delapan malam yang membuai badan mengundang kantuk lebih cepat dari biasanya. Karenanya, digebahnya rencana untuk jalan-jalan malam di pusat kota bersama rekan-rekannya rombongan peserta seminar.
Ini adalah kali pertama ia menginjak tanah leluhurnya. Di mana nenek moyangnya beranak pinak. Kesempatan untuk mengunjungi sanak saudaranya di Vietnam sudah barang tentu bukan perkara mudah. Praktis tidak ada waktu untuk bertandang ke salah satu negara anggota ASEAN itu. Kegiatannya yang seabrek di Kanada pulalah yang nyaris menggebah salah satu negeri popular karena silang pendapat politik masa lalu di Asia Tenggara ini dalam benaknya.
Kesempatan itu terbuka ketika pemerintah Vietnam mengadakan acara internasional bertema remaja dan lingkungan. Dihadiri oleh hampir semua negara yang ada di Planet Bumi ini. Sebagai salah seorang siswa SMA dan aktivis remaja, yang bernaung di bawah sebuah yayasan sosial bernama Feed The Children Foundation, Jonathan Svaram Khok pun tentu tidak ingin melepaskan kesempatan untuk mengaplikasikan sedikit kebajikan demi perkembangan dan perdamaian dunia.
Feed The Children Foundation merupakan lembaga sosial yang didukung oleh pemerintah Kanada untuk membantu anak-anak terlantar di seluruh dunia. Anak-anak terlantar yang dimaksud adalah, anak-anak yang tidak memiliki prospek hidup layak seperti lazimnya kanak-kanak. Anak-anak yang kurang beruntung tersebut banyak dijumpai di negara dunia ketiga. Miskin dan terbelakang. Di antaranya ada yang menjadi pelacur anak, kuli dan buruh pabrik atau tambang, dan lain sebagainya.
Di Feed The Children Foundation, cowok blaster Vietnam-Amerika itu banyak mengetahui sepat kehidupan dan sisi suram sebagian bangsa di Asia dan Afrika. Di yayasan sosial tersebut pula ia bahu membahu bersama remaja pengurus lainnya. Salah satu di antara mereka merupakan pentolan boysband The Moffatts, Robert Franklin MoffatBobyang pernah kondang di penghujung tahun seribu sembilan ratus sembilan puluhan.
Lima hari agenda acara sepekan telah dilaluinya dengan serangkaian seminar yang melelahkan. Besok agenda acara yang tinggal dua hari itu akan diisi dengan mengunjungi Dien Bien Phu. Sebuah perkampungan di sebelah utara Hanoi, perbatasan negara Vietnam dengan Kamphucea. Di sana mereka akan mengunjungi banyak daerah agroindustri, yang konon banyak mempekerjakan anak-anak di bawah umur. Perkampungan miskin itu banyak mengolah hasil kopra, dijadikan minyak sayur untuk industri makanan. Dan dipasok di berbagai belahan negara di dunia.
Vietnam pascaperang memang telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Industri mereka, terutama pertanian dan perkebunan, berkembang pesat bahkan melampaui beberapa negara di Asia Tenggara seperti Indonesia. Namun tidak semua hasil yang dicapai negara agraris itu secerlang bintang-bintang di langit. Vietnam dahulu yang tercabik-cabik perang saudara meninggalkan banyak bekas luka. Kebobrokan perang telah mengguratkan trauma di benak para rakyat jelata orang-orang tua yang masih hidup.
Dan, Dien Bien Phu yang bakal dikunjunginya besok masih menyimpan banyak kisah lara!

***

Perjalanan ke Dien Bien Phu memakan waktu delapan jam dengan transportasi bis. Para peserta seminar dari berbagai belahan dunia tampak lebih menyerupai turis ketimbang aktivis remaja. Begitu bis sampai di tujuan, rombongan langsung berseliweran menyusuri area perkampungan yang ditumbuhi rimba pohon kelapa sawit.
Jonathan Svaram Khok menggandeng tangan Jessica Baltimore, membantu gadis berambut emas itu turun dari bis. Ia berencana mengaso bersama gadis itu di bawah salah satu batang pohon kelapa sawit, duduk atau baringan sembari menghirup udara perkampungan yang lembap dan dingin.
