08 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 60

Oleh Effendy Wongso

Tubuh ringsing itu menegak
bagai roh yang menyampir
pada nyawa-nyawa yang kobong

Kelanalah para dina
karena engkau tak pantas
duduk di Negeri Tengah
yang didiami roh-roh hitam

Bao Ling
Kelana Para Dina

Foto: Dok KATA HATIKU
Ah, gadis itu hanyalah seonggok daging dan tulang-belulang yang ringkih. Ia bukan Hwasan yang kokoh dan gagah perkasa. Setiap saat ia dapat terbunuh di medan laga. Dan hal itu lebih menyakitkan ketimbang alur fiktif khayalannya sendiri. Bahwa ia mendapati dirinya terbantai dalam maharana. Ia takut kehilangan gadis itu lebih dari apapun juga di dunia ini. Ia akan menangisi kematian gadis itu lebih dari seribu malam. Ia akan hancur bersama hilangnya jasad gadis itu menjadi debu. Ia akan merasa kehilangan nyawanya sendiri. Nyawa yang telah manunggal dengan dirinya. Oleh karenanya, ia akan menjadi tameng bagi seorang Fa Mulan. Ia tidak dapat membiarkan gadis yang sangat dipujanya itu menyongsong perang.
Namun dedewa seolah rungu, tak mampu menjelmakan sebuah mana bagi gadisnya yang heroik. Tak ada mukjizat yang diturunkan dari svargakaloka. Dedewa telah menulikan telinganya sendiri. Dedewa telah membutakan matanya sendiri. Mereka tidak mampu lagi meraba segala kebajikan, dan memusnahkan rona kebatilan yang telah meranggas dengan cepat serta melahap semua benih-benih kebaikan di mayapada.
Lantas kini ia seolah meniti lapak ajal yang telah tertoreh untuknya. Detak demi detak pada jantungnya, dan denyut demi denyut pada nadinya, ia hanya menghirup kekobongan hingga kematian itu memaksa jiwanya melayang-layang entah kemana. Inikah sesungguhnya kematian yang virtual?! Kematian yang sejati, yang selama ini hanya memberdirikan raganya saja?!
“Saya tidak pernah takut terhadap kematian. Saya hanya takut terhadap apa yang telah ditimbulkan oleh maharana.”
Sebuah penegasan yang kerap ia dengarkan dari gadis itu kembali berdenyar di telinganya. Sesungguhnya dedewa tidaklah berlaku adil terhadapnya. Bukankah dengan segala kesaktian mereka, gadis itu dapat diberi kekuatan untuk mengatasi kematian yang cuma sedepa itu? Tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka seolah tidak peduli. Bahkan mereka membiarkan sang angkara murka dengan bebas mempermainkan nasib gadisnya.
Gadis itu masih kecil. Namun ia telah menghadapi gergasi masalah. Seribu satu pelik persoalan bangsa telah menghantamnya bagai gada raksasa yang siap meremukkan kepalanya. Inikah keadilan yang diturunkan dari surga untuk Magnolia Tionggoan?!
“Kadang-kadang saya terlalu egois, Kapten Shang. Saya terlalu oportunis, dan melalaikan satu hal, bahwa kita manusia penuh dengan keterbatasan. Saya percaya Anda diutus Dewata untuk mengingatkan saya akan hal itu.”
“Saya tidak sesuci yang kamu katakan tadi, Mulan.”
“Memang tidak sepenuhnya demikian, tapi paling tidak saya dapat memahami konteks kontemplasi, sehingga tidak bertindak gegabah dan sia-sia. Dan satu hal lagi, saya tak akan binasa dengan sia-sia.”
“Mulan….”
“Memang benar, bukan?”
Shang Weng melirik. Didapatinya senyum tulus pada wajah lesi gadisnya. Bukan sekali dua ia begini. Namun telah berkali-kali. Berkali-kali, sehingga ia tidak pernah tahu apa yang tengah dialaminya. Dalam maharana kali ini pun ia tak pernah takut akan kematian. Ia tidak pernah terkalahkan oleh rasa kerdil dan inferior. Ia adalah gergasi patriotik yang sesungguhnya.
Pemberontakan jelata Han dan Mongolia adalah remah dari bentuk ketidakpuasan manusia. Itulah mulakat kesalahan yang tak boleh terulang pada masa-masa yang akan datang. Kehancuran lantaran inferioris adalah bentuk kelalaian yang tidak dapat dimaafkan oleh siapapun. Tak terkecuali para pemimpin bangsa yang mengendalikan segala titah dan amar keputusan. Karena itulah kesewenang-wenangan harus dihentikan. Karena itu pulalah gadis Magnolia bernama Fa Mulan itu terus berjuang dan berjuang tanpa pamrih agar kedamaian menyata di Tionggoan. Namun sungguh perjuangan yang tanpa berbelas. Ia menyuarakan kebajikan dan menampik kebatilan atas nama langit dan cinta yang wangi. Ia memimpin secara tegas tetapi jauh dari tiranisasi. Bukankah, ia merupakan pemimpin yang unggul dan mengungguli segala para pemimpin yang ada di Tionggoan sekalipun ia merupakan kaisar tertinggi?!
Oh, Mahadewa nan Agung!
Dimanakah letak keadilan surga yang telah didengung-dengungkan sejak para leluhur beranak pinak bahkan telah meleluri di kekinian? Tunjukkanlah kesaktian-Mu, tunjukkanlah kuasa-Mu sehingga mereka dan mereka tahu mana kebenaran dan mana kebatilan. Pertumpahan darah telah menyebabkan segalanya menjadi tak ada artinya. Genosida dan pembantaian telah menjadi budaya di mana-mana! Manusia telah menjadi serigala bagi manusia lainnya. Letupan amarah bagai meriam, meletup, meledak, dan melantakkan segala. Itukah angkara dan hukuman, ataukah hanyalah sebentuk ketidakpedulian yang Engkau tunjukkan karena kekhilafan manusia?!
Lalu, apakah gadis Magnolia itu adalah jejelma dedewi yang diturunkan oleh-Nya untuk menghalau segala angkara?! Oh, inilah bentuk ketidaktahuan oleh sesiapa dan sesiapa. Inilah bentuk kebodohan manusia yang telah digariskan secara verbal oleh dirinya sendiri. Inilah bentuk ketololan manusia yang telah ditakdirkan olehnya sendiri sehingga ia menjadi keledai yang selalu dan selalu jatuh ke dalam lubang yang sama.
Ya, manusia adalah keledai. Keledai yang setiap sebentar dapat menjelma menjadi serigala dan memangsa sesiapa yang merupakan kaumnya sendiri. Bukankah demikian merupakan tindak ketololan yang jauh melebihi ketololan yang ada di muka bumi ini?!
Dan ini adalah ketololan Tionggoan! (blogkatahatiku.blogspot.com)