08 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 61

Oleh Effendy Wongso

Genta-genta bernada pilu
iring tarian anacastik
iramanya rucah
seperti noktah yang sendiri

Bao Ling
Tarian Anacastik

Foto: Dok KATA HATIKU
Apa yang dapat aku lakukan untuk menyelamatkan Tionggoan?! Sungguh, aku tak paham akan nestapa ini. Adalah denyar dan dengung kematian sajalah yang senantiasa mengitari hidupku. Adalah parade iblis sajalah di penglihatanku sejauh kulabuhkan pandang mataku. Semuanya adalah tarian anacastik, mengirama dengan sempurna dan moralistik.
Kesempurnaan adalah asma yang bertiup sepanjang masa. Aku terbang, melayang dan melayang tertiup angin. Aku tidak pernah tahu di mana aku berada. Kadang aku merasa telah berada di Selatan, atau di Utara. Lalu suatu waktu, angin jualah yang membawaku ke Timur atau Barat. Entahlah. Anominitas ini sungguh menjadikanku pebuta di antara buta. Semuanya gelap. Noktah terang hanyalah gemintang di atas langit malam. Titik terang hanyalah pijar lentera di bawah temaram dusun-dusun. Apakah ini gerhana di dalam jiwaku?
Ada kaisar yang lalim. Ada rani yang bijak. Semuanya seiring sejalan dalam detak-detak jantung ini. Oh, adakah pengampunan atas dosa-dosa kami ini? Adakah pembelaan atas ketertindasan yang senantiasa mengirama di dalam kedinaan ini?
Semuanya hening. Diam dan bisu.

***

Ketahuilah, Mulan. Sesungguhnya, ada dua warna yang menangkupi dunia. Sesungguhnya pula, warna-warni lain, hanyalah bias dari kedua warna tersebut. Namun, kita tidak pernah dapat menangkap apa makna di balik semua warna yang terpancar tersebut. Keindahan dari pelangi adalah kesemuan. Sungguh, kita telah menafsir keliru segala. Dan dalam menyusuri jalan nan panjang, kita semakin dibutakan oleh sang kala. Ketahuilah, Anakku, bahwa jauhar dan mute yang tersebar di sepanjang jalan yang telah kita tempuh, telah membinasakan badan.
Lalu apa yang sesungguhnya kita cari?! Bukankah pedoman telah dimaktubkan oleh Sanghyang dalam setiap sisi nurani manusia?! Lantas, mengapa kita demikian bodoh dan dungu sehingga monceng dan salah arah?!
Oh, durja benar napas yang diembus para pendosa di tanah nan batil, Mulan. Apakah ini awal mulakat manusia dengan maut?!
Jawablah, Anakku. Satu di antara perintah keng  nan suci adalah, jangan bersenada dengan kebatilan. Namun manusia, para pendosa, telah meremeh-temehkan genta agung yang mendengung dari langit ketujuh. Manusia telah menulikan pendengarannya sendiri. Manusia terus menjazam. Hingga timbullah maharana nan rana.
Oh, andai saja engkau tahu, Anakku, betapa pilunya irama hati para rani dan dedewa di langit ketujuh. Mereka semua telah meneteskan airmata darah, dan perlahan airmata tersebut menjadi bah lantas menggenangi istana langit. Inilah murka bagi mereka yang berkuasa atas titah dan amar. Inilah ihwal azab yang akan diturunkan dari langit ketujuh.
Malang nian nasib para pembatil di tanah kerontang ini, Anakku. Sungguh dina diri-diri nan berlumpur nanah dan kotoran, yang keluar dari anus mereka sendiri. Adakah genosida sebagai bentuk pembersihan pendosa-pendosa itu?!
Seratus kalpa tumimbal lahir tak akan mampu membasuh nista tercela. Mereka terus melanglang, dan lahir dari rahim betina ke rahim betina yang lainnya. Kelelahan dan perjalan nan panjang tidak pernah menyadarkan mereka. Lahir, lahir, dan lahir adalah sebentuk rutinitas yang menjemukan. Manusia tidak pernah dapat memutus rantai yang membelenggu mereka. Apakah pertobatan merupakan sebentuk pengampunan bagi para pendosa tersebut?!
Lantas, di manakah sesungguhnya letak nirwana yang telah didengung-dengungkan di dalam sanubari mereka oleh dedewa dan dedewi?! Padahal, dua di antara sepuluh keng menitahkan manusia supaya bijak bertindak. Namun lagi-lagi manusia tak mengindahkan hal tersebut. Diberinya neraka inmoral bagi sesamanya. Kekisruhan tak pelak terelakkan. Manusia telah melanggar aturan.
Oh, Anakku, Bunga Magnolia, Pahlawan Tionggoan, kini engkau tergolek tak berdaya di dalam haribaan pertiwi. Tanah bergetar. Langit meratap dengan gelegar sejuta guntur. Derau angin berdesing-desing. Bangunlah, Anakku. Bangunlah! Di sini yang-liu meliuk-liuk memanggilmu.
Bangunlah, Anakku. Inilah Aku, Avalokitesvara dari langit ketujuh. (blogkatahatiku.blogspot.com)