09 January 2014

GETAR CINTA

Oleh Effendy Wongso


Foto: Effendy Wongso
Arga baru saja tiba di rumah dan menggeliatkan badannya mengusir penat setelah seharian dia meliput acara perlombaan voli pantai di Parangtritis ketika Niar, adiknya, menegurnya dengan mulut belepotan silverqueen sembari selonjoran di teras membaca GADIS.
“Ada undangan ultah untuk Mas Ar. Tuh, di atas meja makan.”
“Dari siapa?”
“Dari siapa lagi?” Niar masih asyik dengan permen coklatnya. Matanya tidak terlepas dari gambar-gambar model di GADIS.
Arga menghela napas panjang-panjang. Sri. Gadis itu lagi!
“Kayaknya dia ada hati sama Mas Ar!”
“Siapa?” Arga pura-pura tidak tahu. Dilepaskannya rompi dan kamera Nikon-nya. Diletakkannya sementara di atas meja makan. Matanya menyambar sepucuk surat mungil bersampul merah jambu. Ada pita pemanis dengan warna senada.
“Sweet seventen-an. Asyik. Mas Ar, Niar ikut ya?”
Arga tidak menjawab. Ditariknya sebuah kursi dan duduk anteng dengan rupa cemas.
Entah sudah berapa kali Sri menelepon mengingatkannya agar hadir pada hari jadinya yang ketujuh belas. Dan hari ini dia mengirimkan undangan. Alangkah sakitnya hati Sri bila besok dia sampai tidak menghadiri pesta ulang tahunnya itu.
Tapi….
“Mas Ar mau hadir, kan? Tadi pagi-pagi sekali dia nelepon lagi. Katanya….”
Arga bangkit. Dilangkahkannya sesegera mungkin kakinya menuju kamarnya. Dia tidak ingin mendengar celoteh adik semata wayangnya itu. Dia ingin tidur puas-puas. Melupakan saja gadis yang menaruh perhatian lebih padanya itu. Sungguh, dia menyesal mengapa bersikap manis saat mewawancarai gadis itu. Mengapa dia bersikap baik bila bertandang ke rumahnya. Mengapa….
Di kamarnya, di atas tempat tidurnya yang sederhana namun resik, dia terpulas karena kecapekan. Di dalam mimpinya, dia bertemu Sri lagi. Sri tampak cantik dan anggun seperti Cinderela dengan gaun pestanya yang gemerlap mempesona. Dan dia menjadi pangeran yang siap mempersunting Cinderela.