Dalam perjalanan ke tempat ini tadi, panitia pelaksana seminar telah mengarahkan peserta untuk tidak jauh-jauh dari rombongan. Mereka bisa bertanya apa saja kepada petani kelapa sawit dengan jasa penterjemah yang sudah disiapkan oleh pihak panitia. Juga mencari bukti adanya perburuhan anak yang ilegal. Setelah itu mereka boleh istirahat di rumah-rumah panggung yang telah disiapkan untuk menginap.
“Aku mau langsung wawancara!”
Jessica Baltimore antusias. Sedari tadi tangannya tidak henti-hentinya memotret suasana perkampungan. Juga beberapa petani kelapa sawit yang menyambut mereka dengan ramah.
“Istirahat dulu. Aku ada bawa tikar kecil untuk baringan.”
“Istirahat?! Hei, apa tidurmu yang seperti orang mati di hotel kemarin belum cukup?!”
Jonathan Svaram Khok tersenyum. Diakurinya akhirnya rencana Jessica Baltimore, sobat kentalnya di Feed The Children Foundation, untuk langsung melakukan wawancara. Di sampingnya ada Ngunyen Prat May yang sudah membuntuti sedari tadi seperti pitik.
“Itu ada Bapak Tua!”
Jessica Baltimore melangkah setengah berlari ke arah seorang petani tua yang sedang mengaso, duduk di bawah sebuah pohon kelapa sawit. Langkahnya diikuti oleh Jonathan Svaram Khok dan Nguyen Prat May yang bertugas untuk sulih suara dengan imbalan tip lembaran-lembaran dong, mata uang Vietnam. Mereka memang sangat membutuhkan penterjemah. Sebab meski masih berdarah Vietnam, tapi Jonathan Svaram Khok sama sekali buta dengan bahasa yang berasal dari moyang leluhurnya tersebut.

***

“Dulu, memang banyak buruh bocah di sini. Tapi, sejak mendapat sorotan tajam dari ILO, International Labour Organization, pejabat pemerintah pemilik perkebunan ini mulai mengurangi menggunakan tenaga kerja dari kalangan anak-anak lagi. Tapi, di pedalaman-pedalam yang sulit terjangkau, pemilik perkebunan swasta masih banyak yang menggunakan tenaga kerja bocah.”
“Ya, ampun!” Jessica Baltimore membelalak dengan rupa sedih. “Kasihan sekali mereka!”
“Memang begitu. Tapi, mau apa lagi. Anak-anak itu butuh pekerjaan meski seberat apapun. Kalau tidak kerja, mau makan apa mereka?!”
Jonathan Svaram Khok mengusap wajahnya. Melalui bibir Nguyen Prat May, ia kembali mendengar kisah suram yang banyak disaksikannya pada slide-slide film milik Feed The Children Foundation yang sering ditayangkan pada saat pertemuan anggota.
“Pak, apakah tidak ada tindakan dari pemerintah untuk pengusaha-pengusaha nakal perkebunan tersebut?!” tanya Jessica Baltimore lagi, via Ngunyen Prat May yang lancar berpindah-pindah dua bahasa dengan fasih. Inggris-Vietnam, juga sebaliknya.
“Mereka seperti belut. Licin dan picik. Diperingati pun percuma. Mereka memang keras kepala. Dan yang jadi korban tentu saja anak-anak pekerja di bawah umur itu!”
“Keterlaluan, ya?!” timpal Jonathan Svaram Khok gemas.
“Tentu saja. Kalau tidak, buruh-buruh bocah itu tentu tidak akan menjadi arwah gentayangan. Hantu yang mati penasaran!”
Kepala Jonathan Svaram Khok dan Jessica Baltimore menegak seperti kepala ular kobra. Diamatinya wajah keriput dengan sepasang cekung di pipi petani tua yang bernama Lhai Nak Thong itu.
“Han-hantu anak-anak?!” desis Jessica Baltimore tertahan, dan diikuti oleh Jonathan Svaram Khok dengan kalimat serupa seperti sedang membaca dialog skenario.
“Ya. Pada malam hari, dari rerimbunan nyiur, kadang-kadang terdengar tangisan anak-anak. Juga jeritan kesakitan yang sangat memilukan di sini!”
