08 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 59

Oleh Effendy Wongso

Gusar Yakha Alavakha
adalah ranggas kelabu
pada prominade babur

Bao Ling
Epik Kelabu

Foto: Dok KATA HATIKU
Hari sudah beranjak petang. Lembayung yang yang memayungi sisi barat langit sudah menggelap serupa gergasi bisu, yang diam dan memisteri. Ia menangkup segala fana ketika Fa Mulan baru saja menghabiskan semangkuk bubur jagungnya dengan lahap. Dan seketika pula itu Shang Weng menguak tirai tendanya.
“Jangan terlalu memaksakan diri bekerja keras, Mulan,” selantun kalimat selembut bayu terdengar seiring terkuaknya tirai tendanya. Shang Weng menjenguknya.
Fa Mulan mengangkat wajahnya dari manuskrip strategi yang tengah disusunnya. Ia menghela napas pendek sebelum mengembangkan senyumnya yang samar sebagai awal balasan. Belum dijawabinya kalimat subtil dari kekasihnya tersebut.
“Istirahatlah, Mulan.”
Fa Mulan menghela napas panjang. “Masih banyak tugas yang harus saya kerjakan.”
Senada dengan gadisnya, Shang Weng pun melakukan hal yang sama. Sungguh, ia cemas dengan apa yang tengah berkecamuk dalam benak Fa Mulan. “Saya tahu. Tapi, jangan sampai tugas-tugas tersebut merusak kesehatanmu.”
Fa Mulan menampik santun. “Saya bisa jaga diri, Kapten Shang.”
“Tapi….”
Helaan napas panjangnya kembali terdengar desis. Sungguh, kali ini ia resah dan nyaris kehilangan semangat. Pertempuran demi pertempuran telah menguras tenaga dan pikirannya. Namun hal tersebut tidaklah sebanding dengan apa yang tengah dicemaskannya. Fa Mulan adalah hal terpenting dalam hidupnya. Gadisnya itu melebihi segalanya. Melebihi segala-galanya bahkan melebihi rasa kasih dan cintanya terhadap kedua orangtuanya. Begitu pula terhadap kekasih masa lalunya yang pahit, Shiaw Ing.
Dan kini tidak ada sepatah kata pun yang dapat pemuda itu letupkan untuk meluyakkan hati gadisnya. Pertempuran heroistiknya di Tung Shao memang telah membuktikan kalau gadis itu seteguh karang. Ia adalah Hwasan, kokoh nan indah. Betapa mulianya penciptaan dedewa atas segala karunia ini. Betapa sucinya platonistis yang ia pancarkan dari diri seorang Fa Mulan. Sungguh, ia kerdil di antara semua itu.
Dan ketika Mongol menyerbu Tionggoan, hal itu hanyalah siklus dari pencakra, berputar seolah gasing di antara majas dan ambisi para petuan dan pepuan. Tetapi muskil benar adanya jika hal tersebut ditujukan baginya. Yah, mungkin. Sebab siklus batil adalah resital yang mesti dihentikan. Manusia membutuhkan kebajikan yang senatur dengan alam. Denting pedang dan tombak adalah nada rekwin yang setiap saat mengembuskan virulen, hawa kematian yang menyengat sengat. Lalu manusia akan mati karenanya!
Lalu, seperti apakah patriotisme itu?!
Metode pengorbanan ataukah pola pada sebentuk pengabdian tanpa pamrih? Sungguh, semuanya babur. Kecongkakan dan kesombongan manusia adalah mayor, dan jauh melampaui batas nalarisasi tentang kebatilan. Para rani hanya seonggok daging yang terus mengelana dan mengembara di berbagai belahan fana. Kehadirannya tak lebih berarti dari metamorfosis, keindahan yang mengejawantah dari kepompong menjadi kupu-kupu.