***
 Plaakk!
Arga tergeragap. Dia meringis sembari mengelus bahu kanannya yang perih akibat tepukan seseorang di belakangnya. Secuil senyum nakal menyambutnya begitu dia berbalik untuk menengok.
“Ngelamunin dia lagi ya, Ga?” Pertanyaan itu terdengar saat mata Arga membentur sesosok tubuh lampai punya Liana, teman sekampusnya.
Arga tak menggubris. Pura-pura dialihkannya kembali tatapannya ke harian lokal yang memuat artikelnya. Merasa tidak dianggap, Liana berusaha merebut koran itu dari tangan Arga. Tidak berhasil. Karena Arga bergerak refleks, mengelakkan badannya ke samping. Lalu menyembunyikan koran tersebut di belakang punggungnya.
“Apa-apaan sih, Na?” semburnya sembari melotot.
Liana berkacak pinggang dengan rupa semasam mangga muda. “Kamu tidak tuli, kan?”
“Tentu saja tidak.” Arga kembali menggelar korannya.
Liana duduk kini di samping Arga. “Nah, kalau tidak, tolong jawab pertanyaanku tadi.”
“Soal apa?” tanya Arga tanpa mengangkat muka.
“Soal gadis cantik-manis-ayu de-es-te (dan seterusnya) yang bernama Sri .”
Air muka Arga berubah. Diangkatnya kepala dari lebar kertas koran di akhir jawaban Liana. Ini, ini dia yang mesti dihindarinya! Sebab, tabu hukumnya apabila dia menyinggung-nyinggung soal gadis manis yang punya talenta besar di bidang modeling itu. Bahaya. Nah, sedini mungkin hal-hil yang menyangkut tentang Roro Sri Dwinintaputri Trisnojoyo harus digebahnya. Terbang jauh-jauh dan semoga tak akan pernah kembali.
“Kenapa memangnya dengan putri tunggal puak terpandang itu?” tanya Arga cuek, meski tak urung juga bola matanya bergerak gelisah.
“Kenapa?” Liana tersenyum sinis. “Justru aku yang pingin nanya tentang dia.”
“Dari aku?”
“Siapa lagi?”
“Hei, kok ke aku?”
Liana menghempaskan napasnya dengan keras. “Kok, kamu mendadak jadi bego begitu, sih?!”
“Maksudmu?”
“Cih, pura-pura lagi,” Liana mencibir dengan gaya kekanak-kanakan. “Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu, padahal hati kamu kebat-kebit,” ledeknya, lalu tertawa terbahak.
Arga menahan dirinya sekuat mungkin untuk tidak tersenyum. Dirasakannya pipinya memanas. Hm, mudah-mudahan cewek tengil ini tidak melihat pipiku yang mungkin sudah merah-padam, harapnya dalam hati. Pufh! Anak ini memang kerjanya suka usilin urusan orang lain. Dia ratunya tukang gosip. Setiap hari ada saja korban dan bahan gosipnya. Mottonya, tiada hari tanpa gosip.
“Lho, hari ini kamu kan, ada kuis?” tanya Arga cepat.
“Tidak jadi. Pak Hans lagi tidak enak badan,” jelas Liana dengan kalimat ‘steno’nya, lantas menyergah, “Eit, jangan mengalihkan pembicaraan. Dosa, tahu?”
Mau tidak mau Arga akhirnya tersenyum juga. Nona yang satu ini memang pantang menyerah jika sudah mengejar sumber berita. Apalagi yang hangat dan aktuil. Dan memang harus diakui kalau dia punya prospek yang cerah untuk menjadi seorang wartawati handal. Tapi mudah-mudahan saja bukan untuk media cetak yang, khusus mengupas masalah gosip dan isu hasil bentukannya bersama nona-nona rumpi lainnya!
Akhirnya Arga menyerah. Liana terlalu pintar untuk dibohongi. Juga terlalu cerdik untuk dikibuli. Dia seperti punya seribu pasang mata dan telinga yang bertebaran di mana-mana.
“Cuma temenan.” Hanya kalimat itu yang diuraikan Arga menanggapi desakan pertanyaan Liana yang seperti muntahan peluru senapan mesin, menanyai tentang kebenaran gosip yang belakangan ini menjadi buah bibir semua orang.
“Percaya, percaya….” Liana berdiri dengan sikap prajurit, lantas membungkukkan badannya dalam-dalam seperti hormat ala Jepang. “Terima kasih atas jawabanmu yang sudah klise.”
“Eh, tidak percaya?” Arga turut berdiri setelah melipat korannya.
“Hanya orang stewar yang akan percaya.”
“Apa? Rod Steward?” Arga mengernyitkan dahinya, sama sekali tidak mengerti bahasa ‘gaul’ yang dilontarkan Liana barusan.
“Bukan Rod Steward yang penyanyi rock itu. Tapi stewar!”
“Apa itu stewar?”
“Itu singkatan dari setengah waras.”
“O,” Arga mengangguk lugu. “Tapi kamu akan menjadi orang stewar bila ikut-ikutan gosip itu.”
“Oya?” Liana mendelik. “Lantas, apa dalih kamu lagi mengenai foto berdua kamu dengan Sri yang jelas-jelas terpampang besar-besar dan dimuat di sini minggu lalu?” Ditariknya koran dari tangan Arga, lalu diacung-acungkannya di muka hidung cowok itu.
“Itu hanya snap-shot dari paparazzi amatiran yang tidak punya kerjaan,” Arga menanggapi dengan tenang. Diambilnya kembali koran dari tangan Liana.
“Tapi….”
“Liana, Liana,” Arga menyalib, menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kamu tuh, harus tahu siapa sebenarnya Si Sri itu. Dia itu publik figur. Dan sebagai publik figur dia tidak terlepas dari perhatian yang sekecil apa pun.”
“Tapi….”
“Sstt… jangan potong kalimatku,” Arga mengibaskan tangannya. “Nah, entah di mana dan bagaimana, pas aku terlihat berdua dengan dia, ‘klik-klik-klik’, maka jadilah foto yang kamu lihat di sini minggu lalu.” Giliran Arga yang mengacung-acungkan koran itu di muka hidung Liana. “Kebetulan saja aku yang ketiban sialnya karena saat itu aku tengah mewawancarai dia. Kukira, hal itu tidak menutup kemungkinan bagi cowok-cowok lain. Paham?”
Tapi Liana tidak mau paham. Sebab, nyaris seantero Yogyakarta tahu kalau Roro Sri Dwinintaputri punya gacoan baru bernama Arga Sofyan.
“Tidak ada yang bakal menjebloskan kamu ke dalam penjara kalau kamu berterus terang, kok.” Liana belum menyerah.
“Tapi….”
Liana yang menyalib kini. “Cantik, beken, dari keluarga terpandang. Apalagi? Bangga dong, punya doi seperti Sri. Nah, kenapa mesti malu mengakuinya?”
Arga kali ini benar-benar menyerah. Dia tidak tahu harus ngomong apa lagi untuk meyakinkan Liana kalau dia sama sekali tidak ada affair dengan model belia adik dari Roro Sari Dewantiputri, teman sekampusnya di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Cuma temenan!
Kalimat itu yang berkali-kali diulang Arga di bibirnya. Di bibir tok. Tapi tidak di hatinya. Karena hatinya menolak kalimat itu. Hatinya tidak pernah mau akur dengan kalimat yang berkali-kali diucapkannya itu.
Hatinya bicara lain.

