08 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 62

Oleh Effendy Wongso
Sebagai jenderal
aku menogakan titah
bahwa mutlaklah
bagi engkau sebagai pemimpin
mendukung nilai-nilai luhur ini:

kebijaksanaan
ketulusan
kemurahan hati
keberanian
dan ketegasan

Sun Tzu
Refleksi Seni Rana

Foto: Dok KATA HATIKU
EPILOG

“Pasukan besar Mongol tidak dapat dikalahkan hanya dengan mengandalkan tekad semata, Kapten Shang. Banyak faktor yang mesti dipikirkan sebelum bertindak.”
“Lantas, apakah kita hanya tinggal berdiam diri saja sampai Tionggoan benar-benar jatuh ke dalam tangan Temujin?!”
“Bukan begitu. Ingat, emosi yang membahang seperti yang Anda lakukan dulu bukan merupakan tindakan yang tepat. Anda masih ingat bagaimana dengan nyawa Anda sendiri yang hampir melayang ketika menyongsong tanpa nalar pasukan pemberontak Han dulu. Jangan menambah masalah dengan bertindak gegabah. Penyerangan balasan terhadap kubu Mongolia harus dipikirkan matang-matang. Mundur bukan berarti kalah.”
“Ibukota Da-du kritis, Kaisar Yuan Ren Zhan di ambang maut. Entah, apa yang tengah dilakukan oleh si Birang Shan-Yu itu. Sekarang Bao Ling tengah menjemput beliau di hutan Hwa. Beberapa pasukan elit kita tengah bersama Bao Ling untuk menghadang pergerakan kecil pemberontak Han pimpinan Shan-Yu yang tengah mengejar Kaisar Yuan Ren Zhan.”
“Saya mafhum. Namun bukan demikian caranya untuk menuntaskan masalah sepelik ini, Kapten Shan. Tugas Anda sekarang adalah memimpin sembari mengatur strategi militer di Tung Shao. Saya sendiri akan menyusul Bao Ling ke hutan Hwa.”
“Saya percaya kamu dapat menuntaskan setiap masalah, Mulan. Tapi saya tidak ingin kamu menjadi tumbal di garda depan Yuan.”
“Tidak penting memikirkan pada posisi apa kita berada, Kapten Shang. Tidak penting dalam posisi, jabatan, dan strata apa kita sekarang. Mempertahankan negara merupakan kewajiban setiap orang. Bukankah sedari dulu telah saya tegaskan kepada Anda bahwa, masalah Yuan merupakan tanggung jawab kolektif. Bukan masalah orang per orang saja.”
“Saya mengerti. Tapi terjepit di dalam masalah besar begini, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi.”
“Untuk itulah diperlukan kontemplasi.”
“Apa itu, Mulan?”
“Meditasi, itulah salah satu permenungan agar kita dapat berpikir jernih untuk dapat menyelesaikan masalah sebesar ini.”
“Saya tidak tahu seberapa besar manfaat meditasi. Hei, bukankah hal itu merupakan salah satu ajaran Sakyamuni?”
“Sakyamuni hanya membeberkan jalan. Beliau tidak pernah memaksakan kehendak kepada sesiapa. Jiwa dan raga kita tergantung pada kehendak kita sendiri. Kitalah yang menjadi majikan atau tuan atas diri dan pikiran kita sendiri. Kitalah yang bertanggung jawab atas diri kita masing-masing. Untuk itulah diperlukan kontemplasi. Tujuannya, agar kita dapat mengambil langkah-langkah tepat menyiasati masalah. Bukannya mengambil langkah gegabah yang keliru.”
“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang untuk mengantisipasi pergerarakan pasukan Mongolia?”
“Saya mengerti, memang sudah sepatutnyalah kita mengambil langkah-langkah penting dan cepat untuk menghalau pergerakan Mongolia. Jujur saja, sebenarnya pasukan kavaleri Fo Liong kita sudah dihancurkan di perbatasan Tembok Besar. Jadi, satu-satunya kekuatan kita sekarang hanya bertumpu di Tung Shao ini. Pasukan elit Yuan di Ibukota Da-du sendiri sudah menyerah. Saya kira, pasukan kitalah yang merupakan titik terakhir untuk mengadakan perlawanan sebelum sungguh-sungguh jatuh ke dalam tangan Temujin.”
“Kalau begitu, tunggu apalagi? Secepatnya kita harus menyerang sebelum Temujin merebut Ibukota Da-du.”
Fa Mulan menghela napas panjang. Sungguh, ia tak paham benar lara yang belum mereda. Tak henti-hentinya Tionggoan dirundung maharana. Rakyat dan para jelata jualalah yang akan menjadi korban kebiadaban.
“Kapten Shang….”
“Maafkan saya jika terlampau emosional.”