Andai epik kepahlawanan itu tak pernah terjelma dalam bentuk pengorbanan yang platonis. Andai gadis itu tak pernah ada. Andai seorang Fa Mulan tak terlahir. Lantas, di manakah sesungguhnya harmonisasi yang membirama dari dawai hari para rani demi perdamaian dunia? Sungguh, ia tidak pernah tahu.
Ya, ia tak pernah tahu.
Lalu, kupu-kupu tersebut membentangkan sayapnya. Ia terbang seirama angin. Ia terbang seiring denting indah sang hati. Di mana saif telah menjadikan mereka pengabdi. Di mana syair menjadikan mereka lagu sendu yang menggelimun di antara tubir dan cadas. Mereka terluka. Mereka tercabik. Mereka juga mati karenanya. Namun, kecintaan yang bermuasal dari dawai-dawai hati tersebut telah menjelma menjadi seonggok jiwa yang putih. Mereka akan bersinar secerlang gemintang di langit. Jiwa-jiwa mereka akan terus hidup, mengembara, dan jauh melampaui segala zaman. Ia menembusi tabir pebatil, memboyak kebusukan dari pendosa yang hidup tanpa nurani. Mereka akan mengejawantah dalam segala bentuk kebajikan. Dan mereka akhirnya merasuk dalam raga yang dilahirkan oleh rahim manusia.
Dan ketika ia dilahirkan, ia akan tersisih dari pekasih. Ia adalah Magnolia dengan selaksa kekurangan. Ia adalah Magnolia yang tumbuh di antara lalang dan gulma. Ia adalah Magnolia yang tersisih. Namun keindahannya yang tiada tara telah mengembangkan secercah asa dalam kekalutan yang luar biasa. Ia adalah predestinasi yang diturunkan dedewa dari langit. Sesungguhnya ia adalah manusia biasa yang terbuang. Sesungguhnya ia adalah gadis biasa  dengan segala kekurangannya.
Gadis itu adalah jejelma dedewi yang hidup di antara tabir-tabir awan. Yang bernapas lewat sepasang mata di balik dada putih mereka. Yang setiap hari menari diiringi sitar dan harpa berdawai emas. Itulah keindahan nirwana yang tak terbanding apa pun. Itulah kemegahan istana surga yang tak sedikit pun pernah digelimuni oleh kelam gemawan. Namun karena kemaruk manusia, maka mereka bersedih dengan meneteskan airmata sebanyak air telaga. Bahkan jauh ketimbang itu. Bahwa airmata tersebut perlahan telah membanjir dan menjadi Sungai Kuning tak lama kemudian.
Lalu apakah arti lektur indah di antara niraksara?
Itulah maras dedewa atas marcapada yang mendosa. Seperti tahu apa lacur yang akan menimpa tanah yang hangat tersebut, sertamerta mereka turun dari rengga gegajah, berdiri dan mengaum tidak seperti biasanya. Lantas dengan lantangnya mereka berteriak, bahkan beberapa di antara dedewa memaki segala sepah yang telah dimuntahkan manusia lewat mulut bacar mereka. Ulah yang tak pernah dimafhumi sebagai bagian dari hikayah, kebajikan yang diturunkan dari surga.
Namun dari pembatil terus saja berulah dengan kejahatan-kejahatan. Mereka saling menjazam. Mereka saling membunuh. Mereka saling membakar. Semuanya gosong dan kobong. Sehingga atmosfer hanyalah making di antara mayat-mayat yang bergelimpangan serta berbelatung.
“Tionggoan sudah bagai telur di ujung tanduk, Kapten Shang….”
“Sudah menjadi tanggung-jawab kita sebagai abdi negara untuk memikirkan pembelaan dan penyelamatan bangsa kita, Mulan. Tapi, bukan berarti kamu sampai mengenyahkan kesehatan dan keselamatan kamu sendiri.”
“Tak ada waktu lagi. Tionggoan sudah di ambang kehancuran. Mongolia sudah masuk semakin jauh ke dalam daerah kita.”
