06 January 2014

GO GREEN YANG TAK SEKADAR RETORIKA

BIKE TO EARTH

Foto: Effendy Wongso
Ada hal menarik manakala isu pemanasan global dunia (global warming) sudah menyentuh eskalasi politik. Gelontoran dana yang tidak sedikit dari secarik giro orang-orang bersafari atau upaya-upaya pengumpulan pundi amal dari kegiatan-kegiatan sosial bertajuk “go green”, kerapkali berkesudahan tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti seiring selesainya proyeksi egosentris yang sekuleristik.
Melamurnya esensi dan nilai-nilai luhur tentang penyelamatan lingkungan sudah barang tentu merupakan berita miris, namun sekaligus sebagai pelecut bagi sebagian kecil pegiat lingkungan hidup yang memegang teguh prinsip naturalistik, bumi harus dijaga kelestariaannya. Adalah Anita Roddick (23 Oktober 1942-10 September 2007), aktivis hak asasi manusia, lingkungan hidup, dan pendiri The Body Shop. Bisnis yang didirikan wanita kelahiran Inggris ini tak semata menjaring laba, akan tetapi melebihi batas-batas nirlaba di mana ia langsung bertindak untuk membantu kemanusiaan dan lingkungan hidup.
"Saya hanya mau The Body Shop menjadi yang terbaik, menjadi perusahaan yang menyenangkan, dan perusahaan yang mengubah bagaimana suatu bisnis dijalankan. Itulah visi saya," ujarnya.
Melalui The Body Shop pula, Anita Roddick menyerukan lima nilai dasar yaitu Support Community Fair Trade, Defends Human Rights, Against Animal Testing, Active Self-Esteem, dan Protect Our Planet. Kelima nilai tersebut membawa The Body Shop ke dalam bisnis yang tidak hanya mencari keuntungan, namun bagaimana The Body Shop mempromosikan perusahaan dan produk kecantikan dengan etis, terus berupaya mengajak pelanggan dan publik dalam melakukan serta mendukung perubahan sosial dan lingkungan ke arah positif.
Salah satu nilai dasar, Protect Our Planet yang giat dikampanyekan The Body Shop adalah Bike for Earth. Ini memang berbanding terbalik dengan sebagian besar kaum retorik yang terdiri dari sekumpulan orang yang bersuara lantang di belakang corong, dengan lengan baju yang tersingsing sembari menggelar poster-poster bernada sarkastis.
Sebagian lagi hanya menggurui lewat sebaris-dua tulisan di kolom dan opini sejumlah koran, dengan artikel bernada pesimistik perihal penyelamatan sebuah hutan, penghentian perdagangan manusia, dan banyak hal lainnya. Namun Anita Roddick tidaklah demikian, hal ini dapat dilihat pada 1990, di mana ia membantu pendirian majalah The Big Issue yang keuntungan penjualannya digunakan untuk membantu tunawisma.
Selain itu, Anita Roddick mendirikan yayasan amal Children On The Edge untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung di Eropa Timur dan Asia. Ia juga banyak membantu sejumlah organisasi sosial termasuk Greenpeace. Pada Februari 2007, Anita Roddick mengumumkan dirinya menderita Hepatitis C menahun, dan mempromosikan yayasan Hepatitis C Trust, dan ikut serta melakukan kampanye penanggulangan Hepatitis.
Meski Anita Roddick telah tiada, namun visinya masih terus hidup. Melalui The Body Shop, kampanye penyelamatan bumi dengan cara sederhana seperti bersepeda, ditularkan dengan cara-cara humanis. “Dengan bersepeda kita menghemat energi karena tidak memakai BBM. Bersepeda juga dapat mengurangi polusi udara yang dapat meningkatkan efek rumah kaca atau pemanasan global,” ujar CEO The Body Shop Indonesia, Suzy Hutomo beberapa waktu lalu, pada saat “Kampanye Bike for Earth” di Jakarta.
Bike for Earth sekaligus bertujuan untuk menurunkan budaya pemakaian kendaraan bermotor yang sangat tinggi di Indonesia. Melalui kampanye Bike for Earth, The Body Shop juga mengajak masyarakat agar lebih sadar terhadap ancaman pemanasan global, dan sebisa mungkin peduli serta melakukan apa yang dapat diperbuat sebagai kontribusi untuk menciptakan suatu perubahan. Ini memang cara yang sederhana dan sangat dekat dengan keseharian manusia.
Itu pula yang sempat dilontarkan oleh Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, pada acara “Sepeda Sehat HUT ke-405 Kota Makassar”, beberapa waktu lalu di Makassar. Menurutnya, bersepeda adalah salah satu kegiatan antisipatif untuk menanggulangi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).
“Suatu saat bahan bakar fosil akan habis, dan untuk dapat survive orang akan kembali kepada sepeda,” demikian ungkap Ilham di hadapan 15 ribu peserta “Sepeda Sehat HUT ke-405 Kota Makassar”.
Bersepeda, sejatinya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh agar menjadi budaya urban baru. Peran masyarakat dan pemerintah dalam menghidupkan dan mendukung komunal kendaraan kayuh angin ini tentu merupakan langkah bijak. Bukan sekadar penyediaan fasilitas jalan khusus untuk pengendara sepeda, tetapi yang lebih penting adalah komitmen demi kelangsungan bumi tempat kita berpijak ini. (blogkatahatiku.blogspot.com)