“Orang-orang kampung memang sering mendengar suara-suara aneh itu, Mr. Jonathan!” jelas gadis bertubuh mungil sang penterjemah meyakinkan. “Hal gaib itu sudah melegenda di Dien Bien Phu!”
“Be-benar begitu?!” Jessica Baltimore bertanya dengan suara separo memekik.
“Aku sendiri yang mendengar tangisan itu, kadang-kadang. Suara tangisan tersebut berasal dari arwah buruh anak-anak yang banyak meninggal karena buruknya perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja di sini dulu. Kalau tiba pada musim penghujan misalnya, banyak di antara buruh anak-anak itu meninggal karena malaria dan kolera!”
Jessica Baltimore menggigit bibirnya. Ia dapat merasakan beban derita buruh anak-anak yang kadang-kadang hanya diimbali makanan sebagai upah kerja berat mereka.
“Kasihan juga anak-anak itu. Sekarang, mereka masih menunjukkan eksistensi penderitaan mereka dengan fenomena aneh yang terjadi di perkebunan-perkebunan Dien Bien Phu ini!”
“Selain suara-suara tangis dan jeritan, apakah tidak ada penampakan lain, Pak?!” tanya Jonathan Svaram Khok dengan rupa iba.
“Selama ini masyarakat baru mendengar suara-suara dan jeritan-jeritan aneh itu. Tapi, tentu saja tidak semua orang percaya kalau suara-suara dan jeritan-jeritan aneh itu berasal dari hantu-hantu buruh anak-anak yang mati penasaran. Di antaranya, ada yang bilang kalau suara-suara tersebut hanya merupakan kejadian alam semacam fatamorgana. Pantulan dan gema yang menggaung dari desa sebelah ke perkebunan ini, sehingga terdengar seperti tangis maupun jeritan anak-anak.”
“Ja-jadi…,” Jessica Baltimore tercekam, tak sanggup merampungkan kalimatnya. Ia menundukkan kepala dengan mata yang mulai membasah.
Lelaki tua bertopi caping itu menghela napas panjang. Sesaat matanya terpejam. Disandarkannya punggungnya di batang pohon kelapa sawit. Seperti sedang menyangga bobot tubuhnya yang tiba-tiba memberat oleh kisah suram perburuhan anak-anak, yang banyak menyengsarakan anak-anak dari kalangan papa di Dien Bien Phu.
“Ah, entahlah. Benar atau tidaknya fenomena aneh itu, Bapak kira semua itu merupakan semacam teguran dari langit untuk kita supaya bertindak bijak dalam menghadapi kehidupan ini. Bagaimanapun juga, nyawa anak-anak itu sama berharganya dengan jiwa kita sendiri. Sepertinya kita diajak untuk merenung dalam-dalam, bahwa ambisi materi dan kekuasaan hanyalah membawa serangkaian duka. Sebab semua itu hanyalah fatamorgana. Tidak ada yang abadi.”
“Betul, Pak. Makanya, kami dari The Feed Children Foundation ngotot untuk memberantas perburuhan anak-anak!” ujar Jonathan Svaram Khok mantap, seolah menegaskan rasa simpatinya terhadap nasib buruk sebagian anak-anak dari kalangan papa tersebut.
“Bagus. Anak muda seperti kalian memang harus peduli nasib anak-anak yang kurang beruntung tersebut sejak dari sekarang!”
Jonathan Svaram Khok mengurai simpul bibir. Ia tersenyum bangga. Diliriknya Jessica Baltimore yang terdiam serupa arca. Masih termakan rasa iba atas nasib malang buruh anak-anak yang telah meninggal dalam kamp-kamp dan area pekerjaan mereka.
Senja mulai menangkupi Dien Bien Phu ketika Jonathan Svaram Khok mohon pamit kepada lelaki tua itu. Atmosfer di tanah perkebunan tersebut mulai mendingin. Angin sudah pula mengembuskan kabut dari pegunungan desa. Dingin yang menusuk-nusuk tulang seolah mewakilkan suara-suara aneh yang menjadi fenomena di sana.
Jonathan Svaram Khok menggandeng tangan Jessica Baltimore seperti biasa. Nguyen Prat May masih pula mengekor seperti pitik. Mereka melangkah pulang ke area peserta seminar.
Dien Bien Phu memang menyimpan banyak kisah lara.