“Mengandalkan kekuatan diri sendiri seperti apa yang tengah kamu lakukan sekarang merupakan kesia-siaan, Mulan. Mustahil melawan Mongolia hanya….”
“Jangan melemahkan semangat hanya dengan melihat kekuatan besar musuh, Kapten Shang. Itulah salah satu kelemahan yang tak kasatmata. Ingat, kekuatan itu tidak dapat ditakar dengan melihat banyaknya jumlah pasukan dan lain sebagainya. Pertempuran di Tung Shao adalah contoh bagaimana kelemahan itu dapat menjelma menjadi kekuatan. Jadi, saya tidak pesimistis dalam hal ini. Seberapa hebat pun kekuatan musuh kita.”
“Benar, benar. Tapi, armada berkuda Mongol sangat jauh dari praduga para pakar strategi militer kita. Apakah bukan berarti….”
“Kemenangan dan kekalahan itu hanya setipis bilah rambut. Semuanya memiliki kemungkinan yang sama. Bagai cakra pedati, yang setiap sebentar di bawah dan setiap sebentar di atas.”
“Mungkinkah kekalahan kita ini atas kelalaian para atase jenderal di Ibukota Da-du, Mulan?”
“Maaf, saya tidak dapat menebak duga kalau merangseknya pasukan Mongol sampai jauh ke dalam negara kita akibat kesalahan maupun kelalaian segelintir petanggung-jawab.”
“Kenapa?!”
“Asumsinya beragam.”
“Maksudmu….”
“Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan tidak menguntungkan begini bagi kita, Kapten Shang.”
“Apa misalnya?”
“Kalau menilik penyebab kealpaan kita menakar seberapa besar kekuatan terselubung musuh sehingga mereka dapat menguasai daerah perbatasan kita hanya dalam bilangan hari, barangkali hal tersebut disebabkan karena jumawitas kemenangan kita atas pemberontak Han.”
“Jumawitas?”
“Ya. Pandang enteng, mengangap remeh, dan lain sebagainya. Maka, sahihlah hal itu dapat dibenarkan sebagai biang kekalahan kita. Kebanyakan dari kita tidak pernah belajar dari pengalaman. Manusia selalu terjatuh ke dalam lubang yang sama. Namun lepas dari semua itu, pertempuran adalah taktis lapangan. Semuanya dapat saja terjadi. Si Kuat dapat saja menjadi lemah karena sesuatu hal. Begitu pula sebaliknya. Prediksi tidak dapat ditebak semudah membalik telapak tangan.”
“Apakah dengan demikian berarti kita sudah habis?”
“Manusia akan habis bila sudah tak bernyawa. Selagi masih bernapas, tidak ada kata kalah atau habis bagi manusia. Jadi, sesungguhnya kita sama sekali belum habis atau kalah. Kita hanya terdesak, kritis, dan….”
“Ta-tapi….”
“Ah, hidup ini memang berat, Kapten Shang. Manusia telah menambah sulit kehidupan mereka sendiri. Perang yang membahang merupakan ulah manusia sendiri. Perang buatan manusia telah menyengsarakan manusia sendiri. Jadi, apa yang telah kita lakukan itu merupkan kebatilan bagi peradaban. Ah, entahlah kapan semuanya dapat berakhir.”
Perwira belia itu diam menyimak. Apakah jejelma dedewi telah diturunkan dari langit tetapi ia tergolek tak berdaya karena maharana telah menghancurkan segalanya?!
Sejenak ia menggeleng. Wajahnya yang keras dan persegi tampak lesi. Sungguh, ia tak paham atas apa yang terjadi dengan Tionggoan. Makna yang dicerapinya hanya setipis ari. Apakakah gada kebatilan telah menghancurkan segala kebajikan di dunia ini?! (blogkatahatiku.blogspot.com)