“Anda tidak salah. Saya mengerti seseorang akan menjadi labil jika didera situasi sulit seperti ini.”
“Tapi, saya merasa bersalah. Saya merasa seperti tidak berguna sama sekali.”
“Kesalahan tidak dapat ditujukan pada satu pundak saja, Kapten Shang. Masuknya pasukan Mongolia ke Tionggoan tidak dapat dikatakan sebab kelalaian Anda semata. Banyak faktor penyebab. Di antaranya euforiaritas akibat kemenangan Yuan terhadap pasukan pemberontak Han di Tung Shao beberapa waktu yang lalu. Jadi, saya berharap Anda tidak larut dalam penyesalan diri begitu.”
“Seperti di sini, kalau bukan kamu, entah apa yang akan terjadi. Saya merasa benar-benar tidak berguna. Kamulah yang berhasil mengalahkan pasukan Han Chen Tjing.”
“Bukan saya. Tapi kemenangan kita adalah kemenangan kolektifitas. Semua prajurit di sini turut berandil mengalahkan pasukan pemberontak Han. Jadi, bukan saya semata.”
Pemuda itu mengangguk. Sorot bola matanya yang serupa elang masih mematri pada wajah tegas Fa Mulan. Sesungguhnya kegamangannya kali ini bukan lantaran runtuhnya Dinasti Yuan, namun lebih daripada semua itu. Ada yang lebih ia takutkan melebihi marabahaya manapun yang siap merenggut nyawanya sendiri.
Hitungan bilangan hari, dan bulir padi pada pematang adalah ihwal kematian. Sedemikian dekatkah gadis itu pada ujung kematian?! Makhluk manakah yang akan yang akan menghabisi dan menyabut nyawa Bunga Magnolia itu?!
Sekali lagi ia menggeleng tanpa sadar. Bukankah kematian merupakan awal kehidupan yang baru?! Bukankah kematian merupakan pengakhiran derita yang seperti tak pernah ada habisnya?! Lalu, untuk apa ia menyesalinya?!
Apakah napasnya hanya sependek gelung tabir asap dupa yang bergeletar getas di atas paidon?! Oh, Dedewa, meski ia bukanlah rani, namun sudilah Engkau turun ke bumi. Mengangkatnya dari kubangan kematian. Sebab maharana ini sungguh menyesakkan jiwa.
“Saya akan segera berangkat ke hutan Hwa untuk membantu Bao Ling menolong Baginda.”
“Mulan….”
“Sudahlah, Kapten Shang. Anda harus berkonsentrasi di Tung Shao ini. Jangan terlalu memikirkan saya. Saya akan jaga diri baik-baik.”
“Saya khawatir Shan-Yu….”
“Percayalah, Kapten Shang. Kebatilan tidak pernah dapat mengalahkan kebajikan. Saya berjanji akan kembali dengan selamat. Tentu saja, bersama Kaisar Yuan Ren Zhan.”
“Tapi, Shan-Yu memiliki ilmu silat yang tinggi. Dia juga licik.”
“Saya, beserta Bao Ling, yakin dapat mengatasinya. Lagipula, Dewata tentu tidak ingin membiarkan kebatilan merajalela di Tionggoan ini.”
“Ya, ya.”
“Sebentar lagi saya harus ke hutan Hwa. Di sini, Anda harus memperkuat basis tempur. Anda harus berhati-hati, Kapten Shang. Mongolia bukan musuh sembarangan. Mereka memiliki kapabilitas tempur yang melebihi pasukan pemberontak Han. Temujin jauh lebih lihai ketimbang Han Chen Tjing, yang lebih mengandalkan emosional ketimbang logika dalam sebuah rana. Temujin adalah tokoh tipikal nomadi. Dia merupakan petarung gurun yang hebat dan ulet. Meski saya tidak gentar terhadap terhadap kubu lawan yang kuat, namun rasa pesimistis akan kemampuan pasukan kita tetap saja menghantui saya.”
“Memang. Saya sendiri sudah pesimistis, Mulan. Ibukota Da-du hanya tinggal menunggu hari saja jatuh ke dalam tangan Temujin. Keadaaan sudah sangat genting. Perdana Menteri Shu Yong dan Jenderal Gau Ming sudah tewas. Sementara itu jenderal-jenderal lain sudah melarikan diri jauhjauh hari sebelum Mongolia menyerang. Sekarang, harapan Yuan hanya terletak di pundak kita berdua. Lalu, apa yang dapat kita lakukan dengan sisa pasukan begini?!”
Fa Mulan menghela napas panjang.
Ya, apa yang dapat mereka lakukan sekarang?!
Digigitnya bibir.
Oh, inikah karma dari kebatilan manusia atas manusia lainnya?!
Sungguh, inilah beban terberat yang pernah ia emban. Namun selalu ada jalan keluar dari masalah. Selalu ada sinar terang di balik kegelapan.
Dan ia percaya, Dewata senantiasa melindunginya! (blogkatahatiku.blogspot.com)

SELESAI