***

 Jika ada kesalahan terbesar sepanjang hidupnya, maka Arga tidak akan memungkiri ini: Jatuh cinta pada Sri! Kadang-kadang dia berpikir kalau dirinya sedang mengalami gejala psikopat. Mengharap apa yang mustahil diraih. Pungguk merindukan bulan!
Gadis itu demikian terpandang. Berprestasi. Model. Lahir dari keluarga yang menjadi panutan masyarakat. Sedangkan dia? Huh, sudah kurus, jelek, miskin lagi. Lagian masa depannya belum jelas. Nyari makan untuk diri sendiri saja susah, bagaimana mau ngasih makan anak orang lain? Apa mau dikasih makan batu? Arga, Arga, kamu mesti tahu diri. Ngaca, ngaca, dong! maki Arga berulang-ulang pada dirinya sendiri.
Dunia akan menertawakannya. Dan mereka semua sekarang sudah tertawa membaca beritanya yang dianggap paling lucu sedunia. Seorang mahasiswa kere berani-beranian berpacaran dengan seorang model dari keluarga berdarah biru, ningrat. Nyali apa yang dia pakai?!
Cibiran pun tertuju untuknya. Sarkartis dan menyakitkan memang. Sekarang dia digelari si Muka Badak. Tidak secara langsung. Cuma bisik-bisik seperti sepoi-sepoi angin. Tapi sepoi-sepoi angin itu bakal menjadi topan yang memporak-porandakan hatinya….
Agaknya dia harus belajar untuk menjadi seorang kesatria. Jujur pada dirinya sendiri, berterus terang mengatakan cintanya terhadap Sri dengan mengenyahkan perasaan-perasaan kerdilnya, atau tidak sama sekali dan berarti kalah! (blogkatahatiku.blogspot.com)